05/08/2026
Selama lebih dari 25 tahun, Indonesia telah menerima puluhan program pengembangan kakao dari pemerintah, donor internasional, LSM, lembaga riset, universitas, perusahaan cokelat global, hingga lembaga pembiayaan. Ada program seperti GERNAS Kakao, SUCCESS Alliance, SCPP (Sustainable Cocoa Production Program) senilai sekitar US$55 juta, berbagai inisiatif World Bank, IFC, Swisscontact, Rainforest Alliance, Mars, Cargill, Barry Callebaut, Mondelez, Nestlé, IDH, IFAD, MCA-Indonesia, hingga proyek terbaru INDOCACAO. Program-program tersebut melatih ratusan ribu petani, memperkenalkan praktik budidaya, sertifikasi, traceability, pembiayaan, dan kemitraan.
Namun, ketika harga kakao dunia melonjak, mengapa Indonesia justru belum mampu memanfaatkan momentum itu secara optimal?
Ini bukan berarti semua program tersebut gagal. SCPP, misalnya, melaporkan peningkatan produktivitas, pendapatan petani, serta pembangunan kapasitas bagi lebih dari 165.000 petani.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa keberhasilan berbagai proyek belum bertransformasi menjadi keberhasilan sektor kakao nasional?
Apakah karena:
Program masih berjalan secara parsial dan berbasis proyek?
Keberhasilan berhenti ketika pendanaan berakhir?
Terlalu banyak pelatihan, seminar, workshop, dan pilot project, tetapi terlalu sedikit investasi besar untuk peremajaan kebun?
Regenerasi petani belum berjalan.
Benih unggul, pembiayaan, penyuluhan, dan akses pasar belum terintegrasi.
Tidak ada satu "National Cocoa Transformation Roadmap" yang menyatukan seluruh pemangku kepentingan dengan target yang terukur.
Yang dibutuhkan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar lebih banyak workshop.
Yang dibutuhkan adalah lebih banyak kebun yang diremajakan, lebih banyak bibit unggul yang ditanam, lebih banyak petani muda yang terlibat, lebih banyak digital traceability yang diterapkan, dan lebih banyak investasi langsung di tingkat petani.
Sudah saatnya keberhasilan diukur bukan dari:
Berapa banyak seminar diselenggarakan.
Berapa banyak peserta dilatih.
Berapa banyak laporan yang diterbitkan.
Melainkan dari indikator yang benar-benar mencerminkan transformasi sektor:
Berapa hektare kebun yang diremajakan.
Berapa ton produktivitas yang meningkat.
Berapa persen pendapatan petani bertambah.
Berapa volume ekspor dan nilai tambah yang meningkat.
Berapa banyak petani yang mampu memenuhi standar EUDR dan pasar premium.
Indonesia pernah menjadi salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Potensinya masih sangat besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki cukup program, tetapi apakah kita memiliki keberanian untuk mengubah cara kita membangun sektor kakao.
**Saatnya berpindah dari project-oriented menjadi impact-oriented. Dari menghitung kegiatan menjadi menghitung perubahan nyata di kebun petani.**
https://lnkd.in/gJCjsjsm