Klik Rollen

Klik Rollen Klik Rollen menjual aneka kue kering, jilbab, pakaian anak-anak dan wall sticker Barang-barang yang disediakan:
1. Pakaian anak-anak
2. Wall sticker
3.

Klik Rollen yang beralamat di Sidoarjo merupakan Toko Grosir yang menyediakan dan menjual berbagai macam keperluan sehari-hari. Kue kering
4. Jilbab

Info yang dapat dihubungi:
PIN BB : 744 DA3 B8
No HP : 0812 1689 7863 / 0857 5036 3578

Pemesanan dapat dilakukan setiap hari.

02/12/2013

Tentang Interpretasi Aqidah Ahlusunnah

Oleh Singgih Pandu Wicaksono

Aqidah Ahlusunnah memandang bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Zat Maha Tinggi, Maha Suci, dan Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Ia Maha Tunggal, tiada yang menyerupaiNya. Ia Maha Kuat, tiada lawan bagiNya, pemilik tunggal yang tiada bandingan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah zat yang qadim, azali (tidak berpermulaan), Maha Abadi yang tidak berujung, Maha Kekal yang tiada berakhir dan Maha Hidup.

Sifat Maha Agung yang tiada cacat dan kekurangan senantiasa melekat pada diriNya selamanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah binasa binasa dan tiada ajal bagiNya. Dialah Zat Yang Maha Awal, Maha Akhir. Maha Zahir.

28/11/2013

Tulisan saya tidak begitu bagus dan jauh dari manfaat. Hampir tulisan yang telah saya terbitkan di halaman facebook ini, merupakan ide original saya dan beberapa penulis yang saya anggap terjaga keilmuwannya.

Bukannya saya mengkultuskan penulis, namun saya hanya melakukan pemilihan dan penyaringan tulisan-tulisan yang bagi saya bermanfaat pribadi.

Saya tidak membutuhkan klik-s**a dari pengunjung. Silahkan yang ingin mengomentari tulisan saya karena halaman ini saya buat untuk dikomentari.

Pergi Tanpa PamitanOleh: Singgih Pandu WicaksonoHari ini aku berusaha menuliskan kisah kita berdua. Aku masih ingat pert...
28/11/2013

Pergi Tanpa Pamitan

Oleh: Singgih Pandu Wicaksono

Hari ini aku berusaha menuliskan kisah kita berdua. Aku masih ingat pertama kali kita bertemu. Engkau bersembunyi malu di antara teman-temanmu karena ada seorang pemuda yang belum engkau kenal menghampirimu. Aku pun tak tahu mengapa berani menghampirimu padahal kita berdua belum saling mengenal. Mungkin aku menganggap engkau berbeda jauh dari teman-temanmu, tapi sampai saat ini aku pun tak mengerti mengapa memilihmu? Sekali-kali mataku melirik ke arahmu. Tak tahu, apakah dirimu juga melirikku.

Ketika aku melihatmu, engkau membalasnya, tiba-tiba wajahku kupalingkan. Detak jantungku secara spontan cepat tanpa ku perintah. Sempat tak mengerti apa yang sedang aku alami saat itu, namun itulah kenyataannya.

Singkat cerita, aku memberanikan diri untuk mengatakan kepada orang yang memilikimu, bahwa aku tertarik padamu dan ingin menghalalkan dirimu untukku dan akhirnya akad pun dilaksanakan sehingga engkau sah seutuhnya menjadi milikku.

Setiap waktu engkaulah yang menemaniku di saat bepergian. Engkaulah yang melindungiku dari dinginnya udara malam dan panasnya udara siang.

Kita seringkali beraksi bersama dalam perjalanan panjang hidupku. Berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain, namun engkau tidak pernah mengeluh dan tetap menemaniku selalu.

Hati ini terasa tak percaya ketika engkau tiba-tiba menghilang dan aku tak mampu menemukanmu lagi. Di dalam hati aku berbicara, “Mengapa engkau tinggalkan aku begitu saja?” Namun apa daya, engkau meninggalkanku tanpa sepatah kata pun terucap.

Waktu terus berputar, namun aku terus memikirkanmu dan menunggu agar engkau ada sambil otakku berpikir dan berusaha mengingat di mana keberadaan dirimu terakhir kalinya? Dan akhirnya aku menemukan jawabannya, bahwa sebenarnya akulah yang bersalah padamu, karena akulah yang meninggalkanmu.

Aku berharap engkau akan bahagia bersama yang lain. Aku akan mengingat pengabdianmu padaku selalu.
Mohon maaf karena telah meninggalkanmu.

Indahnya Warna Negeri Ujung BaratOleh: Singgih Pandu WicaksonoTet.. tet..teeeettt... terdengar tiga kali bunyi bel di ru...
28/11/2013

Indahnya Warna Negeri Ujung Barat

Oleh: Singgih Pandu Wicaksono

Tet.. tet..teeeettt... terdengar tiga kali bunyi bel di ruangan 212. Menandakan ujian hari itu telah selesai diadakan. Semua mahasiswa bergembira karena selesai p**a pertarungan di kursi dan meja ujian.

Ruangan yang hening beberapa menit lalu, tiba-tiba berubah menjadi sebuah pasar. Beberapa mahasiswa saling menyapa dan bertanya tentang kesulitan soal-soal yang dihadapi. Kertas-kertas soal dan lembar jawaban segera dikumpulkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang berada di ruang ujian. Petugas ujian membenahi satu-persatu dan meneliti jumlah kertas soal dan lembar jawaban ujian.

Perkenalkan, namaku Sudirman, tetapi banyak teman-teman yang memanggil dengan nama Dirman, atau kadang Dir, Sudir, dan Man.

“Dir... Dirman! Tunggu bentar”. Dari arah belakang ada yang memanggil diriku. Ternyata Narto. “Ya, ada apa?” jawabku.
“Liburan semester, kamu p**ang kampung?”
“Insya Allah tidak, p**angnya saat liburan hari raya saja, bisa lebih lama”. Sambil aku tersenyum dan tertawa kecil, “Kenapa memangnya, To?” tanyaku kembali.
“Bukan apa-apa, hanya tanya saja. Soalnya banyak teman-teman yang akan p**ang kampung”
“Memangnya, kamu mau ikut p**ang kampung?” kami tertawa bersama “Hahaha”
“Aku p**ang kampung sudah setiap hari, jadi bosan p**ang kampung terus.”
“Ya, iyalah, karena kamu asli jogja jadi tidak ada gunanya p**ang kampung” sambil aku memeletkan lidah. “Bagaimana kalau kita buat acara saja?” ajakku.
“Boleh-boleh, setuju. Mau buat acara apa?”
“Makan-makan, jalan-jalan. Banyak sich. Terserah kamu juga”.
“Bagaimana kalau kedua-duanya?”
“Ok, setuju, nanti kita pikirkan mau jalan-jalan kemana dan makan-makannya juga. Sekarang aku p**ang ke kos dulu. Nanti saling kontak-kontakkan saja, sips?” sambil jempol diacungi.
“Sips” jempolnya pun membalas acunganku.

--------------------------------------Putus---------------------------------

Ting tong, terdengar suara bunyi suara sms dari handphoneku. Ternyata kiriman sms dari Narto. “Bro, jadi liburan kemana nich?”
“Saya belum tahu, kemarin cari-cari info di internet, belum ketemu. Kamu sudah ketemu?”
“Belum ketemu juga, ya udah, kita cari lagi dan tanya-tanya teman yang lain, mungkin mereka tahu tempat yang cocok untuk liburan kali ini”.
“Sips, setuju. Saling info ya?”
“OK. Bro”. Penutup sms.

--------------------------------------Putus---------------------------------

Pagi menjelang, udara dingin menerjang dengan sepoi-sepoi. Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menyegerakan menuju mesjid untuk menunaikan sholat jama’ah subuh yang berada tidak jauh dari kosku. Langkah kaki yang tegas, cepat tapi tidak terlalu cepat, lambat tapi tidak terlalu lambat, namun seperti orang yang sedang berjalan di daerah menurun.

“Alhamdulillaah, iqomah shalat subuh belum diperdengungkan. Masih ada kesempatan untuk aku melaksanakan dua rakaat sholat sunah tahiyatul masjid”. Pikirku. Selang beberapa menit selesai aku melaksanakan sholat sunnah. Petugas iqomah pun berjalan menuju mimbar dan menyiapkan sajadah imam serta menyuarakan iqomah. Para jamaah pun bergegas saling merapatkan tumit kaki dan meluruskan shaf untuk memperoleh kesempurnaan sholat.

Selesai sholat berjamaah, seperti biasa aku tidak langsung beranjak p**ang ke kos, namun tetap berada di mesjid untuk berdzikir hingga menunggu waktu fajar menyingsing dan saat itulah aku mendirikan sholat fajar dua rakaat. Barulah setelah itu, aku meninggalkan masjid dan ternyata telah disambut dengan sinar mentari yang menghangatkan tubuhku.

Sapaan dan salam serta penuh senyuman hangat ketulusan yang aku temui dari beberapa tetangga yang berpapasan selama perjalanan menuju kos. Aku berhenti sejenak di warung bubur milik Mas Karyo yang tidak jauh dari kosku. Dia berjualan dari pukul 05.30 hingga habis ludes seluruh dandang yang berisikan bubur. Saat aku sampai di warungnya, ternyata para pembeli sudah mengantri panjang. Tempat duduk yang disediakan pun telah penuh diduduki para pembeli. Terpaksalah aku menunggu sambil berdiri.

“Assalamu’alaikum, Mas Kar!” panggilan akrabku. “Pesan satu porsi plus teh hangat”
“Wa’alaikumusalam, Siap bos, tunggu sebentar ya!”. sambil tersenyum dengan gigi ginsulnya yang menawan.

Tak berapa lama, pesananku pun tiba. Pertama kali aku ambil teh hangatnya dan diseruput pelan-pelan hingga terdengar dengan jelas dan menambah rasa nikmat yang kuminum. Buburnya aku aduk dengan pelan bersama kerupuk yang telah diremas dan daun bawang serta kacang tanah hingga merata. Bubur buatan Mas Karyo memang tidak berbeda dengan bubur yang dijual di tempat lain, namun ada perasaan nyaman dan nikmat yang disuguhkan oleh Mas Karyo, yaitu cepat dan ramah dalam menanggapi setiap pesanan konsumen ditambah lagi enaknya bubur tersebut. Sehari saja buburnya dapat habis 1000 porsi, harganya pun murah, hanya Rp 7000 plus 1 gelas air teh hangat atau jeruk.

Pilihan porsinya ada dua macam, yaitu porsi mini dan porsi jumbo. Kalau porsi mini hanya satu mangkuk sedangkan porsi jumbo setara dengan dua mangkuk. Hampir seluruh pembeli memeasn dengan porsi mini, namun ada juga yang memesan dengan porsi jumbo, harganya pun relati murah untuk porsi jumbo yaitu Rp 10.000 plus air minum.

Mas Karyo tidak pernah terlihat mencuci mangkok, karena padatnya pembeli, jadi dia lebih memilih dengan menyiapkan mangkok yang berjumlah 1000. Bila mangkoknya habis maka buburnya pun dinyatakan olehnya habis, maka saat itulah warungnya tutup. Karena buburnya dibuat hanya untuk porsi 1000 saja, tidak pernah lebih.

Pernah saya bertanya, mengenai penjualan buburnya. Mengapa tidak pernah menjual 1000 lebih, dan dia pun menjawab. “Saya pernah menjual 1000 lebih beberapa kali, namun tidak habis semua. Kadang terkena hujan dan pelanggan sepi. Namun, Alhamdulillaah, ketika saya menjual 1000 porsi atau kurang dari itu, bubur saya selalu habis. Jadi saya pun mengambil kesimp**an, jangan serakah dengan rezeki. Saya sudah mendapatkan 1000 porsi setiap hari, maka harus bersyukur, jangan ambil banyak, berbagi rezeki dengan pedagang bubur dan makanan lainnya”. Pungkas Mas Karyo ketika saya tanya perihal 1000 porsi tersebut.

Tanpa disengaja saat sarapan berlangsung, terdengar ada yang berbincang tentang taman nasional ujung kulon. “Wah, dapat informasi liburan nich” pikirku dalam hati. Segera setelah sarapanku selesai, aku menuju kos dan mulai mencari info mengenai taman nasional ujung kulon di internet.

Setelah lama mencari di mbah Google akhirnya menemukan tentang informasi Taman Nasional Ujung Kulon. Ternyata indah sekali itu terlihat dari beberapa foto yang berada di internet. Segera aku menghubungi Narto dan mengajaknya untuk berangkat ke Taman Nasional Ujung Kulon. Dia pun langsung setuju. Kami bersama-sama mencari informasi tambahan dan mengajak teman-teman yang lain untuk ikut liburan.

Akhirnya kami mendapatkan banyak informasi mengenai Taman Nasional Ujung Kulon dari internet, namun ada yang menjadi kegusaran. Banyak teman-teman yang dihubungi dan diajak untuk bergabung liburan dan dari mereka banyak yang tidak bisa, karena beberapa alasan, antara lain, ada yang sudah p**ang kampung, ada yang sudah memiliki agenda, dan ada yang beralasan dengan keuangannya, dan alasan lainnya, namun hal tersebut tidak menyurutkan niatku bersama Narto untuk berlibur.

Alhamdulillaah ada berita baik, dari sekian banyak teman yang dihubungi, ternyata masih ada yang mau ikut walau hanya satu orang saja, yaitu temanku yang bernama Dito. Dia berasal dari Lampung dan liburan semester kali ini, tidak p**ang kampung dikarenakan alasan yang sama denganku yaitu saat lebaran idul fitri saja.

Akhirnya yang berangkat hanya kami bertiga yaitu, aku, Narto, dan Dito. Walau begitu kami tidak mempermasalahkannya, karena Insya Allah kami tidak akan kecewa dengan liburan kali ini di Taman Nasional Ujung Kulon. Kami berencana liburan di Taman Nasional Ujung Kulon selama lima hari, dua hari waktu berangkat dan p**ang, sedangkan tiga harinya digunakan untuk menikmati Taman Nasioanal Ujung Kulon. Kami akan berangkat hari kamis dan akan p**ang hari senin.

--------------------------------------Putus---------------------------------

Suara handphone terdengar. Ternyata Dito menelpon, “Assalamu’alaikum. Dirman, besok jangan lupa lho, Rabu sekitar jam 15.00 Wib atau ba’da sholat Ashar, kita berkumpul di kosku dan menyiapkan perbekalan selama berpergian, Ok? ”
“Insya Allah, Siap Bos, laksanakan”. Jawabku.

Hari kamis dini hari, barulah selesai semua perbekalan yang akan kami bawa. Aku membawa dua tas yang terdiri dari: satu tas ransel besar, satu tas kecil. Tas besar berisikan pakaian selama perjalananku serta perlengkapan sehari dan sedikit perbekalan makanan selama perjalanan sedangkan tas kecil berisikan kertas kecil, pisau lipat, dan perlengkapan charger HP.

Dito dan Narto pun telah selesai menyiapkan perbekalan. Kami memang menyepakati hanya membawa tas ransel dan tas kecil saja. Tidak boleh lebih bawaanya, karena akan merepotkan selama perjalanan nantinya. Karena saat itu telah memasuki bulan penghujan, maka kami hanya membawa jaket dan celana panjang sisanya hanya sarung dan celana pendek serta kaos lengan pendek.

Di Negara Indonesia dikenal dengan dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Untuk musim penghujan dimulai antara bulan November sampai bulan April sedangkan musim kemarau dimulai antara bulan Mei sampai bulan Oktober. maka dengan pertimbangan inilah yang membuat kami memutuskan membawa perbekalan yang disesuaikan dengan musimnya. Fisik kami juga harus kuat, karena pastinya selama perjalanan harus menggunakan kaki sendiri bila ternyata uang menipis. Dengan menggunakan bis, kami bertiga pun pergi berpetualang selama liburan semester menuju Pulau Peucang yang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten,.


--------------------------------------Putus---------------------------------

Kami memulai perjalanan dengan menyusuri Selat Sunda kurang lebih selama dua setengah jam dengan didampingi satu nahkoda, dan lima awak kapal. Indonesia memang kaya dengan alamnya yang indah. Terlihat dari atas kapal, pasir putih, air yang biru, dan kadang terlihat ikan-ikan hias yang sedang berenang serta terumbu karang yang indah. Menambah keinginan kami segera menyelusuri indahnya bawah laut ditambah dengan pohon Bakau yang menjulang menjulang berfungsi sebagai benteng penghalang untuk menahan gempuran air laut ganas. Kami pun terkesima melihatnya. Inilah inti dari petualangan! Pikirku.

Perjalanan kami sempat terhenti sejenak di tengah selat karena guyuran hujan. Tidak ada yang menyangka jika petualangan kali ini agak mengerikan. Bayangkan hujan di tengah selat, perahu digoyang-goyang dengan tiupan angin yang kencang. Nahkoda kapal yang kami tumpangi tetap menjalankan kapalnya dengan perlahan dengan wajah yang terlihat pucat karena cuaca yang tidak baik. Alhamdulillaah kami tiba dengan selamat di Pulau Peucang.

Sesampai di Pulau Peucang, kami langsung disambut oleh pendamping lokal. “Selamat datang di Pulau Peucang pak” sapaan hangat darinya kepada kami. “Perkenalkan, nama saya Gareng. Saya yang akan menjadi pendamping bapak sekalian selama di p**au peucang”. Selama perjalanan menuju penginapan, mas Gareng menjelaskan tentang sejarah Pulau Peucang hingga biota lautnya serta satwa-satwa liar yang langka dan dilindungi.

Sempat p**a Dito bertanya, “mengapa dinamakan dengan Pulau Puecang?” Mas Gareng pun menjelaskan dengan detail mengapa disebut dengan Peucang, ternyata nama ‘Peucang’ diambil dari nama sejenis siput yang sering ditemukan di pantai p**au ini. Penduduk setempat biasa menyebut siput tersebut dengan ‘peucang’ maka dinamakanlah p**au ini dengan Pulau Peucang.

Narto pun ikut bertanya kepada Mas Gareng dengan raut wajah yang penasaran. “Siapa saja yang menghuni p**au ini, mas Gareng?” Mas Gareng menjelaskan bahwa “orang-orang yang menghuni p**au ini sangatlah sedikit dan mudah dihitung. Beberapa penghuninya terdiri dari petugas Balai Taman Nasional Ujung Kulon, masyarakat yang mencari nafkah dari pengunjung, para pengunjung, serta flora dan faunanya”.

Sebelum masuk penginapan, kami berkesempatan melihat replika dari Taman Nasional Ujung Kulon. Potongan-potongan gambar seperti flora dan fauna di Taman Nasional Ujung Kulon terpampang jelas di dinding. Ditambah lagi rusa yang banyak berkeliaran di sekitar penginapan menambah suasana alam yang menakjubkan.


--------------------------------------Putus---------------------------------

Berada di p**au ini, kami seperti dibawa berpetualang ke hutan yang masih liar, hanya ada manusia, hutan, dan satwa-satwa liar. Apalagi di p**au ini tidak ada perkampungan, semakin sempurnalah petualangan di Pulau Peucang. Walaupun tidak ada perkampungan, tetapi jangan takut jika harus bermalam di p**au ini, karena banyak penjaga p**au. Ada beberapa jenis penginapan yang disediakan, mulai kelas barak hingga kelas eksekutif.

Penginapan yang kami pilih adalah kelas barak, jadi fasilitasnya biasa saja, tidak ada AC dan air panas, namun bagi kami tidak ada masalah, karena yang kami butuhkan hanyalah menikmati liburan di Pulau Peucang. Ditemani teh panas yang manis, menambah indahnya suasana penginapan. Desiran ombak terdengar dan angin laut terasa hingga di penginapan, padahal jaraknya cukup jauh. Terasa nikmat petualangan kali ini, hingga dalam hatiku berkata, “alhamdulillaah, terima kasih ya Allah, hingga saat ini nikmat-Mu memberikan kecukupan padaku”.


--------------------------------------Putus---------------------------------

Mas Gareng memandu kami untuk menjelajahi keajaiban p**au Peucang melalui wahana petualangan berkano, trekking, berenang, memancing, mengexplorasi hutan hujan, mengamati satwa-satwa atau bersnorkeling untuk melihat keindahan di taman laut dengan ikan yang berwarna-warni.

Pasir putih bersih yang menandakan bahwa p**au ini dirawat dan masih perawan. Sepanjang pesisir pantai, kami belum menemukan sampah kotoran, baik dari sampah yang berasal dari manusia maupun hewan dan tumbuhan. Kehidupan bawah lautnya pun tidak kalah menggoda. Warna-warni biota laut pun menunjukkan aksinya. Kami pun mencoba menyelam dan mengabadikan setiap momennya.

Kami mencoba untuk beristirahat dan bersantai dengan hamparan pasir putih dan birunya warna air laut, sambil menikmati minuman yang menyegarkan dan menikmati terbenamnya sinar matahari di p**au ini.


--------------------------------------Putus---------------------------------

Menjelang malam, hembusan angin yang membuat udara menjadi sejuk menambah nikmatnya kawasan p**au ini. Lampu-lampu penerangan mulai mati, menandakan penghuni penginapan sudah hampir terlelap tidur. Beda dengan diriku dan kedua temanku yang masih menikmati malam dan gejolak bintang-bintang yang menyapa dengan senyuman cahayannya. Terdengar suara-suara hewan yang saling memanggil, sungguh merdunya.
Penginapan yang tak kalah dengan hotel berbintang. Pulau Peucang, membuat kami bertiga tidak ingin berlama-lama menikmati istirahat, karena godaan daya tarik yang kuat dari kawasan p**au ini. Setiap momen di Pulau Peucang, rasannya rugi bila dilewatkan setiap detiknya, karena pemandangan yang disuguhkan begitu indah.


--------------------------------------Putus---------------------------------

Di hari kedua di p**au Peucang setelah shalat subuh, kami bertiga berjalan-jalan menyusuri pantai dan menikmati matahati terbit. Sungguh indah dan menawan ciptaan-Nya. Alhamdulillaah bisa menikmati indahnya mentari pagi. Sangat indah di negeri Ujung Barat Indonesia.

Kami bertiga mencoba menyelam dan berfoto di terumbu karang. Dito membawa kamera yang mampu digunakan di dalam laut, jadi kami sempat mengabadikan momen-momen yang indah di bawah laut. Terumbu karang dan ikan-ikan hias kecil menambah panorama biota laut yang menawan. Laut di Indonesia sungguh indah. Tidak rugi kami melakukan liburan di Taman Nasional Ujung Kulon tepatnya di Pulau Peucang. Walau daerah paling barat Pulau Jawa, tidak mengurangi keeksotikkan Pulau Peucang.

Kami pun mencoba mengitari hutan lindung di p**au itu, namun karena luasnya hutan tersebut, kami hanya mengnjungi di bagian luar hutan, tidak sempat memasuki hingga di tengah hutan. Karena mendengar penjelasan dari Guider Tour kami tentang luasnya hutan.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengitari hutan tersebut adalah 5-15 hari. Sungguh lama. Dengan waktu yang kami rencanakan, pastilah tidak akan cukup, maka kami memutuskan untuk menyusuri bagian bibir hutan saja dan menikmati biota lautnya yang indah. Semoga di lain waktu kami dapat mengunjunginya kembali dan memasuki hutan tersebut hingga menemukan berbagai tumbuhan langka serta hewan-hewan lainnya. Inilah keindahan alam Indonesia.

Di Pulau Peuncang terdapat salah satu daerah yang menarik yaitu Karang Copong. Di daerah ini kami dapat melihat matahari terbenam karena pantai nya yang menghadap ke barat. Di sini juga, kami dapat melihat batu karang yang berdiri di tengah lautan dan batu karang yang bolong di tengahnya, sehingga menambah warna-warna di petualangan kami.

Petualangan yang tidak akan pernah kami lupakan. Petualangan di Taman Nasional Ujung Kulon. Warna-warni Indonesia. Rasanya tidak ingin kaki ini dan wajah berpaling dari keindahan pasir dan pemandangan yang disuguhkan, namun karena waktu yang membatasi. Kami akhirnya p**ang dengan rasa puas. Semoga kelak kami akan datang kembali ke kawasan yang di ujung barat negeri Indoensia.

-----------------------------------The End---------------------------------

Ditulis oleh: ArtawijayaPenulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Moh. Natsir JakartaTwitter: https://twit...
28/11/2013

Ditulis oleh: Artawijaya
Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Moh. Natsir Jakarta
Twitter: https://twitter.com/artaazzam
Sumber resmi tulisan: http://www.hidayatullah.com/read/29208/02/07/2013/belajar-memaafkan-dari-buya-hamka.html
Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/54/Hamka2.jpg
-----------------------------------------------------------------

Belajar Memaafkan

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau biasa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini. Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun,”demikian tegasnya ketika dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka salah seorang ulama yang mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kiprah dakwahnya dalam membina umat. Ia dikenal dengan fatwanya ketika menjabat sebagai Ketua MUI, yang mengeluarkan fatwa haram bagi umat Islam untuk tidak mengikuti “Perayaan Natal Bersama”. Ia juga yang menolak undangan untuk bertemu Paus, pemimpin Katholik dunia, ketika datang berkunjung ke Istana Negara pada masa Presiden Soeharto. Dengan tegas, Buya Hamka mengatakan perihal penolakannya bertemu Paus tersebut, “Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?” Demikian ketegasan Buya Hamka dalam soal akidah.

Namun dalam bermuamalah, ia santun dan lembut, sikapnya mencerminkan pribadinya. Ia sosok pemaaf, tak pernah menaruh dendam. Baru-baru ini, anak kelima dari Buya Hamka, Irfan Hamka, merilis ulang sebuah buku yang menggambarkan tentang sosok dan pribadi ulama tersebut. Buku berjudul “Ayah” itu menceritakan pengalaman hidup Irfan Hamka bersama sang ayah, dan s**a duka perjalanan hidup ayah tercintanya, baik sebagai tokoh agama, politisi, sastrawan, dan kepala rumah tangga. Sebelumnya, putra kedua Buya Hamka, Rusjdi Hamka, juga pernah menulis buku yang mengisahkan tentang sosok sang ayah, yang berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka.”

Ada hal menarik yang diceritakan dalam buku “Ayah” tersebut. Terutama tentang bagaimana sosok pribadi Buya Hamka ketika menghadapi orang-orang yang pernah memfitnah, membenci, dan memusuhinya. Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak s**a dengan sikapnya. Irfan Hamka menceritakan bagaimana sikap Buya Hamka terhadap tiga orang tokoh yang dulu pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Ketiga tokoh tersebut adalah Soekarno (Presiden Pertama RI), Mohammad Yamin (tokoh perumus lambang dan dasar negara), dan Pramoedya Ananta Toer (Budayawan Lekra/Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seni, dan budaya yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia). Betapapun ketiga tokoh itu membenci dan memusuhi Buya Hamka, namun akhir dari kesudahan hidupnya mereka justru begitu menghormati dan menghargai pribadi dan martabat Buya Hamka.

Soekarno ketika menjabat sebagai Presiden RI dan memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), menahan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan dengan tuduhan yang tidak main-main: terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Pada 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijerat dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11. Hamka ditahan tanpa proses persidangan dan tanpa diberikan hak sedikitpun untuk melakukan pembelaaan. Tak hanya itu, buku-buku karyanya pun bahkan dilarang untuk diedarkan. Hamka dijebloskan ke penjara, diperlakukan bak penjahat yang mengancam negara. Begitu zalimnya sikap Soekarno terhadap ulama tersebut.

Namun apa yang terjadi, setelah bebas dari penjara, dan Buya Hamka sudah mulai beraktivitas kembali, sementara kekuasaan Soekarno sudah terjungkal, peristiwa mengharukan terjadi. Soekarno yang mulai hidup terasing dan sakit-sakitan, di akhir hayatnya kemudian menitipkan pesan kepada orang yang dulu pernah dizaliminya. Pesan tersebut disampaikan kepada Buya Hamka lewat ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo, pada 16 Juni 1970. Isi pesan tersebut berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..” Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Soekarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah B**g Karno disemayamkan.

Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Dengan ikhlas ia menunaikan wasiat itu, mereka yang hadir pun terharu. Lalu, apakah Buya Hamka tidak menaruh dendam pada Soekarno. Dengan ketulusan ia mengatakan, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu...”

Peristiwa mengharukan tentang kebesaran jiwa Buya Hamka dalam memaafkan orang-orang yang pernah membencinya adalah terkait dengan kematian Mohammad Yamin, salah seorang founding father negeri ini, tokoh kebangsaan yang juga termasuk perumus dasar dan lambang negara. Meski berasal dari Sumatera Barat, namun Yamin adalah produk pendidikan sekular. Ia aktif di Jong Sumatranen Bond (Ikatan Pemuda Sumatra) yang bercorak kesukuan dan sekular. Ia juga menjadi anggota Gerakan Theosofi, sebuah organisasi kebatinan yang juga mengedepankan sekularisme dan paham kebangsaan.
Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Buya Hamka aktif di Partai Masyumi. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut, ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”

Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar. “Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tahun 1962, Mohammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Buya Hamka memantau perkembangannya lewat radio dan media massa cetak. Hingga tiba pada suatu hari, Chaerul Saleh, menteri di kabinet Soeharto menelponnya dan ingin menyampaikan kabar mengenai kesehatan Mohammad Yamin. Chaerul Saleh kemudian mengatakan kepada Hamka, “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja menemui Buya untuk menyampaikan pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau,” ujarnya.
Hamka yang tertegun kemudian bertanya, “Apa pesannya?” Sang menteri itu kemudian mengatakan,”Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya. Saat ini, pak Yamin dalam keadaan sekarat, ”terangnya. Selain itu, kata sang menteri, “Beliau mengharapkan sekali, Buya bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” Kepada Buya Hamka, Menteri Chaerul Saleh itu juga mengatakan, Yamin khawatir, masyarakat Talawi, Sumatera Barat, tempatnya berasal, tidak berkenan menerima jenazahnya.
Mendengar penuturan Chaerul Saleh, saat itu juga

Buya Hamka kemudian minta diantar ke RSPAD, tempat Yamin terbaring sakit. Melihat kedatangan Hamka, Yamin yang tergolek lemah kemudian melambaikan tangan. Hamka mendekatinya, kemudian menjabat hangat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikkan ke telinga Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah.” Dengan suara lirih, Yamin mengikuti. Namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin, kemudian terlepas dari genggaman Buya Hamka.
Mohammad Yamin menghembuskan nafas terakhirnya di samping sosok yang dulu menjadi seterunya. Di akhir hayat, tangan keduanya berpegangan erat, seolah ingin menghapuskan segala sengketa yang pernah ada. Orang yang hadir ketika itu mungkin terlibat dalam keharuan yang sangat. Memenuhi wasiat Yamin, Hamka pun kemudian turut mengantar jenazah salah seorang tokoh nasional itu sampai ke pembaringan terakhirnya.

Cerita terakhir adalah tentang Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Keduanya berseberangan secara ideologi. Pram, sapaan akrab sastrawan itu, menyuarakan aspirasi kaum kiri dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI. Lewat rubrik Lentera di Surat Kabar Bintang Timoer, Pram dan kawan-kawannya tak henti-hentinya menyerang Hamka. Karya-karya novel Hamka dituding sebagai plagiat, pribadinya diserang sedemikian rupa. Fitnah dan penghinaan itu tak lain adalah karena Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang anti Komunis, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi.

Namun takdir perseteruan itu menemukan jalan ceritanya yang sungguh mengharukan. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ia sudah menentukan calon pendamping bernama Daniel Setiawan. Pram tentu bersenang hati atas keinginan anaknya tersebut. Namun ada satu ganjalan di hatinya, sang calon menantu yang berasal dari peranakan etnis Tionghoa, ternyata berlainan keyakinan dengan putrinya. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” demikian ujar Pram, sebagaimana disampaikannya kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang mengobatinya dan dekat dengan keluarganya.

Singkat cerita, Pram kemudian meminta putri dan calon menantunya itu untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang menjadi seterunya. Ia meminta calon menantunya itu untuk belajar Islam kepada Hamka. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian Pram menjelaskan.

Bersama Astuti, sang calon menantu Pram itu kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ia menceritakan maksud kedatangan, agar Buya bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, ia memperkenalkan diri sebagai anak dari Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka tertegun sejenak, raut wajahnya seperti ingin meneteskan air mata. Ia kemudian dengan ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Tak lupa p**a, ia menitipkan salam untuk ayah sang putri itu. Suasana begitu haru.

Astuti, putri Pramoedya itu tak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci oleh ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh terharu, dan berterimakasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka kemudian larut dalam kehangatan dan melupakan segala dendam.

Begitulah sosok Buya Hamka. Ulama yang tegas dan bersahaja. Lelaki yang tak pernah memelihara dendam dalam hatinya, meski musuh yang begitu membencinya sudah tak berdaya. Ia berjiwa besar, berlapang dada, dan menganggap segala kebencian bisa sirna dengan saling memaafkan dan menebarkan cinta. Keteladanannya kini, tetap bersinar seperti mutiara...

Buya Hamka juga menghasilkan beberapa karya, di antaranya novel yang menjadi perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura. Berikut judul-judul buku yang ditulis beliau, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Dibawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Tafsir Al-Azhar yang berjilid-jilid, serta masih banyak karya lainnya.

Address

Swan Regency
Sidoarjo
98321

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Klik Rollen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share