14/12/2013
Hama penghisap buah lada, mengapa harus dikendalikan
Hama penghisap buah lada (Dasynus piperis) atau yang biasa dikenal dengan berbagai nama seperti kepik, kepinding, walangsangit menjadi salah satu hama penting yang membuat petani lada menjadi geram, karena kehilangan produksi akibat serangan hama ini dapat mencapai 14% bahkan mencapai 36% bila serangan berat. Serangan hama tertinggi terjadi pada saat buah lada berumur 4-9 bulan yang merupakan sumber makanan hama yang paling disukai. Pada periode umur buah lada tersebut, serangga betina dapat hidup lebih lama, bertelur lebih banyak, persentase telur menetas lebih tinggi yang kemudian menjadi imago.
Fluktuasi populasi hama tidak begitu dipengaruhi oleh iklim (curah hujan, kelembaban dan temperatur) namun lebih ditentukan oleh tersedianya kualitas makanan dan musuh alaminya.
Bagaimana strategi pengendalian hama penghisap buah lada agar mutu lada meningkat
Dalam upaya meningkatkan mutu lada Indonesia, sehingga dapat bersaing dalam perdagangan lada di pasar dunia maka segala faktor penyebab rendahnya mutu lada, diantaranya serangan hama penghisap buah harus dikendalikan hingga tuntas. Strategi pengendalian yang dapat diterapkan oleh petani antara lain:
a.) Kultur teknis: pembersihan gulma tidak dilakukan total, tetapi hanya sekitar tanaman (piringan), karena gulma masih mempunyai peranan menjamin tersedianya madu dan nektar bagi kelangsungan hidup parasitoid hama. Pada akhir panen dilakukan rampasan buah (± buah tinggal 5%) untuk meniadakan sumber makanan yang disukai oleh hama.
b.) Menanam varietas lada yang hanya berbuah 1 kali setahun, jangan tanam lada varietas Chunuk yang berbuah sepanjang tahun untuk memutus siklus hama.
c.) Penggunaan musuh alami berupa parasitoid telur seperti Anastatus dasyni Ferr, Gryon homoeoceri Nix, Oeencyrtus malayaensis Ferr, mampu memparasitoid telur hama hingga 10-88% di Bangka. Bunga Arachis pintoi merupakan salah satu sumber nutrisi bagi musuh alami tersebut. Namun penutup tanah tersebut perlu dikelola secara baik sehingga fungsi konservasi musuh alami menjadi lebih efektif. Konservasi parasitoid dengan melakukan penyiangan terbatas lebih dianjurkan daripada penyiangan bersih.
d.) Penyemprotan dengan suspensi spora jamur Spicaria sp.dan Beauveria bassiana mampu membunuh nimfa dan imago 60-100% dua minggu setelah perlakuan. Jamur dapat diperbanyak dengan media jagung/beras, biaya murah, mudah dibiakkan dan tidak ada efek samping. Setiap hektar kebun diperlukan 1-2 kg biakan jamur yang dilarutkan dalam 300-450 lt air, disaring kemudian disemprotkan ke tanaman. Kematian hama terjadi pada hari ke-4 dan meningkat pada hari-hari berikutnya. Selain itu dapat juga dengan menggunakan insektisida nabati seperti ekstrak nimba dan akar tuba.
e.) Penyemprotan dengan insektisida kimiawi menjadi alternatif terakhir dan dilaksanakan apabila populasi hama sudah di atas ambang toleransi serta musuh alami tidak mampu mengendalikan serangan hama. Penyemprotan dapat dilakukan 2-3 kali dengan interval waktu 1-2 bulan sekali. Contoh insektisida sintetis (bahan aktif) yang dapat digunakan seperti MIPC, BPMC, pyretroid, methamidophos, betacyfluthrin dan fention.