12/05/2020
RAMALAN YANG GAGAL UNTUK INDONESIA
KETIKA RAMALAN GAGAL maka akan diciptakan ramalan lain. Ketika sinisme gagal, akan dilahirkan sinisme lain p**a. Begitu kira-kira habit segolongan orang. Seperti John Naisbitt dalam Megatrends yang meramal Indonesia akan terpecah lebih dari 25 bagian pada tahun 2000, menjadi negara2 kecil. Ramalan itu gagal, namun toh waktu itu lebih dari 2 dekade lalu digandrungi sekian orang kritis. Alhamdulillah saya tidak mempercayai atas dasar pandangan ilmu sosial saya.
Sama seperti Naisbitt, beberapa bulan lalu, mereka mengeroyok dengan ramalan bahwa Indonesia akan mengalami eskalasi Covid 19 yang mengerikan. Simulasi matematis meramalkan negeri ini akan mencapai ratusan ribu positif Covid19 dalam hitungan bulan, bahkan tembus satu juta. Namun ramalan itu gagal. Saya pernah menulis artikel pendek di sini dengan judul 'Indonesia Tidak Selemah Anumu". Prediksi atas dasar keilmuan sosial.
Simulasi tim saya dengan pendekatan model interaksi sosial lebih tepat, puncak eskalasi gelombang pertama ada di angka 14an ribuan secara nasional. Statistik mingguan menunjukkan ada penurunan kasus secara rata-rata nasional ketika kasus mencapai 12an ribu. Jumlah ini tetap saja menjadi konsern besar, maka upaya tes PCR terus ditingkatkan sesuai target. Selain itu penanganan medis terus dikembangkan. Oleh karenanya jumlah kasus sembuh terus meningkat dengan perbandingan 21% sembuh dan 7% wafat, dan tentu harus terus ditingkatkan pada level paling ideal.
Mengapa Indonesia mampu menahan laju kasus Covid 19? Sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya 'Indonesia Tidak Selemah Anumu' bahwa perilaku sosial masyarakat Indonesia tidak bisa disamakan dengan masyarakat negara lain, dan tidak p**a bisa disamakan dengan rumus matematika yang buta konteks sosial.
Ketika Presiden Joko Widodo memberi nilai kehidupan di tengah pandemi 'Berdamai dengan Wabah Covid 19', segolongan Naisbitt beramai meramalkan sepaket dengan sinisme bahwa Indonesia sedang mengorbankan rakyatnya. Sekali lagi, saya menyatakan bahwa ramalan beserta sinisme tersebut adalah ba**litas akut yang emosional. Saya baca tidak ada landasan metodologis yang tepat. Lagi-lagi hitungan matematis berlaku.
Kekhawatiran boleh saja, karena dari situ manusia meningkatkan kewaspadaan. Namun meramalkan secara serampangan adalah sikap tidak sehat yang menyakiti tatanan sosial dalam negara bangsa. Ramalan mengerikan dan sinisme dibawa pada konklusi politis bahwa negara tidak hadir. Ini konklusi kekanakan. Ibarat anak-anak yang marah pada orang tua dengan berteriak "Mommy tidak sayang aku lagi!" Hanya karena ada beberapa hal kesalahan kemudian seluruh cinta Mommy disebut sirna. Jika negara tidak hadir sudah dipastikan saat ini kondisi bangsa akan ditandai oleh kengerian. Tidak ada pasien sembuh, dan anomi kematian dimana-mana.
Berdamai dengan Covid 19 menyandarkan pada beberapa hal, yaitu sistem respon Covid 19 dari pemerintah dan model perilaku sosial kesehatan masyarakat Indonesia. Keduanya tidak akan sempurna namun memiliki kekuatan. Pemerintah terus menjalankan sistem tersebut, dan masyarakat dengan habit sosial kesehatannya menciptakan benteng pertahanan penularan. Resiprositas negara dan masyarakat Indonesia itu terbaik. Lebih baik dibandingkan AS sekalipun.
Fakta bahwa obat dan vaksin masih cukup lama, diprediksi paling cepat Mei 2021, dan keharusan menjaga keberlanjutan hidup mengharuskan kita masuk pada new normal. Indonesia adalah bangsa yang mudah menyerap new normal.
Jadi, ramalan dan sinisme ala Naisbitt kita jadikan sebagai reminder, alert system, agar resiprositas negara dan masyarakat makin kuat dan menyelamatkan. Sisanya, mugi Gusti Allah pinaring welas asih untuk dunia dan Indonesia.
(NS, di sudut kesunyian)
#200610