William Bere Ati

William Bere Ati Project Management Officer (PMO) Lead at Integrated MSME Development Project - Ministry of Cooperativ

27/08/2026
08/08/2026

Ya, jika biji kopi merah langsung dikupas kulit buahnya, proses tersebut disebut pulping dan merupakan tahap awal pengolahan basah (wet process).

☕ Alurnya:

Cherry merah → Pulping → Fermentasi → Washing → Drying → Hulling → Grading

🔴 Cherry merah: dipanen saat matang optimal.

⚙️ Pulping: kulit dan daging buah langsung dikupas dengan pulper.

🧪 Fermentasi: sisa lendir (mucilage) diuraikan, biasanya sekitar 12–36 jam tergantung kondisi.

💧 Washing: biji dicuci hingga bersih.

☀️ Drying: dikeringkan sampai kadar air sekitar 10–12%.

🫘 Hulling: kulit tanduk (parchment) dilepas.

📏 Grading & sorting: dipisahkan berdasarkan ukuran, density dan defect.

Untuk Letefoho, metode ini sangat cocok jika targetnya adalah washed specialty Arabica, karena proses yang terkontrol dapat menghasilkan green bean yang lebih bersih dan konsisten.

Penting: yang dikupas langsung adalah kulit/daging buah (cherry), bukan kulit tanduk. Kulit tanduk tetap melindungi biji selama fermentasi dan pengeringan, lalu baru dilepas saat hulling.

08/08/2026

🌱 Potensi Kemiri Indonesia: Dari Komoditas ke Industri dan Carbon Opportunity

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan kemiri (Aleurites moluccana), terutama di NTT, Sumatera, Sulawesi, dan NTB.

Kemiri tidak hanya bernilai sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki peluang hilirisasi menjadi:

🥜 Kemiri olahan
🛢️ Minyak kemiri
🧴 Kosmetik & oleokimia
🔥 Biomassa dari cangkang
🌳 Agroforestry & potensi carbon project

NTT menjadi salah satu wilayah yang menarik untuk dikembangkan melalui model:

Petani → Koperasi → Processing → Kemiri Oil → Export + Carbon Value

Tantangannya adalah meningkatkan produktivitas, kualitas, akses pasar, pengolahan pascapanen, serta membangun MRV dan traceability yang kredibel.

💡 Kemiri bukan sekadar komoditas—tetapi dapat menjadi bagian dari strategi hilirisasi, pemberdayaan petani, dan ekonomi rendah karbon Indonesia.

IRIGASI P***A BERBASIS PASARDi banyak tempat, irigasi p***a sering berhenti sebagai proyek. Mesin datang, air mengalir s...
06/08/2026

IRIGASI P***A BERBASIS PASAR

Di banyak tempat, irigasi p***a sering berhenti sebagai proyek. Mesin datang, air mengalir sebentar, lalu sunyi. Solar habis, suku cadang sulit, dan kelompok tani kembali menunggu bantuan berikutnya.

Namun pengalaman TIRTA – Tertiary Irrigation Technical Assistance dalam kerangka AIP-Rural (DFAT) https://lnkd.in/gnTCk58z menunjukkan arah berbeda. Program ini tidak semata membangun infrastruktur, melainkan membangun pasar. Penyedia p***a dilibatkan. Mekanik lokal diperkuat. Kelompok tani didorong menerapkan skema biaya operasi dan pemeliharaan.

Pendekatannya sederhana tetapi fundamental: irigasi harus punya insentif ekonomi agar bertahan.

Laporan tahunan AIP-Rural bahkan mencatat investasi mitra melampaui komitmen awal—indikasi bahwa model ini layak secara komersial. Di sejumlah lokasi, intensitas tanam meningkat, diversifikasi terjadi, dan pendapatan petani naik.

Pelajaran terbesarnya jelas: keberlanjutan tidak lahir dari subsidi, tetapi dari sistem.

Tanpa rantai pasok suku cadang.
Tanpa kontrak layanan pemeliharaan.
Tanpa disiplin iuran O&M.

P***a hanya menjadi monumen.

Reformasi irigasi nasional perlu bergerak dari logika proyek menuju logika pasar-terkatalisasi. Dari belanja modal menuju insentif jangka panjang. Dari ketergantungan menuju kemandirian.

Karena pada akhirnya, air memang mengalir dari sungai.
Tetapi keberlanjutan mengalir dari sistem yang dirancang dengan benar.



Selama lebih dari 25 tahun, Indonesia telah menerima puluhan program pengembangan kakao dari pemerintah, donor internasi...
05/08/2026

Selama lebih dari 25 tahun, Indonesia telah menerima puluhan program pengembangan kakao dari pemerintah, donor internasional, LSM, lembaga riset, universitas, perusahaan cokelat global, hingga lembaga pembiayaan. Ada program seperti GERNAS Kakao, SUCCESS Alliance, SCPP (Sustainable Cocoa Production Program) senilai sekitar US$55 juta, berbagai inisiatif World Bank, IFC, Swisscontact, Rainforest Alliance, Mars, Cargill, Barry Callebaut, Mondelez, Nestlé, IDH, IFAD, MCA-Indonesia, hingga proyek terbaru INDOCACAO. Program-program tersebut melatih ratusan ribu petani, memperkenalkan praktik budidaya, sertifikasi, traceability, pembiayaan, dan kemitraan.

Namun, ketika harga kakao dunia melonjak, mengapa Indonesia justru belum mampu memanfaatkan momentum itu secara optimal?

Ini bukan berarti semua program tersebut gagal. SCPP, misalnya, melaporkan peningkatan produktivitas, pendapatan petani, serta pembangunan kapasitas bagi lebih dari 165.000 petani.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:

Mengapa keberhasilan berbagai proyek belum bertransformasi menjadi keberhasilan sektor kakao nasional?

Apakah karena:

Program masih berjalan secara parsial dan berbasis proyek?
Keberhasilan berhenti ketika pendanaan berakhir?

Terlalu banyak pelatihan, seminar, workshop, dan pilot project, tetapi terlalu sedikit investasi besar untuk peremajaan kebun?

Regenerasi petani belum berjalan.

Benih unggul, pembiayaan, penyuluhan, dan akses pasar belum terintegrasi.

Tidak ada satu "National Cocoa Transformation Roadmap" yang menyatukan seluruh pemangku kepentingan dengan target yang terukur.

Yang dibutuhkan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar lebih banyak workshop.

Yang dibutuhkan adalah lebih banyak kebun yang diremajakan, lebih banyak bibit unggul yang ditanam, lebih banyak petani muda yang terlibat, lebih banyak digital traceability yang diterapkan, dan lebih banyak investasi langsung di tingkat petani.

Sudah saatnya keberhasilan diukur bukan dari:

Berapa banyak seminar diselenggarakan.
Berapa banyak peserta dilatih.
Berapa banyak laporan yang diterbitkan.

Melainkan dari indikator yang benar-benar mencerminkan transformasi sektor:

Berapa hektare kebun yang diremajakan.
Berapa ton produktivitas yang meningkat.
Berapa persen pendapatan petani bertambah.
Berapa volume ekspor dan nilai tambah yang meningkat.
Berapa banyak petani yang mampu memenuhi standar EUDR dan pasar premium.

Indonesia pernah menjadi salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Potensinya masih sangat besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki cukup program, tetapi apakah kita memiliki keberanian untuk mengubah cara kita membangun sektor kakao.

**Saatnya berpindah dari project-oriented menjadi impact-oriented. Dari menghitung kegiatan menjadi menghitung perubahan nyata di kebun petani.**
https://lnkd.in/gJCjsjsm

Perdagangan Karbon Indonesia: Apa yang Perlu Diketahui? 🇮🇩🌱Indonesia terus memperkuat ekosistem perdagangan karbon melal...
10/07/2026

Perdagangan Karbon Indonesia: Apa yang Perlu Diketahui? 🇮🇩🌱

Indonesia terus memperkuat ekosistem perdagangan karbon melalui Perpres No. 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK), didukung oleh regulasi OJK dan Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon).

Beberapa poin penting:

✅ SRUK (Sistem Registri Unit Karbon) menjadi sistem resmi pencatatan seluruh unit karbon.

✅ POJK No. 10 Tahun 2026 mengatur bahwa seluruh unit karbon yang diperdagangkan di bursa harus terdaftar di SRUK.

✅ Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan menetapkan metodologi, baseline, serta sistem MRV (Monitoring, Reporting, Verification) untuk memastikan integritas kredit karbon.

✅ IDXCarbon menjadi platform resmi perdagangan karbon domestik dengan pengawasan OJK.

Bagi pengembang proyek agroforestry kopi dan kakao, hal ini berarti:

🌳 Mendaftarkan proyek ke SRUK.
📍 Menerapkan metodologi dan sistem MRV yang diakui.
💰 Menentukan strategi pemasaran kredit karbon (domestik atau internasional).
⚖️ Menghindari double counting dengan klaim keberlanjutan lainnya, termasuk EUDR.

Ke depan, proyek agroforestry yang dirancang sesuai regulasi nasional akan memiliki peluang lebih besar untuk menarik investasi, meningkatkan pendapatan petani, dan mendukung target Net Zero Emissions Indonesia.

Indonesia's Untapped Carbon Opportunity: Bamboo, Rubber, and CocoaIndonesia is home to some of the world's largest natur...
09/07/2026

Indonesia's Untapped Carbon Opportunity: Bamboo, Rubber, and Cocoa

Indonesia is home to some of the world's largest natural climate assets. Beyond its tropical forests, three commodities—bamboo, rubber, and cocoa—offer tremendous opportunities to generate carbon credits while improving smallholder livelihoods.

🌿 Bamboo https://lnkd.in/gTUZAZDi

- Approximately 2 million hectares across natural forests and community-managed landscapes.
- Carbon sequestration potential: 10–30 tCO₂e/ha/year.
- One of the fastest-growing plants on Earth, making it an exceptional nature-based carbon solution.

🌳 Rubber https://lnkd.in/g3e5pvu3

- Around 3.3–3.8 million hectares, with more than 90% managed by smallholder farmers.
- Carbon sequestration potential: 8–15 tCO₂e/ha/year.
- Integrating rubber into agroforestry systems can significantly increase carbon storage while enhancing biodiversity.

🍫 Cocoa https://lnkd.in/gJCjsjsm

- Approximately 1.3–1.4 million hectares, predominantly cultivated by smallholders.
- Carbon sequestration potential: 5–12 tCO₂e/ha/year under agroforestry systems.
- Farmers can benefit from both cocoa production and carbon credit revenues, creating a more resilient and sustainable business model.

If just 20% of these landscapes were developed under internationally recognized carbon standards, Indonesia could generate tens of millions of tonnes of CO₂e annually, unlocking billions of dollars in green investment while strengthening rural economies.

As global demand for high-integrity nature-based carbon credits continues to grow, Indonesia has a unique opportunity to position itself as a global leader in climate-smart agriculture, agroforestry, and sustainable carbon markets.

The future of carbon finance is not only in forests—it is also growing in Indonesia's bamboo groves, rubber plantations, and cocoa farms.

Address

South Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when William Bere Ati posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share