Bisnis Penghijauan GREEN Warrior

Bisnis Penghijauan GREEN Warrior Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Bisnis Penghijauan GREEN Warrior, Business service, Jalan JEND. A. YANI NO. 6 A PISANG MAS SERANG, Serang.

10/10/2016
Info ttg jabon di tahun 2010Menurut Dr Ir Sri Rahayu MP, ahli Patologi Hutan Universitas Gadjah Mada, para pekebun membu...
10/10/2016

Info ttg jabon di tahun 2010
Menurut Dr Ir Sri Rahayu MP, ahli Patologi Hutan Universitas Gadjah Mada, para pekebun membudidayakan jabon, ketika sengon terserang karat tumor. Penyakit akibat cendawan Uromycladium tepperianum meluluhlantakkan sengon di berbagai sentra. Di Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, Temanggung, dan Wonosobo – semua di Provinsi Jawa Tengah – tercatat luas serangan 9.604 ha atau sepertiga dari total luas tanam. ‘Sengon tak bisa dipaksakan untuk ditanam terus dalam kondisi penyebaran penyakit karat tumor seperti sekarang,’ kata Sri Rahayu.
Persis yang dialami Ardha Primatopan yang mengebunkan sengon di lahan 17 ha pada 2008. Pekebun di Kendal, Jawa Tengah, itu sudah mendengar karat tumor di Temanggung. Namun, ia menduga penyakit itu tak akan ‘mampir’ di kebunnya. Enam bulan pascatanam, cendawan itu mengamuk dan menghancurkan bibit sengon. Itulah yang menyebabkan ia beralih menanam jabon. Bahkan ia bukan hanya menanam jabon di lahan 17 ha, tetapi juga membuka kemitraan. menjalin kemitraan dengan pekebun di lahan 150 ha
Karat tumor pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1996 atau 125 tahun sejak penanaman sengon pertama kali di Kebun Raya Bogor pada 1871. Sengon berasal dari Pulau Seram, Provinsi Maluku. Menurut Dr Ir Eko Bhakti Hardiyanto, dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, serangan hama atau penyakit secara besar-besaran tergantung spesies organisme pengganggu tanaman dan spesies pohon.
Saat ini siapa pun sulit memprediksi kemungkinan terjadinya ledakan penyakit pada jabon. Eko mengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi ledakan penyakit adalah mobilisasi organisme penyebab penyakit, jarak antarlahan jabon, agroklimat, dan lingkungan. Sementara itu Dra Ila Anggraini, peneliti hama dan penyakit dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Bogor, mengatakan saat ini jabon relatif tahan organisme pengganggu. Jika terdapat serangan pun masih sporadis. Menurut Sri Rahayu kemungkinan penyakit karat tumor pada sengon tidak menyerang jabon karena spesies keduanya berbeda.
Tiga kali panen
Pertumbuhan tanaman yang cepat menjadi daya tarik bagi pekebun. Menurut Dr Ir Irdika Mansur MForSc, dosen di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, riap tumbuh jabon 7 – 10 cm per tahun (lihat infografis). Keistimewaan lain, ‘Jabon itu tanam satu kali bisa 2 – 3 kali panen. Jabon setelah ditebang akan bertunas kembali. Tunas tumbuh sangat cepat dan kalau dibiarkan akan jadi pohon yang siap tebang dalam waktu yang lebih pendek karena akar induk yang ditebang sudah luas dan dalam dibanding tanaman baru dari bibit,’ ujar Irdika.
Irdika yang juga peneliti Seameo Biotrop (Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology) pernah memanen sebuah pohon jabon. Ketika tunggul atau bekas tebangan itu dibiarkan, kemudian tumbuh menjadi pohon baru. Namun, ia belum menyaksikan tanaman ‘generasi kedua’ itu panen.
Selain itu pohon anggota famili kopi-kopian itu juga multiguna antara lain sebagai bahan baku kayulapis, papan blok, korek api, dan mainan. Menurut Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera, produsen kayu di Tangerang, Provinsi Banten, tekstur jabon yang halus, arah serat lurus, dan berwarna merah sehingga terkesan mahal. ‘Dulu jabon tak dilirik karena jenis-jenis kayu seperti meranti masih tersedia banyak. Sekarang (meranti) sudah habis. Agar bisa bertahan, industri menyesuaikan teknologi dengan menggunakan mesin yang bisa mengolah jenis kayu apa pun,’ kata Dr Ir Bambang Sukmananto, direktur Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan, Kementerian Kehutanan.
Bambang mengatakan kayu lapis jabon tak kalah berkualitas dibanding kayu-kayu lain. Dengan kelebihan itu, jabon dapat berfungsi sebagai face (bagian kayu lapis yang di depan) atau back (belakang) dalam industri kayulapis dan papan blok. Sementara itu industri kayu memanfaatkan sengon hanya sebagai core (bagian tengah). Menurut Prof Dr Ir Surdiding Efendi dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, jabon mempunyai prospek untuk dikembangkan di hutan tanaman industri, karena kayunya cocok untuk berbagai penggunaan, khususnya sebagai bahan baku vinir dan kayulapis.
Terbatas
Selain itu kayu jabon mudah dibuat vinir tanpa perlakuan pendahuluan dengan sudut kupas 92 derajat untuk tebal vinir 1,5 mm. Dengan seabrek keistimewaan itu pantas jika banyak industri kayu berharap pada jabon. Perusahaan yang mengolah kayu jabon antara lain PT Serayu Makmur Kayuindo (SMK) yang mengelola total 3 pabrik, masing-masing sebuah pabrik di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Banjarnegara (Jawa Tengah), dan Cirebon (Jawa Barat). Menurut Priyono dari SMK, dari ketiga pabrik baru di Lumajang yang sudah mengolah jabon.
Sebab, pasokan kayu jabon memang terbatas dan baru ada di daerah Lumajang. Priyono mengatakan bahwa Sumber Makmur Kayuindo di Lumajang memerlukan 99 m3 kayu jabon per hari. Namun, akibat terbatasnya pasokan baru terpenuhi 9 m3 per hari. Jika pasokan memadai, kebutuhan kayu kerabat kopi itu makin meningkat. Sebagai gambaran kebutuhan pabrik di Desa Rawaurip, Kecamatan Kanci, Kabupaten Cirebon, juga mencapai 99 m3 per hari. Industri lain yang memerlukan jabon adalah PT Kutai Timber Indonesia.
Perusahaan itu sejak 2006 menjalin kemitraan dengan pekebun di Kecamatan Krucil dan Tritis, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Hingga kini perusahaan itu menanam setidaknya 1-juta pohon yang akan panen pada 2 – 3 tahun mendatang. Menurut Agus Setiawan SHut dari PT Kutai Timber Indonesia (KTI), pasokan jabon masih sangat terbatas, 2 – 10 m3 per sekali kirim. KTI membeli kayu berdiameter 30 cm Rp1-juta per m3. Itu harga beli di lokasi pabrik yang lebih tinggi ketimbang harga sengon.
Dengan diameter sama, perusahaan berumur 36 tahun itu membeli sengon Rp700.000/ m3. KTI mengolah kayu jabon itu sebagai kayu lapis dan papan blok yang diminati Jepang. Negeri Matahari Terbit itu rawan gempa sehingga memilih bahan papan yang ringan seperti jabon. Setiap bulan KTI memerlukan 45.000 m3 kayu. ‘Kami siap menampung berapa pun pasokan jabon,’ kata Capt M Sain Latief dari PT Kutai Timber Indonesia.
PT Sekawan Sumber Sejahtera, industri di Temanggung, Jawa Tengah, yang kini bermitra dengan para pekebun juga mengharap pasokan jabon secara rutin. Jika saat ini ada pasokan jabon, PT Sekawan Sumber Sejahtera siap menerima. Krishna Pryana dari PT Sekawan Sumber Sejahtera menetapkan harga beli di lokasi pabrik Rp540.000 – Rp1,1-juta per m3 tergantung diameter dan panjang kayu. Sebagai gambaran harga kayu berdiameter 20 – 24 cm dan sepanjang 130 cm mencapai Rp740.000; diameter minimal 50 cm dan sepanjang 260 cm, Rp1,1-juta per m3.
Menurut Krishna, perusahaannya lebih memilih kayu jabon berdiameter 25 – 29 cm (harga di pabrik Rp820.000 per m3) dan diameter 30 – 39 (Rp920.000 per m3) dan sepanjang 260 cm. Kebutuhan kayu PT Sekawan Sumber Sejahtera mencapai 6.000 m3 per bulan. Kebutuhan itu setara 30 ha jika populasi mencapai 400 pohon per ha (setelah penjarangan) dan dipanen pada umur 6 tahun. Itu jika volume produksi hanya 0,5 m3 per pohon.
Serapan pasar
Dua tahun terakhir masyarakat bergairah mengebunkan jabon. Sayang, tak tersedia data luas tanam jabon per tahun sehingga sulit memprediksi volume panen. Luas penanaman dari yang berskala kecil hingga sangat luas. Kingkin Suroso SE, Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Puspomal), menanam 2.000 jabon di areal kantor Puspomal, Jakarta Utara seluas 5 ha. Aat Aminuddin dan pekebun lain di Cisokan, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menanam jabon seluas 272 ha. Populasi per ha mencapai 1.000 bibit yang kini berumur 6 bulan. Di berbagai daerah, antusiasme menanam jabon juga tampak.
Artinya 5 – 6 tahun ke depan, mereka mulai panen. Pasar sanggup menampung produksi mereka? ‘Kurang malah. Kayu itu tak dapat tergantikan dengan plastik atau besi sekali pun. Kebutuhan manusia akan kayu terus meningkat,’ kata Krishna Pryana. Agus Setiawan dari PT Kutai Timber Indonesia juga sepakat, pasar sanggup menyerap jabon. Ia menggambarkan ketika pekebun ramai membudidayakan sengon, harganya justru terus meningkat. Jika 10 tahun lalu harga sengon Rp100.000, kini melonjak menjadi Rp700.000 per m3.
Dr Irdika Mansur MForSc, ahli silvikultur, mengatakan harga kayu memang cenderung naik karena kelangkaan, jarak, dan inflasi. Kayu cenderung langka sehingga harganya pun kian meningkat. Itulah sebabnya, untuk menyiasatinya Sukandar mengatakan bahwa industrilah yang kini menyesuaikan mesin dengan ketersediaan kayu. Dulu sebaliknya, kayu harus menyesuaikan dengan mesin. Namun, menurut Sukandar untuk mengolah jabon, industri tak perlu mengganti mesin yang selama ini dimanfaatkan untuk mengolah sengon.
Dengan demikian, ‘Menanam jabon tak ada ruginya. Jika dana pembelian 1.000 bibit untuk lahan sehektar Rp3,5-juta kita taruh di bank, 5 tahun lagi menjadi berapa? Bandingkan jika menanam jabon, dengan harga jual minimal Rp100.000 per pohon, petani memperoleh Rp100-juta,’ kata Irdika. Harga Rp100.000 per pohon itu berdasar pengalaman Irdika yang menebang sebuah pohon berumur 3 tahun. Pengepul membeli pohon muda itu Rp100.000. ‘Tak ada kata rugi, yang ada keuntungan berkurang,’ kata Irdika yang kini getol mengkampanyekan penanaman jabon. Menanam jabon sekarang, laba segar masa depan. (Sardi Duryatmo/Peliput: Argohartono, Faiz Yajri, Nesia Artdiyasa, & Tri Susanti)

Address

Jalan JEND. A. YANI NO. 6 A PISANG MAS SERANG
Serang
42117

Telephone

083813721647

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bisnis Penghijauan GREEN Warrior posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share