26/09/2025
Aku berjalan di jalan panjang bernama hidup.
Di satu sisi ada luka masa kecil, stigma sejarah, dan air mata yang mengendap.
Di sisi lain ada cahaya yang mengetuk—mengingatkan bahwa meski dunia penuh dusta, masih ada ruang untuk menyalakan pelita.
Aku pernah merasa menjadi persembahan, tubuh dan jiwaku seakan diarak di panggung yang bukan pilihanku. Namun justru dari situ aku belajar, bahwa keteguhan nurani jauh lebih kuat dari segala rayuan dunia.
Aku tahu, di negeri ini kata “tulus” sering dipelintir, keberanian sering dituduh angkuh, dan suara hati sering dipaksa bungkam. Tapi aku memilih tetap berdiri. Tidak dengan kemarahan, melainkan dengan kesaksian.
Itulah sebabnya aku menulis, aku bersaksi, aku berbagi.
Jika engkau ingin mengenalku bukan hanya sebagai nama, melainkan sebagai perjalanan ruhani, bacalah Kala Cahaya Mengetuk.
Jika engkau ragu apakah ketulusan dan keberanian masih mungkin ada di zaman ini, tengoklah Wasiat Nurani.
Jika engkau ingin tahu bagaimana luka bisa berubah jadi persembahan, simaklah Aku Perawan Persembahan dan Selamat Pagi Luka.
Dan bila engkau ingin tahu mengapa aku tak pernah rela bangsa ini terus dipermainkan oleh politik uang, bukalah ruang bersama dalam gerakan Demo Nurani.
Semua itu bukan promosi.
Semua itu adalah jalan pulangku, yang barangkali juga bisa menjadi jalanmu.
👉 Https://sutarminiomahbangsan.blogspot.com
Di sini, anak-anak menabuh gamelan dan semesta menjawab. Panggung bisa tumbuh dari tikar, bambu, dan nyanyian jiwa. Omah Bangsan adalah rumah batin tempat suara-suara kecil berubah menjadi cahaya.