29/12/2019
Mari berinvestasi
𝗣𝗿𝗼𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗛𝗶𝗷𝗮𝘂, 𝗣𝗿𝗼𝗽𝗲𝗿𝘁𝘆 𝗥𝗮𝗺𝗮𝗵 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻
Panorama alam menjadi bagian dari keunggulan kompetitif yang dibangun oleh para pelaku bisnis properti pada produk hunian yang dipasarkannya. Tak sulit untuk mengambil contoh, misalnya panorama sungai (river view) makin banyak diperkenalkan oleh pengembang. Di tempat berbeda, pengembang lainnya menjual konsep kedekatan dengan alam dalam bentuk orientasi lokasi pada danau (lake view). Di Yogyakarta, perumahan Pesona Merapi mengedepankan 𝘷𝘪𝘦𝘸 gunung sebagai identitas produk.
Sifat manusia ingin berdekatan dengan alam menjadi esensi yang dikemas oleh pebisnis properti dalam konsep hunian. Faktor kenyamanan menjadi pertimbangan konsumen, selain lengkapnya fasilitas di lingkungan tempat tinggalnya. Konsep 𝘨𝘳𝘦𝘦𝘯 𝘭𝘪𝘷𝘪𝘯𝘨 semakin diminati.
Panorama alam yang indah dan hunian ramah lingkungan di Jogja misalnya, harusnya menjadi daya tarik konsumen menengah ke atas. Dari sisi pengembang, konsep ini bisa meningkatkan nilai jual. Beberapa hal yang biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut antara lain: pemilihan lokasi, arsitektur, dan desain interior rumah.
Pemandangan alam nusantara tak bisa dilepaskan dari sawah. Musim tanam dan musim panen bagian dari periode penting bagi petani. Hamparan sawah yang sedang menguning atau menghijau menjadi ciri keelokan wajah agraris tanah air kita. Di sektor pariwisata, petak-petak padi ini menjadi nilai jual yang mahal. Banyak pelaku pariwisata menjadikan sawah sebagai merk produk mereka. Sebut saja beberapa diantaranya, misal: "Lihat Sawah 𝘎𝘶𝘦𝘴𝘵 𝘏𝘰𝘶𝘴𝘦" di Karangasem, Bali. Penginapan ini menjual konsep homestay 𝘳𝘪𝘤𝘦 𝘧𝘪𝘦𝘭𝘥 𝘷𝘪𝘦𝘸.
Masih di p**au dewata, "Tepi Sawah 𝘙𝘦𝘴𝘵𝘢𝘶𝘳𝘢𝘯𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘝𝘪𝘭𝘭𝘢𝘴" menawarkan konsep kurang lebih serupa. Selain tempat menginap, mereka juga menawarkan tempat makan di sudut sawah sembari menikmati suasana pedesaan khas Bali. Tak hanya di Bali, "Desa Sawah Restoran dan Villa" di Bogor mengadopsi konsep sejenis. Destinasi wisata yang menawarkan suasana kampung agraris dengan ciri utama persawahan.
Sementara bagi hunian individual, panorama sawah menjadi pertimbangan banyak orang dalam membangun villa atau rumah peristirahatan. 𝘓𝘢𝘯𝘥𝘴𝘤𝘢𝘱𝘦 persawahan yang indah menjadi modal penting bagi pelaku pariwisata maupun perseorangan dalam membangun properti. Hamparan persawahan yang indah tak hanya dipunyai Bali. Kontur sawah dengan beda ketinggian dalam skala luas dengan daya tarik yang kuat tersebar di berbagai daerah.
Sebut saja persawahan di hampir semua wilayah Sleman, Jogja. Juga Kecamatan Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat. Juga Lereng perbukitan dan lembah Menoreh di Kulonprogo, dihiasi persawahan yang menjadi pemandangan menakjubkan di daerah ini. Beberapa villa terlihat mulai tumbuh di beberapa titik lokasi. Tentu saja prospek dan kelayakan daerah ini untuk berkembang menjadi ekowisata dan properti dengan orientasi panorama alam, sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi makro dan kebijakan pemerintah daerah.
Rancakalong, Sumedang dan gugusan bukit Menoreh, Wates bisa diidentifikasi sebagai lokasi potensial untuk berkembang dengan modal dasar landscape persawahan. Suatu hal yang patut dilirik oleh para pemangku kepentingan dan pelaku bisnis.
Tak menutup kemungkinan pelaku bisnis properti berpikir kreatif 𝘰𝘶𝘵 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘰𝘹, mengembangkan konsep hunian dengan 𝘷𝘪𝘦𝘸 persawahan (paddy fields view). Tentunya dengan memegang teguh batasan tata ruang yang telah ditetapkan, tak mencaplok persawahan sebagai penyangga ketahanan pangan bangsa. Pada akhirnya, sawah pun bisa menjadi merk (brand) bagi hunian itu sendiri.
Apalagi kini segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan semakin populer di masyarakat. Kebutuhan terhadap sesuatu yang selaras dengan lestarinya lingkungan (environmental needs) menjadi kesadaran banyak orang. Penyesuaian sekaligus peluang yang dimanfaatkan oleh para pemasar dengan strategi green marketing dan green branding. Orientasi kuat pada lingkungan hidup akan menjadi persepsi positif di benak konsumen dan bisa terwujud sebagai emotional benefit baik pada produk itu sendiri maupun perusahaannya.
Pilihan konsumen pada produk yang selaras dengan lingkungan merupakan bagian dari norma sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan itu sendiri. Perilaku konsumen seperti ini tentu sesuai dengan praktik bisnis berkelanjutan (sustainable business).
Sebenarnya fenomena ini bisa menjadi peluang pengembangan properti dan turisme berbasis lingkungan. Seperti di Bali dan Jogja, pemilik properti wisata tentunya berkepentingan agar sawah ini tidak hilang dari penglihatan. Masyarakat sekitar pun bisa memanfaatkan peluang di luar pertanian untuk menambah pendapatannya dari pariwisata dan manfaat ikutan dari dibangunnya properti di kampung halaman mereka.
Bukan hal mustahil jika keberadaan sawah dipertahankan sebagai orientasi pengembangan properti, sehingga pengembang harus menahan diri untuk tidak mengalihfungsikannya dan taat pada tata ruang. 𝘎𝘳𝘦𝘦𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘱𝘦𝘳𝘵𝘺 merupakan kebutuhan sekaligus peluang untuk menjawab dinamika perkembangan zaman.
Febry Arifmawan
(Alumni Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia, Wartawan Senior NETT TV, Jakarta)