TernakRejeki

TernakRejeki Satu Sistem Lengkap Tumbuhkan Rejeki, Berbagi Manfaat Seluasnya

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI💬 Nanya Harga Terus HilangAda aja customer yang nanya detail panjang lebar. Ukuran, wa...
17/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

💬 Nanya Harga Terus Hilang
Ada aja customer yang nanya detail panjang lebar. Ukuran, warna, bahan, cara pakai, testimoni… semua ditanyain, semua kamu jawab sabar.
Pas ditanya harga, langsung… read doang.
Atau bilang, “mahal ya kak,” terus hilang.
Padahal kamu udah habisin waktu lumayan lama buat jelasin. Bikin mikir, “apa produkku kemahalan ya?” Padahal belum tentu. Bisa aja cuma iseng, lagi bandingin harga, atau budgetnya ga cukup.
Lebih ngeselin lagi, udah deal… eh ghosting.
Atau bilang “tunggu ya, aku tanya pasangan dulu,” terus ga balik lagi.
Jadi bingung… follow up atau diem aja?
Solusinya simpel:
Jangan terlalu banyak buang energi ke yang belum serius. Jawab seperlunya. Kasih FAQ biar mereka baca sendiri dulu. Kalau ghosting, follow up 1–2 kali aja, habis itu udah.
Fokus ke customer yang beneran niat beli.

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI🎤 Kebanyakan Ngomong, Nol EksekusiKamu rajin banget cerita rencana bisnis. Ke temen, k...
17/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

🎤 Kebanyakan Ngomong, Nol Eksekusi

Kamu rajin banget cerita rencana bisnis. Ke temen, keluarga, bahkan sosmed.
“Gue mau buka bisnis nih.”
“Idenya gede, untungnya pasti mantap.”

Masalahnya? Ngomong doang.
Bulan lewat, rencana masih itu-itu aja. Nggak ada action.

Kenapa bisa gitu?
Karena pas kamu cerita, otak udah dapet “hadiah”. Dipuji, divalidasi, disupport. Rasanya kayak udah sukses, padahal belum ngapa-ngapain. Akhirnya motivasi buat kerja benerannya malah turun.

Risiko lain: ide kamu dicuri orang yang lebih gercep.
Kamu cerita detail, mereka dengerin, lalu eksekusi. Kamu masih mikir, mereka udah jalan.

Belum lagi kebanyakan “saran” dari orang yang nggak paham bisnis. Bikin ragu, overthinking, ujung-ujungnya mandek.

Solusinya simpel: diam & jalan.
Nggak perlu ngumumin rencana. Fokus eksekusi. Cerita pas udah ada hasil.

Orang lebih respect sama:
“Bisnis gue udah jalan 3 bulan, omzet segini.”
Daripada:
“Gue mau buka bisnis, rencananya nanti…”

Less talk. More work.

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKISalah satu hal yang bikin bisnis mati pelan-pelan tanpa sadar:terlalu nurut sama custo...
15/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

Salah satu hal yang bikin bisnis mati pelan-pelan tanpa sadar:
terlalu nurut sama customer.

Iya, customer penting. Tapi kalau semua request diturutin, bisnis malah kehilangan arah. Ini yang disebut customer pleasing trap: apa pun diminta, kamu iyain. Akhirnya produk nggak jelas identitasnya, dan justru nggak ada yang bener-bener s**a.
Kenapa banyak owner kejebak?
Takut kehilangan customer, atau nggak punya visi yang kuat. Satu customer minta A diturutin, yang lain minta B juga diikutin. Bisnis jadi plin-plan.
Contoh nyata:
Catering sehat low carb & high protein. Targetnya jelas: orang fitness.
Lalu ada yang minta nasi ditambah → diturutin.
Ada lagi yang minta gorengan → diturutin.
Akhirnya? Menunya kayak catering biasa. Value “sehat”-nya hilang, core customer pergi.
Masalahnya, customer nggak selalu tau apa yang mereka butuhin. Mereka minta berdasarkan apa yang mereka kenal sekarang, bukan visi ke depan. Inovasi besar jarang lahir dari sekadar nurutin request.
Cara bedain feedback penting vs noise:
Banyak yang ngeluh hal sama → signal
Cuma segelintir → noise
Liat why-nya, bukan cuma apa yang diminta
Kalau bukan target market kamu, abaikan
Kalau nggak sejalan sama visi jangka panjang, berani nolak
Dengerin customer kalau soal kualitas, experience rusak, atau fungsi yang bermasalah.
Tapi ignore kalau request-nya ngerusak identitas brand.
Bisnis yang kuat itu bukan yang nyenengin semua orang, tapi yang jelas berdiri di mana.
Apple nggak bikin produk murah.
Hermes nggak diskon.
Mereka berani bilang “nggak”.
Lebih baik punya 100 customer loyal yang cinta brand kamu, daripada 1.000 customer yang isinya cuma minta kamu berubah.
Intinya:
Dengerin customer, tapi tetap pegang visi.
Bisnis bukan soal nurut, tapi soal konsisten.

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK TEJEKIProduk Jualan Ganti-Ganti, Bisnis TersendatBulan ini jual skincare, bulan depan ganti ...
13/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK TEJEKI

Produk Jualan Ganti-Ganti, Bisnis Tersendat

Bulan ini jual skincare, bulan depan ganti baju, bulan berikutnya beralih ke makanan. Tidak pernah bertahan di satu produk lebih dari tiga bulan.

Alasannya beragam: "Produknya sepi peminat," "Ikut-ikutan tren," atau sekadar bosan. Padahal, produk belum diberi waktu cukup untuk berkembang. Baru dua bulan langsung dinyatakan gagal dan diganti.

Akibatnya, setiap tahun berganti 5-6 produk berbeda tanpa satupun yang benar-benar stabil. Setiap ganti, Anda mulai dari nol lagi — audience baru, strategi baru, proses belajar baru.

Branding pun jadi kacau. Pelanggan bingung: "Toko ini jualan apa, sih?" Tidak ada yang melekat di ingatan mereka. Akhirnya tidak ada pelanggan tetap, hanya pembeli sekali atau malah tidak ada yang membeli karena dianggap tidak serius.

Sementara pesaing yang fokus pada satu niche, meski produknya biasa, justru jadi ahli di bidangnya dan mudah diingat pelanggan.

Solusinya:
Beri komitmen minimal satu tahun untuk satu produk atau niche. Beri waktu untuk berkembang, pelajari pasarnya, dan bangun audiens yang tepat.
Jika sudah berusaha maksimal dan memang tidak berkembang, baru dipertimbangkan untuk pivot.

Jika ingin menambah produk, pastikan masih terkait dengan produk utama. Jangan melompat terlalu jauh. Contoh: dari skincare ke makeup masih wajar, tetapi tiba-tambah ke sepatu — tidak nyambung. Audiens yang datang untuk skincare belum tentu butuh sepatu.

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKIUtang demi Gengsi dalam BerbisnisBanyak yang baru mulai bisnis langsung berusaha terli...
11/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

Utang demi Gengsi dalam Berbisnis

Banyak yang baru mulai bisnis langsung berusaha terlihat mapan dengan cara berutang untuk sewa kantor mewah, beli mobil operasional mahal, atau renovasi tempat yang berlebihan.

Padahal bisnis masih tahap awal, produk belum tentu laku, namun sudah fokus untuk pencitraan. Alhasil, modal habis untuk hal yang tidak mendesak, sementara dana untuk stok dan marketing justru kurang.

Ketika dibuka, ternyata pelanggan tidak sebanyak yang diharapkan. Pemas**an sedikit, namun cicilan dan biaya operasional terus berjalan. Dalam beberapa bulan, bisnis bisa terjebak dalam lingkaran setan utang—bahkan terpaksa berutang lagi untuk menutupi utang sebelumnya.

Padahal, pelanggan sebenarnya tidak peduli dengan kantor atau mobil yang dipakai. Mereka hanya peduli pada kualitas produk, harga wajar, dan pelayanan yang baik. Banyak bisnis sukses justru dimulai dari garasi rumah atau ruang sederhana, tanpa gengsi, tapi fokus pada nilai produk dan pengalaman pelanggan.

Sebelum berutang besar untuk hal yang sekedar ingin terlihat "wah", tanyakan pada diri sendiri: ini benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan? Jika hanya keinginan, tunda dulu. Fokuslah membuat bisnis berjalan dan profit dulu. Utang bisa menjadi alat yang membantu, atau justru bom waktu, tergantung penggunaannya.

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKINgapain Buka Toko Offline di Era DigitalMasih banyak yang ngerasa bisnis belum “resmi”...
09/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

Ngapain Buka Toko Offline di Era Digital

Masih banyak yang ngerasa bisnis belum “resmi” kalau belum punya toko fisik. Padahal online shop-nya udah jalan dan untung. Akhirnya maksa buka toko: sewa tempat, renov, beli isi, gaji pegawai. Keluar duit puluhan sampai ratusan juta.

Beberapa bulan kemudian? Toko sepi. Fixed cost jalan terus. Bisnis online yang tadinya stabil malah boncos buat nutup biaya toko.

Masalahnya bukan toko offline jelek, tapi timing dan strateginya salah. Perilaku customer udah berubah. Orang sekarang maunya praktis: belanja online, bandingin harga, baca review, tanpa ribet.

Toko fisik masih kepake, tapi buat produk tertentu: yang perlu dicoba atau dikonsultasi. Kalau produknya umum dan nggak perlu trial, biaya toko sering nggak sebanding sama traffic.

Kalau mau coba offline, jangan langsung sewa permanen. Test dulu lewat pop-up atau booth event. Liat respon, liat conversion. Kalau jalan, lanjut. Kalau enggak, stop tanpa rugi gede.

Atau pake model hybrid: showroom kecil buat lihat barang, transaksi tetap online. Lebih efisien, cost kepegang.

Jangan buka toko cuma karena gengsi. Bisnis itu soal untung, bukan soal kelihatan keren.

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI🤝 Hire Teman Sendiri Jadi BencanaButuh bantuan, lalu kepikiran: “hire teman aja, kan u...
02/02/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

🤝 Hire Teman Sendiri Jadi Bencana
Butuh bantuan, lalu kepikiran: “hire teman aja, kan udah kenal.”
Awalnya nyaman. Tanpa interview. Tanpa ribet.
Lama-lama masalah muncul.
Telat, kerja asal, sering absen.
Kalian ragu negur — takut merusak pertemanan.
Akhirnya dibiarkan.
Standar turun. Tim lain ikut santai.
Bisnis jadi korban rasa nggak enakan.
Mau evaluasi susah.
Mau pecat lebih susah lagi.
Diputus kerja, pertemanan ikut hancur.
Image kalian rusak, padahal masalahnya profesional.
Masalahnya bukan di temannya, tapi di batas yang nggak pernah dibuat.
Kalau tetap hire teman atau keluarga:
pisahkan urusan kerja dan perasaan.
Bikin aturan dan kesepakatan sejak awal.
Bisnis butuh kejelasan, bukan rasa sungkan.
Jangan korbankan bisnis demi jaga perasaan.

Join Komunitas Ternak Rejeki Cek di ternakrejeki.biz.id

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI💼 Karyawan Pertama yang Jadi BebanBisnis mulai rame. Capek ngerjain semua sendiri. Akh...
29/01/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

💼 Karyawan Pertama yang Jadi Beban
Bisnis mulai rame. Capek ngerjain semua sendiri. Akhirnya hire karyawan pertama — berharap hidup lebih ringan.
Tapi realita?
Malah tambah berat.
Ngajar dari nol. Diulang-ulang. Tetap salah.
Hari ini paham, besok lupa.
Dia salah, kalian yang beresin.
Effort lebih besar daripada ngerjain sendiri.
Akhirnya karyawan cuma pegang kerjaan receh.
Kerjaan inti balik ke kalian.
Fungsi minim, gaji tetap jalan.
Ada juga yang sebenarnya capable, tapi ekspektasi kalian kegedean.
Baru seminggu kerja, dituntut mikir kayak owner.
Arahan samar: “pokoknya gitu lah.”
Salah dimarahin, benar nggak diapresiasi.
Dia capek, resign.
Kalian hire lagi.
Siklus berulang.
Masalahnya bukan di karyawannya. Tapi di sistemnya.
Solusinya sederhana tapi sering di-skip:
jelasin peran, target, dan cara kerja sebelum hire.
Saat onboarding, kasih waktu belajar.
Jangan harap hasil instan.
Invest waktu di awal untuk training yang bener —
biar ke depannya kalian nggak terus jadi bottleneck bisnis sendiri.

Join Komunitas Ternak Rejeki Cek di ternakrejeki.biz.id

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI⚙️ Bisnis Tanpa SistemBisnis sudah jalan bertahun-tahun, karyawan sudah banyak.Tapi se...
28/01/2026

PENGALAMAN KOMUNITAS TERNAK REJEKI

⚙️ Bisnis Tanpa Sistem

Bisnis sudah jalan bertahun-tahun, karyawan sudah banyak.
Tapi semua aturan masih di kepala owner.

Nggak ada SOP. Nggak ada panduan.
Akhirnya semua nanya ke satu orang.
Owner jadi CS, manager, dan pemadam kebakaran.

Karyawan nggak mandiri. Owner kelelahan.
Bisnis yang cuma bisa jalan kalau owner hadir, itu bukan bisnis — itu pekerjaan pribadi.

Owner absen sehari, semuanya macet.
Keputusan pending. Customer terbengkalai.

Banyak yang nggak bikin sistem karena malas atau takut karyawan “jadi pintar”.
Padahal sistem bukan buat bocor keluar, tapi buat bikin bisnis jalan tanpa kamu.

Dengan sistem, karyawan baru bisa cepat produktif.
Ada yang resign? Nggak panik. Tinggal ganti orang, bukan ulang dari nol.

Tulis dulu prosesnya. Nggak harus sempurna.
Bisnis besar dibangun dari sistem, bukan dari kepala owner.

Join Komunitas Ternak Rejeki Cek di ternakrejeki.biz.id

Address

Jalan Kutisari Utara 1 No. 53
Surabaya
60291

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TernakRejeki posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to TernakRejeki:

Share