16/09/2024
Cerpen Emak Salsa
Senin, 16 Sept 2024
Selalu Dinanti
Hiruk pikuk kegiatan di kota membuat ku tak berkutit untuk sejenak menyapa sanak saudara. Hampir satu tahun, aku tidak pulang ke desa tempat ayah mertua berasal. Suasana sejuk di sana menjadi kan aku selalu rindu untuk pulang. Ya, aku adalah pendatang dalam keluarga ini. Tapi sambutan hangat mereka menyiratkan rasa memiliki yang sangat berarti buatku. Rasa nyaman…sejuk… dan kasih sayang begitu kental merasuk dalam hati terdalam.
Ketika teman berucap padaku, “Mbak kata pak bos Sabtu, Minggu, dan Senin libur”.
“Mosok si pak? Ada apa kok libur?” Jawabku penasaran dan sedikit girang (senyum-senyum kegirangan tak percaya)
“Iya mbak…pak bos tadi bilang gitu”. Jelasnya memperkuat.
“Ok… nanti aku tanyakan ya pak,” tuturku.
“Apa mau pulang kampung?” Tanyaku.
“Iya mbak… rindu anak istri,” sahutnya sambil tersenyum.
“Ok… aku juga mau mudik, rindu saudara juga. Lama rasanya gak kesana,” jelasku.
Tidak lama, pak bos datang bersama driver. Duduk di depan ku sembari memainkan hp nya dan berkata padaku.
“Mbak, besok Minggu dan senin libur,” ucapnya tanpa melihatku.
“Owh…iya to pak? Ada acara apa pak?” tanyaku penasaran.
“Libur tanggal merah mbak… masak gak tau mbak?” Jawabnya sambil tersenyum.
“lo… tanggal merah pak? Saya gak tau pak…” ucapku sambil tertawa.
“Piye to mbak… ada kalender di depanmu kok sampai g tau”, jawabnya meledek.
“Saking fokusnya sama kerjaan dan kertas-kertas, jadi gak tau ya?” tambahnya.
“Siap..libur panjang… besok saya pulang jam satu siang ya pak,” sahutku penuh gembira.
Hari Sabtu telah tiba, putri cantikku dan ayah sudah siap untuk melaju tinggal menungguku beberes dan siap sedia untuk meluncur. Tepat jam lima sore, kita star dari rumah. Saking girangnya mau berangkat, konyolnya aku lupa pakai helm. Untung saja belum jauh dari rumah.
Perjalanan kali ini tepat pada malam Minggu dan long weekend, jadi semua penjuru jalan ramai dan padat dengan rentetan kendaraan roda dua, roda 4, bahkan truk. Dalam perjalanan, rasa hati ini gembira sekali menikmati perjalanan. Bahkan tak terasa jauh, tak terasa lelah dan tak terasa lama.
Masuk daerah Bandungan, udara mulai menggelitik dengan dinginnya. Semakin tinggi jalannya semakin dingin, dan udara pun semakin banyak berhembus. Masya Allah…sungguh kenikmatan tiada Tara udara malam ini. Seperti seseorang yang lama tidak keluar dari rumah. Sampai pada alun-alun Bandungan, kita berhenti sejenak melepas dahaga dan sedikit menghangatkan badan dengan semangkok bakwan Kawi.
Saat ku buka handphone, beberapa pesan berjajar rapi. Aku pun membuka wa dari dua saudari cantikku di Magelang.
Dia bertanya, “sudah sampai mana? Kok belum sampai”.
“Baru sampai Bandungan, jalan sangat padat dan macet. Tunggu yaaa cantik”, jawabku menenangkannya.
“Ok, hati-hati yaaa mbak”, jawabnya.
“Siap cantik…”, jawabku singkat.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Melaju begitu kencang, menyelinap kepadatan mobil dan truk yang berjajar rapi. Udara semakin mencekram kencang menembus jaket yang aku kenakan. Dua jam berlalu, kami sampai di rumah Mbah Mang, adik perempuan ayah mertua. Disinilah tempat singgah saat kita pulang ke Magelang.
Mereka sudah berkumpul untuk menyambut kedatangan kami. Senyum rindu penuh keceriaan dari ku dan pelukan hangat mereka sungguh membuatku melayang. Kita duduk bersama menghabiskan malam sembari bercerita hal-hal lucu yang terjadi beberapa waktu yang sudah lewat. Kita pun berbaur dalam tawa yang begitu lepas tanpa beban.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 24.00 WIB. Kita akhiri perbincangan malam ini, dan bersiap untuk istirahat malam. Pagi menyapa dengan sapaan udara dingin yang menembus dari balik jendela. Ku buka jam pada ponselku. Ternyata sudah pukul 05.00, dan aku pun bergegas keluar menghirup segarnya udara pagi di sana.
Sungguh udara dingin mencekram begitu erat, untukku ini menyenangkan. Mereka sudah sibuk dg aktifitas pagi, menyiapkan dagangan pagi itu “bubur sayur dan aneka gorengan”. Setelah semuanya siap, kita berbincang bersama di teras depan rumah sambil sarapan bubur bersama ditemani teh panas dan gorengan panas. Berbaur menjadi satu dalam hangat dan candaan ringan.