30/06/2026
Mengapa dalam Al Qur’an Allah Mengisahkan Kaum Nabi Lut Berkali Kali? Mengapa Bukan Sekadar Melarang, Tetapi Juga Mengajak Kembali kepada Fitrah?
“Dan (Kami juga telah mengutus) Lut ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu?’”
(QS. Al-A’raf: 80)
Mengapa Allah mengulang kisah Nabi Lut dalam banyak surah?
Mengapa bukan sekali saja?
Mengapa Allah tidak hanya mengatakan,
“Jangan lakukan.”
Tetapi Allah menceritakan awalnya…
Prosesnya…
Penolakannya…
Hingga akibat akhirnya.
Karena Allah ingin manusia belajar.
Bukan sekadar mengetahui hukum.
Tetapi memahami mengapa fitrah harus dijaga.
Allah Menciptakan Pasangan dengan Hikmah
Sejak awal penciptaan, Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Adam dan Hawa.
Bukan Adam dan Adam.
Bukan Hawa dan Hawa.
Allah berfirman,
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengambil pelajaran.”
(QS. Adz-Dzariyat: 49)
Dan Allah berfirman,
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenangan darinya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Dalam pandangan Islam, hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan merupakan bagian dari fitrah yang Allah tetapkan.
Mengapa Kaum Nabi Lut Diazab?
Al-Qur’an tidak menggambarkan bahwa mereka diazab hanya karena adanya godaan atau kecenderungan.
Yang diceritakan Al-Qur’an adalah mereka menjadikan perbuatan itu sebagai praktik yang dilakukan secara terang-terangan, menolak dakwah Nabi Lut, dan terus membangkang kepada Allah.
Allah berfirman,
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwat, bukan kepada perempuan? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.”
(QS. Al-A’raf: 81)
Dalam surah-surah lain, Al-Qur’an juga menggambarkan penolakan mereka terhadap nasihat Nabi Lut dan keberlanjutan kemaksiatan tersebut.
Pelajarannya adalah bahwa kemaksiatan yang dinormalisasi dan pembangkangan terhadap petunjuk Allah membawa akibat yang berat.
Bagaimana Hukum Islam Memandang Perbuatan Ini?
Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa hubungan seksual sesama jenis termasuk perbuatan yang diharamkan dalam syariat Islam.
Mereka berdalil dengan ayat-ayat tentang kaum Nabi Lut dan sejumlah hadits Nabi ﷺ.
Namun, para ulama juga memiliki perbedaan pendapat mengenai rincian bentuk hukuman yang diterapkan dalam sistem peradilan Islam. Ada yang mengqiyaskan dengan zina, ada yang berpendapat adanya hukuman ta’zir dalam kondisi tertentu, dan ada pendapat lain berdasarkan ijtihad masing-masing mazhab. Semua itu merupakan ranah otoritas hakim dan negara yang menerapkan syariat, bukan tindakan individu.
Dengan kata lain, Islam melarang perbuatan tersebut, tetapi pelaksanaan hukuman tidak boleh dilakukan oleh masyarakat secara sepihak.
Yang Sering Terlupakan
Sebelum berbicara tentang hukuman…
Al-Qur’an lebih dahulu berbicara tentang taubat.
Allah tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin kembali.
Allah berfirman,
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini tidak mengecualikan dosa tertentu.
Selama seseorang masih hidup dan benar-benar bertaubat, pintu rahmat Allah tetap terbuka.
Jika Engkau Sedang Bergumul dengan Godaan
Mungkin ada seseorang yang membaca tulisan ini sambil berkata dalam hati,
“Aku tidak pernah meminta memiliki godaan ini.”
Islam mengajarkan bahwa manusia diuji dengan cara yang berbeda-beda.
Ada yang diuji dengan amarah.
Ada yang diuji dengan harta.
Ada yang diuji dengan syahwat.
Yang dinilai Allah bukan sekadar ujian yang datang.
Tetapi bagaimana seseorang menyikapinya.
Jika engkau sedang berjuang menahan diri dari sesuatu yang Allah haramkan, jangan berputus asa.
Perbanyak doa.
Dekatkan diri kepada Al-Qur’an.
Carilah lingkungan yang saleh.
Jika engkau membutuhkan bantuan, mintalah bimbingan kepada ulama atau pembimbing yang amanah dan terpercaya.
Sebagian orang juga memilih melakukan ruqyah syar’iyyah sebagai bentuk doa dan ikhtiar spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ruqyah dapat menjadi bagian dari ikhtiar ibadah, namun tidak boleh dipandang sebagai terapi yang pasti mengubah setiap kecenderungan. Perubahan hati dan perilaku adalah proses yang memerlukan kesungguhan, doa, dan pertolongan Allah.
Keajaiban Al Qur’an
Menakjubkannya…
Al-Qur’an tidak hanya menceritakan bagaimana sebuah kaum binasa.
Al-Qur’an juga menunjukkan jalan agar kaum setelahnya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Allah tidak menurunkan kisah Nabi Lut untuk menumbuhkan kebencian kepada manusia.
Allah menurunkannya agar manusia mencintai fitrah yang telah Dia tetapkan.
Karena ketika fitrah dijaga…
Keluarga terjaga.
Keturunan terjaga.
Masyarakat terjaga.
Dan yang paling penting…
Hubungan seorang hamba dengan Rabbnya tetap terjaga.
Renungan
Tidak ada dosa yang menjadi lebih besar daripada rahmat Allah bagi orang yang benar-benar kembali.
Jangan menunggu hingga hati menjadi keras.
Jangan menunggu hingga kemaksiatan terasa biasa.
Dan jangan menunggu hingga ajal datang tanpa sempat bertaubat.
Allah tidak memanggil manusia yang sempurna.
Allah memanggil manusia yang ingin kembali.
Karena kemenangan terbesar bukanlah ketika seseorang berkata,
“Inilah diriku dan aku tidak akan berubah.”
Kemenangan terbesar adalah ketika seseorang berkata,
“Ya Allah, inilah kelemahanku. Maka bimbinglah aku kembali kepada fitrah yang Engkau cintai.”
Dan bagi Allah, tidak ada hati yang terlalu jauh untuk dipulangkan kepada-Nya.