Tourkejogja.com

Tourkejogja.com Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Tourkejogja.com, Brand, Jalan Perumnas No. 89 Condongcatur, Kec. Depok, Sleman.

+62 851-1729-5589 (WA) Paket Tour Jogja 3 Hari 2 Malam, Paket Tour Jogja 2 Hari 1 Malam, Paket Wisata Jogja 1 Hari, Paket Wisata Jogja 2 Hari 1 Malam, Paket Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam, Paket Wisata Jogja 4 Hari 3 Malam Paket Tour Jogja 3 Hari 2 Malam, Paket Tour Jogja 2 Hari 1 Malam, Paket Wisata Jogja 1 Hari, Paket Wisata Jogja 2 Hari 1 Malam, Paket Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam, Paket Wisata Jogja 4 Hari 3 Malam

27/03/2020

Setelah berhari2 tak keluar rumah karena lockdown, terpaksa tadi harus ke apotik, saat menunggu obat tiba2 seorang kakek datang dan mengeluhkan badannya yang pegal2 juga pusing, lalu petugas apotik menyodorkan vitamin, si kakek bertanya:
"harganya berapa?
setelah dijawab lalu kakek berkata:
"yang lainnya saja yg lebih murah nak"...
makdek hati ini rasanya teriris2 perih sekali (tapi saya tak berani menoleh takut dia malu atau hati saya yang malah malu pd diri ini)
lalu petugas apotik memberi syirup tanpa menanyakan harga lagi kakek itu menjawab:
"Nopo mboten wonten yang ukurannya lebih kecil? atau yang boleh nebus separuh nak.."

Ya Allah, ini adalah cambukan terpedih bagi saya yang di sampingnya,
lalu sy katakan.."Mbah, Njenengan pinarak sj di kursi nanti sama masnya diberi obat yang banyak dan yang paling bagus, stlh sy slesaikan kebutuhannya saya pergi dg hati yang tetap saja terbakar ..

Sepanjang perjalanan pulang, mata ini tak lepas dari pemandangan orang2 yang pasrah tanpa senyuman, menunggu rejeki mereka di pinggir jalan yang nyaris sepi tanpa orang, tukang becak, penjual mainan dan kakek2 penjual pisau, saya tahu mereka terpaksa harus keluar walau tahu di luar sudah susah mendapat uang karena tha'un.
suasana di mobil pun terasa tak enak, kulirik suami yang sedang mengemudi tampaknya dia juga merasakan keprihatinan yang kurasakan, tiba2 dia berkata:

Dik, Ulama2 salaf sering menganjurkan kita membantu dalam masa Taun atau Wabah seperti ini, Malah Ibnu Hajar al Asqolani menulis kitab berjudul:
بذل الماعون في فضل الطاعون
Badzlul Maa'un pentingnya mengerahkan segala bantuan utk meringankan orang di kala Thaun/wabah melanda.
Wes, sekarang turunlah dan hampiri mereka satu2" dia menghentikan mobilnya.

Tapi setelah menghampiri mereka, semakin terbayang kesusahan hidup yang mereka jalani, kapan covid ini berahir gusti, mereka yang mengandalkan hidup dari kerja harian tak bisa mencukupi kebutuhan bahkan sakitpun mereka abaikan.

Ah..andai semua ummat islam sadar..
pintu Masjidil Haram dan Roudloh baginda Nabi tertutup agar manusia mengalihkan uangnya untuk memperhatikan saudaranya yang miskin...

Bandara tertutup tak menerima kita jalan2 agar uang itu untuk membantu sesama.

Mall2 dibatasi waktu dan pengunjung agar kita berhenti berbelanja dan menghambur2kan uang, padahal di samping kita banyak anak2 yatim menangis karena kekurangan.

Memang selama ini kita menyantuni mereka, membantu mereka tapi tak sebesar biaya jalan-jalan kita keluar negeri
kita memang memberi uang orang miskin, tapi tak sebesar biaya kita bolak balik umroh.
Saat semua itu tertutup inilah saatnya kita menjalani yang masih terbuka yaitu peduli pada sesama.

Saat peduli pada sesama tertutup berarti kita sudah Mati.

- Bu Nyai Laily Nafis Sufyan -

Saya baca berkali-kali.. Namun tdk ada istilah kata bosen..Terima kasih sahabat!?Berita mbah Jum memasarkan dagangan nya...
19/03/2020

Saya baca berkali-kali.. Namun tdk ada istilah kata bosen..
Terima kasih sahabat!?

Berita mbah Jum memasarkan dagangan nya yg menuntun konsumen beribadah.....

MBAH JUM

Oleh : Irene Radjiman

Begitulah beliau dipanggil. Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu saat berlibur di Kasian Bantul Yogyakarta. Nama desanya saya lupa.

Mbah Jum seorang tuna netra yang berprofesi sebagai pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe. Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung sholawat. Cucunya meninggalkan mbah Jum sebentar, karena ia juga bekerja sebagai kuli panggul dipasar itu. Dua jam kemudian, cucunya datang kembali untuk mengantar simbahnya pulang kerumah. Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes. Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya. Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu. Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.

Saat kutanya : “kenapa begitu ?”

“karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu. Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu. Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi. Lha rumahnya gusti Allah kan dimasjid mbak, makanya kalau dapet lebih dari 50 ribu, saya diminta simbah masukkin uang lebihnya kemasjid.”

“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi

“Nggak mbak. Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.” Cucunya kembali menjelaskan padaku.
“Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi

“Begini mbak, kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya. Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian. Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu. Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian. Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu. Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.” Begitu penjelasan sang cucu.

Aku melongo terdiam mendengar penjelasan itu. Disaat semua orang ingin semuanya menjadi uang, bahkan kalau bisa kotorannya sendiripun disulap menjadi uang, tapi ini mbah Jum…?? Aahhh…. Logikaku yang hidup di era kemoderenan jahiliyah ini memang belum sampai.

Sampai rumah pukul 10:00 pagi beliau langsung masak untuk makan siang dan malam. Ternyata mbah Jum juga seorang tukang pijat bayi (begitulah orang dikampung itu menyebutnya). Jadi bila ada anak-anak yang dikeluhkan demam, batuk, pilek, rewel, kejang, diare, muntah-muntah dan lain-lain, biasanya orang tua mereka akan langsung mengantarkan ke rumah mbah Jum. Bahkan bukan hanya untuk pijat bayi dan anak-anak, mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya. Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu, padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya. Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid. Ya ! 100% ! anda kaget ? sama, saya juga kaget.

Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”

mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
“Kulo niki sakjane mboten pinter mijet. Nek wonten sing seger waras mergo dipijet kaleh kulo, niku sanes kulo seng ndamel seger waras, niku kersane gusti Allah. Lha dadose mbayare mboten kaleh kulo, tapi kaleh gusti Allah.” (Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah. Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah).

Lagi-lagi aku terdiam. Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih. Ternyata manusia yang datang dari peradaban kapitalis akan terkaget-kaget saat dihadapkan oleh peradaban sedekah tingkat tinggi macam ini. Dimana di era kapitalis orang sekarat saja masih bisa dijadikan lahan bisnis. Jangankan bicara GRATIS dengan menggunakan kartu BPJS saja sudah membuat beberapa oknum medis sinis.

Mbah Jum tinggal bersama 5 orang cucunya. Sebenarnya yang cucu kandung mbah Jum hanya satu, yaitu yang paling besar usia 20 tahun (laki-laki), yang selalu mengantar dan menemani mbah Jum berjualan tempe dipasar. 4 orang cucunya yang lain itu adalah anak-anak yatim piatu dari tetangganya yang dulu rumahnya kebakaran. Masing-masing mereka berumur 12 tahun (laki-laki), 10 tahun (laki-laki), 8 tahun (laki-laki) dan 7 tahun (perempuan).

Dikarenakan kondisinya yang tuna netra sejak lahir, membuat mbah Jum tidak bisa membaca dan menulis, namun ternyata ia hafal 30 juz Al-Quran. Subhanallah…!! Cucunya yang paling besar ternyata guru mengaji untuk anak-anak dikampung mereka. Ke-4 orang cucu-cucu angkatnya ternyata semuanya sudah qatam Al-Quran, bahkan 2 diantaranya sudah ada yang hafal 6 juz dan 2 juz.

“Kulo niki tiang kampong. Mboten saget ningali nopo-nopo ket bayi. Alhamdulillah kersane gusti Allah kulo diparingi berkah, saget apal Quran. Gusti Allah niku bener-bener adil kaleh kulo.” (saya ini orang kampong. Tidak bisa melihat apapun dari bayi. Alhamdulillah kehendak gusti Allah, saya diberi keberkahan, bisa hafal Al-Quran. Gusti Allah itu benar-benar adil sama saya).

Itu kata-kata terakhir mbah Jum, sebelum aku pamit pulang. Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya. Kurasa saat itu bidadari surga iri melihat mbah Jum, karena kelak para bidadari itu akan menjadi pelayan bagi mbah Jum.

Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi 5 tahun yang lalu yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.

SILAHKAN SHARE ATAU COPAS UNTUK KEBAIKAN DAN KEBAJIKAN...

utara
Kisah diatas bukan lah kisah seorang Ulama ataupun Waliyullah. Hanya kisah seorang perempuan biasa yg mampu membuat iri seluruh penghuni Alam.
😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Masyaa Allah
Belajar lagi

Address

Jalan Perumnas No. 89 Condongcatur, Kec. Depok
Sleman
55281

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tourkejogja.com posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Tourkejogja.com:

Share

Category