25/06/2025
BACA SELENGKAPNYA:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.indospot.vocaboost
BAB 1: Aku Tidak Cemburu
✦
📝 Entry Diary Jisoo – 10 September
Aku tidak cemburu. Aku tidak seharusnya cemburu.
Aku hanya... merasa ada sesuatu yang salah.
Hari ini, saat makan siang di kantin, aku melihat Minjae tertawa bersama seorang gadis di meja sebelah.
Gadis itu, yang entah siapa namanya, berdiri terlalu dekat dengannya. Terlalu nyaman.
Aku bahkan tidak perlu mendengar percakapannya untuk tahu bahwa mereka sedang bersenang-senang.
Sementara itu, aku duduk di meja paling pojok, ditemani oleh Eunbi yang sibuk memainkan sedotan di gelas es kopinya, seolah sedang melakukan penelitian ilmiah.
Aku berusaha keras untuk tidak menoleh ke arah Minjae dan gadis itu, tapi semakin aku mencoba, semakin jelas suara tawanya di telingaku.
Aku menghela napas dan menunduk, fokus ke kimbap di piringku. Makan. Itu solusi terbaik.
Aku mengambil potongan pertama dan memakannya dalam sekali lahap. Kemudian yang kedua. Dan ketiga.
Sampai akhirnya—
"Kamu kenapa makan kayak orang dikejar utang?"
Aku tersedak. Bukan karena kimbapnya, tapi karena suara dan wajah Eunbi yang tiba-tiba muncul tepat di depan wajahku.
Aku buru-buru meneguk air minum dan menatapnya dengan bingung. "Apa?"
Eunbi menyilangkan tangan dan menyipitkan mata ke arahku.
"Biasanya, kamu butuh waktu minimal lima menit buat mengunyah satu potong kimbap. Hari ini, kamu makan secepat orang kelaparan tiga hari."
Aku berdehem, mencoba terlihat normal. "Aku cuma lapar."
Eunbi tidak bergeming. Matanya mengarah ke meja sebelah.
Ke arah Minjae dan gadis itu.
Aku langsung tahu apa yang ada di pikirannya.
Dan benar saja, dia berbalik menatapku dengan seringai jahil.
"Oh... aku tahu kenapa sekarang."
Aku menegang. "Kenapa apa?"
Eunbi menyandarkan dagunya di tangannya, masih dengan ekspresi penuh kemenangan. "Kamu cemburu."
Aku hampir menyemburkan air yang baru saja kuteguk.
"Apa? Tidak!" Aku menyangkal terlalu cepat, yang justru semakin mencurigakan.
Bukannya percaya, Eunbi malah mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu tersenyum puas.
Aku meliriknya curiga. "Kamu ngapain?"
Eunbi mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya.
"Daftar Kebohongan Terbesar 2025"
"Aku nggak peduli sama Minjae, by Jisoo Kang"
Aku menutup wajahku dengan tangan. Astaga, kenapa aku punya teman seperti ini?..
Aku sudah berusaha menghindari Minjae sepanjang hari.
Bukan sesuatu yang sulit, mengingat aku memang ahli dalam menghilang dari keramaian.
Ketika bel istirahat berbunyi, aku mengambil rute terpanjang menuju kelas, memastikan tidak melewati tempat dia biasa nongkrong.
Saat jam olahraga, aku bersembunyi di belakang teman-temanku saat pemanasan, berharap dia tidak melihatku.
Bahkan ketika aku harus mengambil buku di loker, aku menunggu sampai lorong benar-benar sepi sebelum berjalan ke sana.
Semua berjalan sesuai rencana. Sampai...
"Jisoo?"
Aku langsung membeku.
Aku menoleh perlahan, dan di sana dia berdiri, Minjae Han, lengkap dengan ekspresi bingungnya.
Aku refleks berpura-pura mencari sesuatu di tasku. "Oh! Aku lagi nyari... pensilku!"
"Tapi kamu nggak bawa tas," katanya santai.
Astaga.
Aku melirik ke tanganku yang kosong. Benar. Aku bahkan tidak membawa apa pun.
Aku bisa merasakan telingaku mulai memanas. "Oh. H-haha. Aku lupa."
Minjae menatapku dengan senyum yang terlalu santai. "Kenapa kamu menghindar?" Sambil mencondongkan tubuhnya.
"Aku nggak menghindar," jawabku cepat. Terlalu cepat.
Dia mengangkat alis. "Tapi aku nggak nanya itu. Aku cuma bilang 'kenapa kamu menghindar'."
Aduh.
Otakku berpacu mencari alasan yang masuk akal. "Aku... sibuk!"
Dia tersenyum kecil. "Sibuk menghindari aku?"
Aku membuka mulut untuk membantah, tapi tidak bisa. Aku hanya diam, sementara Minjae masih menatapku, menunggu jawaban yang tidak akan pernah aku miliki.
Akhirnya, setelah beberapa detik hening yang menyiksa, dia hanya tertawa kecil.
"Aku nggak akan maksa kamu buat jawab," katanya, lalu mengeluarkan sebuah botol susu stroberi dari sakunya.
Aku terkejut. "Itu..."
"Aku beli tadi di toko," katanya santai. "Aku ingat kamu s**a ini."
Aku ingin menolak. Aku ingin tetap berpura-pura tidak peduli. Tapi sebelum aku bisa mengatakan apa pun, Minjae sudah menyodorkan botol itu ke tanganku.
Refleks, aku menerimanya.
"Jangan terlalu lama overthinking," katanya sambil menepuk ringan bahuku. "Kita ngobrol setelah kelas terakhir, ya?"
Lalu dia pergi.
Meninggalkanku dengan kepala yang penuh kebingungan dan botol susu stroberi di tangan.
✦
Malam Itu: Sebuah Pesan yang Membuat Hati Berdebar
Aku menatap layar ponselku cukup lama sebelum akhirnya membukanya.
📩 Minjae Han: Kenapa kamu menghindariku lagi pulang sekolah tadi?
Aku langsung menutupnya lagi.
Kenapa dia harus bertanya seperti itu?
Aku bisa saja mengatakan aku tidak menjauhinya.
Aku bisa saja membalas dengan emoji santai atau bercanda bahwa dia terlalu percaya diri.
Tapi aku tidak bisa.
Karena aku tahu, aku memang menjauh.
Aku ingin bilang:
"Aku tidak menjauhimu. Aku hanya takut kalau aku terlalu dekat..."
"Aku takut perasaanku lebih besar dari yang seharusnya."
Tapi akhirnya, aku hanya meletakkan ponselku di meja, membiarkannya tanpa jawaban.
Malam itu, aku menulis dalam diary:
"Aku tidak ingin cemburu. Tapi kalau memang bukan cemburu, lalu apa?"
Aku menarik napas panjang dan menutup diary-ku.
Karena aku tahu, besok...
Aku masih belum siap untuk menjawab pertanyaan itu.
✦✦✦
Bersambung..
BACA SELENGKAPNYA:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.indospot.vocaboost