12/06/2020
Haji di Masa Pandemi,
Tiga Bulan Lamanya
TAHUKAH Anda, bahwa bila Anda memaksa tetap pergi haji di masa pandemi covid-19, maka durasi perjalanannya bisa mencapai hampir 3 bulan atau sekitar 82 hari. Kenapa demikian?
Kakanwil Kemenag Jatim Dr H Ahmad Zayadi MPd saat hadir dalam webinar ke-4 Ika-UINSA pada Jumat (12/6/2020) by zoom mengatakan hajinya bisa 82 hari semua jemaah harus mengikuti protokol kesehatan corona.
"Saat tiba di Asrama Haji, karantina 14 hari. Tiba di Saudi, karantina 14 hari. Lalu pulangnya harus karantina 14 hari. Ditambah durasi ibadah sebanyak 42 hari. Maka total nencapai 82 hari atau hampir 3 bulan," kata Kakanwil yg asli Brebes, Jateng ini.
Risiko penularan virus corona juga sangat tinggi. "Bisa dibayangkan, jemaah haji kita ini seringkali memilih tempat dan waktu yang afdol. Apa mungkin mereka tidak berdesakan saat tawaf, di arafah dan lempar jumrah," tandas Zayadi.
Oleh karena itu, kata Zayadi, keputusan Menteri Agama yang membatalkan keberangkatan haji itu adalah keputusan terbaik.
"Walaupun pahit, inilah keputusan yg tepat dan maslahat untuk semua," tandas mantan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren di Kemenag pusat.
Jemaah haji dari Jawa Timur yang batal berangkat haji tahun 1441 ini ada sebanyak 34.516 orang. Mereka kebanyakan bisa menerima keputusan Menteri Agama tentang pembatalan haji ini.
Kepala Kantor Kemenag Bangkalan H Abd Haris Hasan yang turut hadir pada webinar itu menjelaskan, bahwa mayoritas jemaah haji di wilayahnya menyatakan menerima dengan keputusan pembatalan haji. "Mereka bisa memahami dengan sabar dan tidak menarik uang pelunasan," katanya.
Isu tentang pembatalan haji ini memang sangat ditunggu masyarakat, karena masih ada sebagian yg masih ngotot untuk tetap haji. Namun karena waktu terbatas, penulis sebagai moderator harus menyimpulkan dari diskusi online ini.
Kesimpulan saya, pembatalan keberangkatan haji tahun 2020 ini akan menghindarkan kita semua dari 3T
1. Tinggi biayanya, karena pasti tiket pesawat akan naik sesuai dg aturan max 50% penumpang.
2. Tinggi risikonya, karena mayoritas jemaah berusia di atas 50 tahun.
3. Tinggi korbannya, karena tak mengkin menghindari penularan krn berdesakan. @ Surabaya, Indonesia