PerspekTif Integrated Solutions

PerspekTif Integrated Solutions Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from PerspekTif Integrated Solutions, Business consultant, Surabaya.

PerspekTif Integrated Solutions adalah lembaga pelatihan tersinergi untuk melengkapkan dan maksimalkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) sebagai individu dan organisasi agar bertumbuh, berkembang bersama, sesuai kebutuhan bisnis terkini.

28/06/2015

Anak Beruang

Dalam kehidupan kerja, pasti kita pernah menghadapi situasi terpepet, dimana karena keteledoran kita maka terjadi kesalahan, dan ketika kita tahu besarnya dampak kesalahan itu maka seringkali kita mencoba cuci tangan dan mencari orang lain sebagai kambing hitamnya. Apalagi ketika itu dilakukan oleh seorang pemimpin. Mari kita belajar dari kisah ini.

Seekor anak beruang s**a mencari-cari kesalahan, ia akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia menyalahkan teman dan orangtuanya.
"Aku jatuh karena Ayah meletakkan ember di sembarang tempat," kata beruang kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi.

Pada suatu hari, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya.
"Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan mengusir lebah-lebah itu !"
Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah merasa terusik dan menyerang anak beruang.
Melihat binatang kecil yang begitu banyak, anak beruang lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu ...dua ... tiga, lebah-lebah menghajar dengan sengatan. "Aduh...tolong ...!" Byur!! Anak beruang menceburkan diri kesungai.
Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.

"Mengapa Ayah tidak menolongku ? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah !" Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih.
"Anakku,apa yang kamu lihat dari kertas ini? Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak beruang.
Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam. "Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini ? Ada gambar titik hitam di kertas putih itu ! Anakku, mengapa kamu hanya rmelihat satu titik hitam padakertas putih ini ? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa mudahnya kamu melihat kesalahan Ayah ! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu."
Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.

Temans, mari kita belajar mengoreksi diri sendiri sebelum kita menyalahkan orang lain. Jangan hanya melihat sisi buruk suatu masalah, tetapi kita perlu juga melihat sisi baiknya.

Temans, Sebagai pemimpin tanpa kita sadari kebiasaan-kebiasaan kita akan menjadi standard bagi anggota tim kita, Bayangkan bila sebagian besar anggota tim memiliki kebiasaan saling menyalahkan seperti itu.

Untuk itu berhentilah menyalahkan orang lain, Evaluasi diri dan kemungkinan perbaikannya. Karena dengan cara itulah pertumbuhan diri kita dimulai.

Lebih semangat yuk !!

22/06/2015

Manusia bukan Beo

Sahabat sering kita temui seseorang yang ragu-ragu untuk menerima tanggung jawab memimpin karena merasa bahwa dia tidak memiliki keahlian. Namun dilain pihak kita temui pemimpin yang bonek karena walaupun tidak memiliki kemampuan tetapi terlalu Percaya Diri, sehingga ujung-ujungnya organisasi yang dipimpinnya amburadul.
Termasuk jenis pemimpin manakah Anda ?.
Type apapun Anda Mari kita bersama-sama belajar dari kisah ini.

Hiduplah seorang guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa orang murid, salah satu di antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru menyuruh muridnya yang gagu untuk turun gunung.
Sang guru berkata, "Besok, turun gununglah dan sebarkanlah ajaran Kebenaran yang telah kukabarkan kepada semua orang."

Muridnya yang gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas, "Maafkan saya Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran Guru, saya ini kan gagu. Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja yang tentu mampu membabarkan ajaran Guru dengan lebih baik?"
Sang Guru tersenyum dan meminta muridnya merasakan sebiji anggur yang diberikan olehnya. "Anggur ini manis sekali," tulis muridnya.
Sang Guru kembali memberikan sebiji anggur yang lain. "Anggur ini masam sekali," tulis muridnya.

Kemudian Gurunya melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun diberi anggur yang manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, "Masam...masam..."
Sang Guru menjelaskan pada muridnya, "Kebenaran bukanlah untuk dihafal, bukan p**a cuma untuk dipelajari, tapi yang terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Keterbatasan pada tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan batin kita. Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu, tapi tidak pernah mengetahui manisnya madu itu.
Kita jangan seperti beo yang pintar mengoceh, tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya.

Engkau memang tidak mampu berbicara dengan baik, tapi bukankah engkau bisa menyebarkan Kebenaran dengan cara-cara lain, misalnya menulis buku?
Dan yang lebih penting, bukankah perilaku kamu yang sesuai dengan Kebenaran akan menjadi panutan bagi yang lain?"

Temans, seorang pemimpin akan dilihat oleh konstituennya dari Nilai yang dia miliki (They are), yang tercermin dari perilakunya yang konsisten apapun kondisi yang dihadapinya, bukan dari perilaku sesaat (They do) atau sesuatu yang dimilikinya (They have).

08/06/2015

Ayah menolak Anak Kandungnya

Dalam kehidupan kerja sering kita temui beberapa orang yang terlalu bersikukuh dengan pendapatnya, dia menganggap cara berpikirnya yang paling benar, dan memberi stempel salah kepada apapun yang berbeda dari sesuatu yang dianggapnya benar, sehingga dia tertutup dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. Kisah ini mungkin akan membantunya menjadi lebih terbuka pikirannya, ketika kita menceritakan kepadanya.

Ada seorang pedagang yang hidup dengan anak laki-laki semata wayangnya, karena istrinya baru saja meninggal.
Sepeninggal istrinya, dia mencurahkan segenap perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Suatu ketika pedagang tersebut pergi ke luar kota untuk berdagang, anaknya ditinggal di rumah.
Ketika itulah Sekawanan bandit datang merampok desa tempat tinggal mereka. Para penjarah ini merampok habis harta benda, membakar rumah-rumah, dan bahkan menghabisi hidup penduduk yang mencoba melawan; rumah sang pedagang pun tak luput dari sasaran. Mereka bahkan menculik anak laki-laki sang pedagang untuk dijadikan budak.

Betapa terperanjatnya sang pedagang ketika ia p**ang dan mendapati rumahnya sudah jadi tumpukan arang. Dengan gundah hati, ia mencari-cari anak tunggalnya yang hilang. Ia menjadi frustrasi ketika mendapati banyak tetangganya yang terbantai dan mati terbakar. Di tengah kepedihan dan keputusasaan, ia menemukan seonggok belulang dan abu di sekitar rumahnya, di dekat tumpukan abu itu tergolek boneka kayu kesayangan anaknya. Yakinlah sudah ia bahwa itu adalah abu jasad anaknya. Meledaklah raung tangisnya. ia menggelepar-gelepar di tanah sembari meraupi abu jasad itu ke wajahnya. Satu-satunya sumber kebahagiaan hidupnya telah terenggut..

Musim berlalu. sang anak akhirnya berhasil meloloskan diri dari cengkeraman para penculiknya. Ia bergegas p**ang ke kampung halamannya. Sesampai di kediaman ayahnya, ia mengetuk pintu rumah sembari berteriak senang, "Ayah, ini aku p**ang!". Sang ayah yang waktu itu lagi tertidur di ranjangnya, terbangun mendengar suara itu. Ia berpikir, "Ini pasti ulah anak-anak nakal yang s**a meledekku itu!" "Pergi! Jangan main-main!" Mendengar sahutan itu, sang anak kembali berteriak, "Ayah! Ini aku, anakmu! Dari dalam rumah terdengar lagi, "Jangan ganggu aku terus! Pergi kamu!" Sang anak menggedor pintu dan berteriak lebih lantang, "Buka pintu ayah! Ini betul anakmu!"
Sang ayah terus bersikeras tidak membuka pintu. Sang anak pun akhirnya putus asa dan berlalu dari rumah itu..dengan hati pedih.

Sahabat, Sebagian orang begitu erat memegang apa yang mereka 'ANGGAP' sebagai kebenaran. Namun ketika Kebenaran Sejati betul-betul datang, belum tentu mereka membuka pintu hati mereka.

Happy working dan tetap semangat guys

04/06/2015

Email Pelamar

Pada jaman dimana sesuatu serba modern saat ini, kita kadang terkecoh antara sarana pencapaian keberhasilan dengan amunisi dasar keberhasilan. Anekdot ini mungkin dapat membantu kita membedakan mana syarat primer dan sekunder dalam mencapai keberhasilan

Seorang laki2 penganggur melamar sebagai tukang pembersih di Microsoft. Personalia mengetest dia (membersihkan lantai) dan menginterview. Lalu dia mengatakan:
"anda diterima, berikan email anda, kami akan mengirim dokumen yang diperlukan".
Laki2 itu bilang bahwa dia tidak memiliki komputer dan juga email. Personalia lalu mengatakan bahwa tanpa email, laki2 tersebut tidak exsist secara virtual dan tidak bisa dipekerjakan.

Laki-laki itu meninggalkan gedung dengan kecewa dan hanya memiliki $10 di kantong. Dia lalu pergi ke Supermarkt terdekat dan membeli 10 kg tomat. Lalu dijualnya tomat tersebut door to door dan habis dalam 2 jam. Dengan demikian dia melipat gandakan modal nya. Lalu diulangnya aksi tersebut sebanyak 3 kali dan akhirnya memiliki uang sebanyak $160.

Dengan itu dia sadar, bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara itu. Lalu dikerjakannya dengan sungguh2. Setiap hari dia dapat melipat gandakan modalnya. Setelah beberapa waktu dia membeli mobil dan mendistribusikan dagangannya dengan mobil tersebut. Dalam 5 tahun dia bisa menguasai Supermarket Chain terbesar di Amerika. Dia mulai memikirkan masa depan dan ingin membuat asuransi untuk keluarganya. Dipanggilnya sales asuransi dan membicarakan rencananya.

Seusai pembicaraan sales tersebut menannyakan email laki2 tersebut. Dia menjawab lagi, bahwa ia tidak memiliki komputer dan email address.
Sales tersebut berkata: "Aneh, anda membangun perusahaan besar, tapi tidak memiliki email. Bayangkan apa yang anda bisa perbuat jika anda memiliki komputer dan email.
Laki2 itu mejawab: "Jadi tukang bersih2 di Microsoft".

Sahabat, Sebagian dari kitapun masih melakukan kesalahan yang sama yaitu terlalu mendewa-dewakan sarana, seolah dengan memiliki email, mengoperasikan komputer dsbnya, pasti akan berhasil, dan yang sebaliknya pasti akan gagal.
Kita lupa ada hal yang lebih mendasar untuk mengantar kita menuju keberhasilan antara lain KERJA KERAS.

28/05/2015

NASI GOLENG PELJUANGAN

Ketekunan kunci keberhasilan, kata orang, namun apakah anda pernah merasa putus asa karena walaupun anda telah mengerjakan pekerjaan dengan tekun, tetapi mengapa nasibnya tetap seperti ini. Mari kita belajar dari anekdot kecil ini.

Ada seorang anak kecil, kira-kira klas enam SD, yang tidak bisa mengucapkan huruf “r” dengan jelas, hal itu cukup mengganggu dirinya, karena teman-teman s**a mengolok-oloknya.

Malam itu dia ingin membeli nasi goreng yang biasa lewat didepan rumahnya, karena penjual ini terkenal enak masakan nasi gorengnya. Ketika dia keluar rumahnya maka sudah banyak tetangga-tetangganya yang mengumpul akan membeli nasi goreng juga.
“Mas mau beli nasi goleng” katanya.
“Beli apa dik ? “ kata penjualnya
“Nasih goleng” “katanya….. semua yang ada disitu tertawa…. Pembeli lain iseng bertanya : “Beli apa ?” “ Nasi Goleng”….jawabnya sambil menahan malu.

Karena tidak kuat dengan olokan-olokan itu, maka dia lari masuk rumah, kemudian dia berlatih mengucapkan nasi goreng dengan benar.
Malam itu dia sudah bisa mengucapkan nasi goreng dengan benar, maka ketika penjual itu lewat, dia cegat dan mengatakan :
“ Mas beli nasi goreng” katanya, hebat kata penjual itu
“Nasi gorengnya yang biasa apa pakai telur dik…? “ tanya mas penjualnya
“Pakai telul” jawabnya. Mendengar kata telul, maka penjual dan orang-orang disekelilingnya tertawa mengejeknya. Kembali dia malu, dan lari masuk rumah, hari itu dia gagal lagi membeli nasi goreng.

Setelah berlatih keras dia bisa mengucapkan kata telur dengan baik.
“mas saya beli nasi goreng pakai telur” katanya, semua orang berdecak kagum melihat semangat belajarnya.
“Telurnya di ceplok apa di dadar dik…? “ tanya penjualnya
“ di dadal “ jawabnya, dan kembali di ejek dan menjadi bahan tertawaan orang disekitarnya, dan malam itu kembali dia lari masuk rumah, dan lagi-lagi gagal makan nasi goreng yang diidamkannya.

Setelah berlatih keras akhirnya dia bisa mengucapkan tiga kata itu.
Maka dengan gagah berani malam itu dia berkata : “ Mas beli Nasi goreng, pakai telur dadar” katanya. Maka tidak ada pilihan penjual nasi goreng itu segera memasaknya. Anak kecil ini sudah membayangkan betapa nikmatnya nasi goreng ini.

Ketika sudah selesai, maka sambil menyerahkan bungkusan nasi, penjual itu mengatakan bahwa harganya Rp. 9.500, dan anak itu memberikan uang 10.000. Kemudian dengan iseng dia bertanya “ Kembaliannya berapa dik?”
Anak ini berpikir keras bagaimana supaya dia tidak dipermalukan lagi, dan berhasil makan nasi goreng lezat yang sudah dipegangnya.
Maka dengan cerdik dia katakan “ Go-pek mas”. Akhirnya dia berhasil menikmati Nasi goreng perjuangannya.

Sahabat lengkapilah ketekunan anda dengan kecerdikan, kalau itu dilakukan maka keberhasilan akan segera anda raih.

26/05/2015

MANUSIA EMPAT WAJAH

Dalam berinteraksi di tempat kerja kita sering dibuat putus asa dengan beragamnya pendapat, yang bukannya saling melengkapi namun berdebat memburu benarnya sendiri, seringkali ini membuat kita emosi dan bertannya mengapa hal seperti ini bisa terjadi, cerita dibawah ini mungkin akan membantu kita memahami kecenderungan ini.

Di pagi subuh yang dingin, di suatu kompleks perumahan baru, yang sebagian besar dihuni keluarga-keluarga muda, nampak kehidupan baru akan dimulai. Di empat rumah yang berjejer, tampak pintu dan jendela sudah dibuka, dan penghuninya masing-masing pasang suami istri sedang membenahi rumah mereka.
Saat itu seorang pemuda melewati jalan yang disampinya berderet rumah-rumah itu, pemuda ini menarik perhatian keempat pasangan muda ini.

Di rumah no. 1: Sang suami berkomentar: "Rajin amat pemuda itu pagi-pagi sudah pergi ke mesjid, itu yang harus ditiru pemuda-pemuda sekarang." Bukannya molor saja pekerjaannya

Di rumah no. 2: Sang suami berkata kepada istrinya: "Lihat anak muda itu pagi-pagi sudah berangkat kerja, pasti kantornya di luar kota, sekarang ini kalau nggak diniati berangkat pagi seperti ini akan terkena macet, dan selisih waktu tempuhnya bisa 1 jam”

Di rumah no. 3: Sang istri berkomentar: "Jaman sekarang masih ada pemuda yang ulet ya, dia kelihatannya akan pergi ke pasar induk untuk membeli sayur, kemudian dijual lagi di kampung-kampung seperti juga ayah saya dahulu."

Di rumah no. 4: Sang istri tanpa berkomentar langsung menutup pintu dan jendela rumahnya, sambil berkata dengan tergesa-gesa: "Wah gawat kompleks kita sudah mulai dijarah preman, lihat pemuda itu. Dulu rumah orang tuaku pernah dirampok, walaupun hari sudah mulai terang seperti hari ini siap-siap pak !!!!."

Dan waktu berlalu tanpa kejadian yang aneh-aneh. Ketika keempat suami ini bersama-sama pergi ke kantor dengan satu mobil jemputan dariu perusahaannya, mulailah mereka menceritakan apa yang dilihatnya dengan versi keluarga masing-masing, dan saling mempertahankan asumsinya sendiri dengan sengit.

Setelah semua selesai berdebat mempertahankan versinya, si supir dari kursi depan sambil menengok kebelakang berkata: "Apa Pak yang diributkan…., Itu saya kok pak, berangkat pagi karena accu(aki) mobilnya 3 hari kemarin rewel……"

Dari cerita di atas bisa ditarik pelajaran bahwa: setiap orang cenderung menilai seseorang berdasarkan pengalaman masa lalunya, dan seringkali cara pandang ini digunakan untuk mempertahankan pendapatnya, bahkan mempengaruhi perilaku dan kebiasaannya.

Dari cerita ini maka himbauan saya adalah Cobalah dengan tulus melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, kalau itu kita lakukan maka hubungan antar pribadi kita dengan siapa saja berjalan dengan baik dan teamwork kita kokoh.

Selamat mencoba

21/05/2015

Kado Kotak Kosong

Suatu ketika kita pasti pernah merasakan, bagaimana hidup ini terasa hampa, semuanya terasa berjalan mekanistis. Biasanya terus diikuti oleh usaha untuk mencari “isi” hidup itu. Ada yang mengisinya dengan hal-hal yang bermakna, namun banyak p**a yang mengisinya dengan yang bersifat hedonis, memuaskan diri sendiri. Mana kecenderungan pilihan Anda ?.Mari kita belajar dari kisah nyata ini.

Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung.
"Untuk apa?" tanya sang ayah. "Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil.
"Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya,
"Pa, Pa ada hadiah untuk Papa."
Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab,
"Sudahlah nanti saja" Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa,Pa, bangun Pa, sudah siang."
“Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."
Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya. "Hadiah apa nih?"
"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka d**g Pa, buka sekarang."
Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga. "Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?"
Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu
buaanyaak ciuman untuk Papa."

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya.
"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu
menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !"
Sahabat, Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi ?

Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, namun di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong.

Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.
Kosong dan penuh - dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" kita sendiri.

Sebagaimana kita memandangi hidup demikianlah kehidupan kita.
Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya.
Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini
ibarat lembaran kertas yang kosong...........hampa

18/05/2015

Sepatu Si Bapak Tua

Seringkali kebahagiaan hanya diukur dari seberapa harta benda yang berhasil kita tumpuk di rumah kita, benarkah demikian ? Cerita ini mungkin dapat merubah cara berpikir itu.
Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat berebutan naik dan menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi. Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''
Karena Penasaran maka pemuda ini mengikuti Bapak tua ini turun di tempat tujuannya.
“Boleh diceritakan ke saya kenapa bapak tidak mencoba turun dan mengambil sepatu yang jatuh pak” Tanya anak muda ini.
“Anakku kebahagiaan hanya kita dapat kalau kita menjadi orang yang bebas dan merdeka. Yaitu mereka yang telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.” Jawabnya
“Bukankah kita harus mempertahankan hak milik kita” Sanggah pemuda ini.
Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Setelah Bapak tua ini pergi pemuda ini tercenung, dia telah mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga dari seorang Bapak tua yang sederhana ini.
Sahabat, Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah. Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.
Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.

13/05/2015

Tantangan

Kadang kita memiliki angan-angan untuk melakukan sesuatu, namun sudah menyerah sebelum kita melakukannya. Kemudian untuk menenangkan diri sendiri, kita menilai bahwa agan-angan itu terlalu tinggi, sehingga kita merasa wajar bila kemudian tidak melakukannya. Apakah saat ini kita menghadapi hal yang sama…? Cerita sederhana ini mungkin bisa menjadi pelajaran kita bersama.
Alkisah, sebuah desa di atas bukit dilanda musim kering enam tahun beturut-turut. Suasana desa terasa sedih, putus asa, dan merana. Di tepi desa, tinggal seorang lelaki setengah baya yang punya tiga anak pria dewasa. Namun semuanya pemalas, tak pernah mau mencari pekerjaan. Alasannya, di mana-mana susah, karena musim kering itu. Semua nasihat sang ayah hilang begitu saja. Mereka lebih s**a melamun dan tidur.
Di belakang bukit yang mengelilingi desa itu, ada sebuah desa sangat subur. Di tengahnya mengalir sungai yang tak pernah kering. Andai kata ada yang mampu memindahkan gunung, dan mengubah aliran sungai, desa itu bakal memiliki air cukup, dan tak akan lagi kekeringan. Namun di desa itu tak ada seorang pun yang berani berpikir untuk memindahkan sang gunung. Sesuatu yang tak mungkin.
Uniknya, lelaki setengah baya yang tinggal di tepi desa tadi akhirnya terpanggil untuk menyelesaikan tantangan yang tidak mungkin itu. Suatu hari, setelah fajar, sang lelaki membulatkan tekadnya. Ia mengambil pacul dan mulai berjalan ke gunung. Ia bekerja dari subuh hingga matahari tenggelam, tak kenal lelah. Mencangkul dan mencangkul.
Setelah seminggu ia bekerja, akhirnya anak-anaknya pun mulai memperhatikan ulah sang ayah. Ketika diceritakan bahwa sang ayah ingin memindahkan gunung, ketiga anaknya terbahak-bahak. Mereka menganggap ayahnya gila, dan mau melakukan hal yang tak mungkin. Sang ayah terdiam saja. Ia terus melanjutkan pekerjaannya dari hari ke hari. Sebulan kemudian, cerita ini menyebar ke seluruh desa. Sang lelaki itu kini malah dijuluki gila oleh semua warga desa.
Ketiga anak lelaki itu lama-lama malu dengan olokan warga desa. Hingga suatu hari mereka memutuskan membantu ayahnya. Sejak itu, keempat lelaki itu selalu berangkat subuh, dan mencangkul gunung hingga matahari tenggelam. Setelah beberapa bulan mereka bekerja, warga desa mulai melihat sebuah lubang besar digunung. Tak lama kemudian, seluruh desa ikut bergabung. Setahun lebih, gunung itu bolong. Air mengalir lewat terowongan. Desa itu tak pernah lagi garing.

Sahabat, Cita-cita dan angan-angan adalah roh. Tantangan adalah tubuh tempat roh bersemayam. Tanpa tantangan, roh itu hanya akan melayang-layang dan kehilangan wujudnya. Kalau Kita punya visi, cita-cita, dan angan-angan, jangan lupa menerjemahkannya menjadi tantangan yang bisa memotivasi keikutsertaan anggota tim Anda semua.

11/05/2015

Pianis Cilik

Sering orang mengabaikan potensi dirinya, ketika akan memulai sesuatu yang baru dihantui oleh pikirannya sendiri, misalnya : Suara hati yang mengatakan “Idemu tidak akan berhasil, karena tidak mudah melakukan itu, kalau itu mudah pasti telah banyak orang melakukannya”. Sebelum menyerah mari kita belajar dari pianis cilik ini.

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memas**an putranya tersebut kesekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu yang sangat singkat tiket konser telah terjual habis.
Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya. Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser mulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada disampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak bisa betah duduk diam terlalu lama, tanpa pengetahuan ayahnya ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai di redupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada disampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa rasa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, Twinkle2 Little Star.

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba2 lebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan seorang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis juga terkejut, bergegas naik keatas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata " Teruslah bermain", dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

Sang pianis lalu duduk, disamping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ketengah panggung. Tepuk tangan yang gemuruh terus terdengar semua berdecak kagum dengan keberanian anak kecil ini, juga kemampuan sang pianis mengimbangi dan mengisi kekurangan anak kecil ini

Sahabat, apa implikasinya dalam hidup kita ??? Pertama kadang kita perlu memiliki keberanian dan kepolosan anak kecil dalam meraih apa yang kita inginkan. Disisi lain kalaupun kita berhasil jangan lupa...bahwa semua itu terjadi karena Orang lain yang membantu kita. Marilah kita mulai menghargai orang lain jangan pernah mengatakan bahwa kesuksesan itu hanya upaya kita semata.

10/05/2015

Melatih Gajah

Apa yang membelenggu langkah kita mencapai kesuksesan? Mengapa sebagian besar orang sering menganggap kegagalan adalah akhir dari segalanya? Mungkin mereka tidak memiliki cara atau pendekatan lain untuk menuntaskan apa yang tidak bisa mereka kerjakan. Kegagalan hanyalah peringatan bahwa kita harus mencoba menyelesaikan masalah kita dengan cara lain. Jalan menuju kesuksesan selalu dipenuhi dengan kegagalan. Orang yang sukses adalah mereka yang telah menghadapi begitu banyak kegagalan. Setujukah anda? Cerita ini mungkin dapat mengilustrasikannya?

Tahukah Anda Bagaimana seorang pelatih gajah melatih gajah-gajahnya?
Begini caranya: ketika seekor gajah masih kecil, pelatih akan mengikat gajahnya dengan tali yang panjangnya sekitar 1,5 meter dan mengikat kuat ujung tali itu dengan pasak yang menancap kuat di tanah.
Gajah akan selalu berusaha untuk berontak tapi tidak mampu karena dia masih kecil dan tidak mempunyai kekuatan. Ia akan terus mencoba dan berusaha tapi selalu gagal. Kemudian tibalah pada satu titik di mana gajah itu tidak akan mencobanya lagi.
Bertahun-tahun kemudian ketika gajah itu tumbuh dengan sempurna, tapi gajah itu tidak akan berusaha melepaskan diri dari rantai-rantai yang membelenggu kakinya karena ia mengira bahwa itu tindakan yang percuma. Ia telah gagal beberapa kali sebelumnya mencoba melepaskan diri.
Ironisnya, ia mempunyai kekuatan memindahkan batang kayu besar. Sesungguhnya dia bisa melepaskan diri dari rantai itu hanya dengan satu gerakan ringan saja, tapi pikirannya telah terbelenggu, trauma sehingga ia tidak berusaha untuk mencobanya lagi.

Sahabat Masa depan tidak sama dengan masa lalu. Kita mungkin mengalami banyak kegagalan sebelumnya tapi hari ini ada lembaran baru dan semuanya menjadi mungkin jika kita mempunyai keberanian untuk mencoba sekali lagi, belajarlah dari masa lalu dan menujulah masa depan dengan penuh keyakinan. Yang lalu biarlah berlalu dan kita telah membayarnya. Sebagai konsekuensinya kita tidak harus menebusnya lagi.
Tentukan rencana baru dan hilangkan ketakutan dari pikiran kita dan teruskan langkah kita.

Selamat berlibur

Address

Surabaya
60254

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PerspekTif Integrated Solutions posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to PerspekTif Integrated Solutions:

Share