Sketsa Jiwa &Terapi

Sketsa Jiwa &Terapi Melayani tentang kosultasi masalah psikologis, yang mengacu pada aspek spiritual-kerohanian. Dengan metode past life tracking dan sketsa jiwa.

Serta membantu merumuskan potensi diri dengan telisik past life tracking, past life regression, sketsa jiwa, d

Forest Theraphy WebinarRahaisa Pengembuahan Alam dalam Kebudayaan NusantaraMas Tunjung (Javanese Healer)dr. Lisa Kurnia ...
01/09/2024

Forest Theraphy Webinar
Rahaisa Pengembuahan Alam dalam Kebudayaan Nusantara

Mas Tunjung (Javanese Healer)
dr. Lisa Kurnia Sari, SpPD-KR (Doketer Spesialis Penyakit Dalam)
C.W.Adinugroho S.Psi.,M.Psi.,Psikolog (Psikolog)

Senin, 2 Spetember 2024
Pukul 19.00 WIB
https://bit.ly/ForestTherapyWebinar

Zoom meeting
IDR 100.000

Spesial voucher diskon Forest Theraphy di Hutan Sapuangin Kawasan Taman Nasional Gn.Merapi, Jawa Tengah

Karma adalah anugerah bagi mereka yang telah menyusuri rute- rute agung di dalam dirinya. Karma adalah kendaraan canggih...
25/08/2024

Karma adalah anugerah bagi mereka yang telah menyusuri rute- rute agung di dalam dirinya. Karma adalah kendaraan canggih yang mengintegrasikan seluruh pengalaman dalam kehidupan. Tak ada karma tak ada kita, tak ada karma tak ada cerita tentang kita dan dunia ini. Karma adalah bagian dari piranti - piranti yang menyusun kendaraan canggih yang kita tempati, karma akan membawa kita pada segala kemungkinan pengalaman- saat kita mampu mengoperasikannya. Love, light, namaste ❤️🙏🙏🙏
Yuk gabung Suruh Nusantara bersama Mas Tunjung Dhimas Bintoro
akan berada di Jakarta, simak tanggalnya ya!

Melatih spiritual seni dan kundaliniMari bergabung dan jumpa
25/05/2023

Melatih spiritual seni dan kundalini
Mari bergabung dan jumpa

Merica Sejumput  (Panitisan)  Kematian pun tiba. Ia hanya mengulang ketakutan bagi hidup mahluk yang terlalu bersandar p...
06/07/2020

Merica Sejumput
(Panitisan)
Kematian pun tiba. Ia hanya mengulang ketakutan bagi hidup mahluk yang terlalu bersandar pada bayangan. Bayangan itu adalah pikiran liar dari mahluk yang bernama manusia. Sejatine manungso iku urip amung ing sakjroning kaca ajesam (kehidupan manusia sesungguhnya adalah cermin;alam bayangan). Sementara bayangan-bayangan itu terpaut oleh semburat - semburat angan. Angan bentukan pikiran adalah miniatur bayang-bayang yang dihembuskan Tuhan. Ketika bayangan itu tidak diweruhi ia akan menyesatkan perjalanan manusia, yang menjebak pikiran dan perasaan-perasaanya sendiri. Termasuk ketakutan akan kematian.
Sesungguhnya manusia - manusia sudah sering mengulangi kematian, bahkan sering mengalaminya dalam hidup, dimulai dari kematian berskala kecil hingga besar. Setiap kematian dibutuhkan untuk kelangsungan mekanisme hidup; pertumbuhan, pergerakan , perputaran siklus. Kematian sel setiap detik melakukan regenerasi untuk pertumbuhan bagi tubuh hidup manusia, kemudian setiap kematian tubuh manusia menjadi kelangsungan hidup tubuh semesta raya. Hidup dan mati sesungguhnya berguna bagi tatanan evolusi waktu tanpa "pengalaman" sekalipun. Ia merodakan cakra manggilingan mengisi syarat - syarat drama ciptaan. Namun manusia tak pernah mengingkari kelemahannya, manusia tetap saja tertipu oleh kabar kematian dari mahluk/manusia lain yang membuatnya terbayang- bayang teka-teki yang menakutinya. Sekali lagi kematian itu bukan kepergian yang mengerikan. Kematian hanyalah cara Sang Maha menjemput Cinta-Nya. Pernikahan yang abadi antara Gusti dan Kawulonya. Di dalam kematian terjadi spektrum energi yang tak terpahami, dari wujud "Adam" (Ponang Jabang bayi) kembali cair menjadi mani dan darah, selanjutnya hilang lenyap bersama nafas Sang Maha? Lalu ada-Nya abadi terkenang pada makam. Makam itu menjelma pada hati dan pikiran orang-orang yang tetap mengingat karya, cinta, budhi, serta canda tawa mendiang ketika masih berada di alam ajesam /hidup seperti sediakalanya.
"Wahai semesti-Ku, Aku adalah semesta, Aku yang selalu mengawasimu, menyelimutimu, Aku juga yang menidurkanmu lalu membangunkanmu. Selama waktu berada pada pikiran dan kesadaranmu, sesungguhnya kamu adalah secuil debu langit yang tak bisa berlari dari-Ku. Hanya ada satu syarat untuk melepaskan sandra-Ku. Matilah dan hapus waktu, temukan suwung layaknya tidur lelapmu yang lupa, yang tak mengingat apapun, yang sunyi tanpa waktu (nirwaktu) tanpa ruang (nirbatas). Maka Aku yang Maha Luas inipun akan tergulung menjadi biji mrica sejumput. Ketunggalanpun abadi, Aku dan kamu bukan lagi tubuh bukan lagi materi. Aku dan kamu hanya keadaan tanpa cerita, tanpa kata, tanpa rasa, tanpa pikiran, tanpa gatra, tanpa bentuk, tanpa rupa, namun selalu ada dalam ketiadaan sekalipun. Berhentilah meraba-Ku atau kamu akan terus berseteru dengan sesamamu, tidurlah nak, lupakan semua rupa - rupa ini. "
~ Tunjung Dhimas Bintoro
📷 Sasongko Hend

Belajar "Nandur Pangerten" (Belajar menanam pengertian)  Teroris, tindakan mereka memang sangat tidak bisa dibenarkan. T...
03/07/2020

Belajar "Nandur Pangerten"
(Belajar menanam pengertian)

Teroris, tindakan mereka memang sangat tidak bisa dibenarkan. Tapi ini juga merupakan PR kita bersama untuk merenungi sebab terlahirnya teroris. Adakah seorang teroris, maling, koruptor yang tidak tau bahwa apa yang dilakukannya itu "tidak tepat"? Saya rasa merekapun tau walau belum mengembang pada wilayah pemahaman terdalamnya.

Teroris, lahir pasti ada sebabnya. Sebab yang mendasar adalah ketimpangan secara struktural yang kompleks. Dasar utamanya adalah mangkel (dongkol/benci) pada tindakan ketidakadilan. Ketidakadilan dunia dan negaranya. Ketidakadilan menciptakan petaka sendiri bagi proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi ini merupakan resiko bersama, resiko dari adanya kehidupan. Maka hal utamanya dari perihal tersebut selayaknya kita jadikan bahan untuk terus membenahi diri dari dalam. Berani " Mulat Sarira Hangrasawani" (Intropeksi diri) sebelum kebencian atau dongkol itu menyusupi diri, sementara menimbulkan disharmonis yang sama seperti mereka disana yang kita kutuki/persalahkan.

Kenapa ada ibu-ibu yang menguntit di supermarket entah susu atau bahan makanan lain, seorang nenek yang mencuri kayu bakar. Kemudian mereka dituntut hukum. Mereka itu orang luwe/kaliren/ kelaparan. Seperti halnya teroris mereka melakukan terror bom karena merasa dongkol pada ketimpangan ketidakadilan. Kita terburu membenci apa yang mereka lakukan, kadang lupa menelisik sebab. Mari bersama memahamkan diri, jangan keburu menghukum orang yang sedang bingung. Saya pribadi sangat mengecam tindakan terror. Tapi saya berusaha mempelajari dan merenungi setiap proses yang terjadi.

Seperti maling yang tertangkap, lalu mbok antemi raine (pukuli) sampek nyonyor, cacat, bahkan mati. Maling /mencuri aku paham itu kliru tapi yen mbok antemi raine iki aku yang nggak paham. Sementara tindakanmu pada mereka itu lebih kejam. Piye karepmu iki. Cari sebab dari mereka yang bertindak tidak tepat. Jangan ikut menjadi sebab untuk mengembangkan tindakan yang sama buruknya p**a.
Jaman dulu simbahku memberikan makanan pada seorang maling yang mencuri gabah/berasnya. Kata simbah jangan turut memperlakukan orang dengan tindakan yang sama atas apa yang mereka lakukan pada kita. Mereka bisa saja bukan orang jahat yang sebenarnya, mereka hanya kelaparan, mereka hanya sedang kalut saja akibat goncangan dinamika kehidupan. Yang terpenting selalu renungi dan pertimbangkan apa yang harus kita sikapi pada segala situasi tersebut. Tetap belajarlah mengasihi. Hanya kasih dan kemanusiaan yang membuat kita bisa saling menyatu dalam kerukunan. Bukan agama, aturan, bahkan aliran apapun. Tapi kasih dan akal -budhi kemanusiaanlah yang mampu untuk memperlakukan sesama dengan semestinya.

Ayo, bersama saling nyengkuyung, saling tanggap dan saling memuliakan. Tujuan tertinggi dari kehidupan Hamemayu hayuning bawana ialah; meningkatkan daya bocah angon- daya dimana siapapun kamu entah jendral, guru, kiyai, petani dll bisa angon atau menggembalakan /among -kinemongan dengan prinsip asih, asah, dan asuh. Agar terwujud ilir-ilir tandure wong sumilir;
Keadaan dimana serba mengalir dan selaras, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kartaraharja.
Adem tentrem, marem, tur lerem (Damai, tenang, puas, dan suwung).
Letting go- lepaskan semua yang kau genggam erat, Tuhan akan menggantikan apa yang kamu kira itu milikimu. Hari ini saya mendapat pelajaran baru tentang kepasrahan. Seorang sahabat meminta diberkati kantor barunya. Kemarin dia menyiapkan protokoler untuk menjemput saya di desa, mengingat kondisi corona belum mereda, kemudian membawa saya ke kota. Sementara saya sekalian harus mengisi acara pembekalan karakter ketahanan nasional di tempat sahabat anggota pencak silat PSHT yang menjabat sebagai divisi terapan budaya sebagai pondasi ketahanan nasional partai Demokrat di Cikeas. Saya merasa sangat di berkati, awalnya saya keberatan harus meninggalkan putri saya yang baru lahir, belum genap sebulan. Tapi Gusti punya maksud lain, ketika tim protokoler dari kapolda menjemput saya dirumah awalnya saya agak ragu. Mungkin karena saya terlalu anti terhadap sistem birokrat dan politik. Saya sudah berjanji tidak akan berkecimpung dan berafiliasi dengan politik dan para aristokrat. Namun ada proyek rahasia Gusti, selama perjalanan saya berkecamuk; antara rasa ragu dan berat meninggalkan anak istri, mobil dan fasilitas mewah tercukupi tapi tak sedikitpun membuat saya nyaman. Degup jantung semakin tak terelakan. Sudahlah, saya merebahkan diri di sandaran kursi mobil Lexus yang membawa saya, berucap doa-mantra dan pasrah. Sementara para petugas yang membawa saya tetap dingin terpaku dengan layar ponselnya.
Hujan turun ketika memasuki wilayah Semarang, dalam tidur saya bermimpi di hampiri pria bersurjan dan berudeng hitam, berujar "Iki lakonmu, kowe nyanggit agemanku kanggo piyandel nglakoni laku pamong, momonganmu bromo corah, wong nduwe drajat bondo dunyo brono nanging batine kemrapyah goyah. Para kawulo kang nyekel negoro butuh pitutur luhur, para wong kang duwe kuoso butuh pepadang, wong sugih pangkat lan bondo mau koyo dene wong wudo ning ora duwe isin, wong durjana kang orang duwe rumongso; sekabehane butuh wong kang disungkani, butuh wong kang disegani, butuh wong kang biso nuturi, mlakuo kowe bocah angon, ojo rumongso cilik ojo rumongso milik, sugihmu batin mulyamu paseduluran tirakatmu poso kekuasaan, kowe wes pernah lakon luwe, nafsumu sumende, ojo kegudo wong wadon, ojo kegudo pangkat jabatan, aku lenggah ning sandingmu, ojo samar kaweruhku mageri blegermu soko goda rencana. " (Ini adalah lakumu, kamu telah menempuh kaweruhku untuk kamu jadikan pegangan sebagaimana bekalmu menjalani laku sebagai pamong, momongan (anak asuh) -mu adalah mereka para penguasa, para manusia yang masih serakah belum menemukan arti derajat hidup sejati, memiliki pangkat dan harta namun buta ruhani, ibarat telanjang tapi tidak malu, bertindak disharmonis namun tidak menyadari; mereka semua butuh orang yang disungkani, disegani, yang bisa menasehati dan menunjukan cara memimpin, membagi berkat yang tepat, mantaplah lanjutkan lakumu, jangan berkecil hati, jangan memilki keinginan untuk memiliki atau dimiliki, kekayaanmu adalah marifat batin, kemulyaanmu adalah persaudaraan, tirakatmu berpuasa kekuasaan, kamu sudah pernah menempuh rasa lapar, matamu sudah sering kamu ajak begadang, jangan tergoda perempuan, jangan tergoda pangkat jabatan, bersandarlah pada hati suci, aku mendampingimu ilmu yang kamu bawa akan melindungi dari segala goda rencana, termasuk serangan pikiran kotormu sendiri ").
Setelah itu sosok tersebut memegang saya, sekejap sayapun terbangun. Tubuh terasa mantap, tanpa ragu, suara lantang keluar mendahului obrolan saya dengan para petugas pengawal penjemput saya. Sambil tersenyum saya membatin " Sosok dalam mimpi itu tidak asing" saya begitu akrab dengannya semenjak kecil. Kedekatan jiwa terasa terjalin lama, bahkan sebelum saya disanggit untuk dilahirkan dari rahim Ibu Simawarni (ibu saya) dan Bapak Sunaryo (ayah saya). Anda tidak perlu mempercayai cerita ini, mungkin. Namun anda bisa menemukan keunikan misi jiwa Anda di tengah - tengah hidup Anda yang terasa berat dan kaku saat ini, selalu ada pesan, hikmah, dan makna di dalamnya. Terima, lepaskanlah dan selalu bersyukur dengan keadaan apapun yang menimpa Anda. Jangan menghakimi, terima saja. Anda tidak akan pernah mengerti cara-cara unik Tuhan mengerjakan proyek agungnya terhadap Anda.
Kemudian kita berhenti di Rest Area di wilayah Brebes, 2 petugas yang membawa saya tiba-tiba brebes meneteskan air mata saat saya menceritakan pengalaman dan sebuah mindset baru terhadap mereka. Ternyata brebes, juga sesuai nama tempatnya, yang bukan suatu kebetulan saya dan mereka di singgahkan sejenak di tempat tersebut. Dibalik kegagahan para pasukan terlatih ternyata ada segudang kerapuhan batin juga, dan begitulah manusia. Saya pun merasa beruntung dikehendaki Tuhan mengubah pandangan mereka, tercerahkan? Ah terlalu berlebihan saya hanya menghipnotis mereka melalui sebatang rokok, namun luar biasa sampai hari ini mereka sangat akrab dan melayani saya dengan baik. Sungguh Maha Murah Tuhan Semesta, satu mantra untuk menyaksikan kemurahan-Nya, Letting Go - Pasrah berserah. Rahayu Sagung Dumadi..

~ Tunjung Dhimas Bintoro.
Note:

Buku Letting Go Mbah David R. Hawkins, terasa menjawab beberapa pengalaman saya. Sebuah ulasan yang menarik bagi pembangunan infrastruktur ruhani. Walaupun saya belum membacanya detail, semenjak berkontemplasi dengan penampakan buku ini proses sinkronisasi kesadaran terurai dalam diri saya. Kedekatan sukma Mbah David R. Hawkins terasa sama teduhnya dengan Sosok Waliyullah Sunan Kalijaga yang begitu dekat dengan diri saya. Entah ilusi atau kebenaran, jelasnya saya semakin teguh pada cara pandang beliau - beliau yang mampu mengelola dunia berdasarkan tempat dan waktunya. Bijak, tidak menyerang satu sama lain, memesrai semua fihak, dan mengutamakan pendekatan perasaan yang lembut untuk menyelesaikan masalah.

01/07/2020

Tujuh Lapisan Realitas Tubuh Manusia

Tujuh lapisan realitas tubuh manusia yang perlu dikenali sebagai jalan menuju kesadaran tunggal yang sejati. Yang kelak kembali tumpah pada "Asmo Wadah Musomo Isi" atau kekosongan. Kesadaran pakem diberikan oleh Guru Penulis dari Gunung Lawu K.H. Muhammad Umar (maniefestasi banyu kahuripan) yang membabar kaweruh Syahadat Pesinggahan Pageran Alam Padang. Adapun wejangannya sebagai berikut;

1. Shula Sarira

Ini adalah lapisan badan kita secara fisik sebagaimana yang kita lihat secara kasat mata saat ini. Tersusun dari sari-sari makanan dan terdiri dari lima elemen dasar materi [panca maha bhuta]. Lapisan badan ini adalah yang paling kasar. Badan ini penting karena kita butuhkan sebagai wahana bagi evolusi bathin kita di alam material [lahir sebagai manusia]. Tapi badan ini juga sifatnya sangat sementara dan sangat palsu [sangat tidak identik dengan realitas diri kita yang sejati]. Karena itu banyak guru yang memberi nasehat : sadari kalau diri kita yang sejati bukanlah badan ini.

WUJUD : Tubuh kita yang telanjang, sebagaimana saat kita pertama kali dilahirkan ke dunia ini. Ketika kita mati badan fisik ini otomatis terurai.

DIHALUSKAN DENGAN : Asana atau Hatha marga

2. Linga Sarira

Ini adalah lapisan badan kita secara fisik yang lebih halus, yang merupakan kembaran identik dari badan fisik kita yang kasat mata. Badan halus ini tidak dapat dilihat dengan indriya biasa, sebab ada di dimensi alam [loka] yang lebih halus. Lapisan badan ini dapat terpisah dari shula sarira [badan fisik] kita -pada saat kita mati-, akan tetapi tidak dapat dipisahkan sangat jauh. Saat kematian datang, lapisan badan ini selalu berada di dekat mayat atau di tempat yang tidak jauh dari mayat.

WUJUD : Wujudnya sangat identik dengan badan fisik kita sendiri. Kalau ada diantara kita ada yang punya bakat khusus atau kemampuan untuk melihat ke dimensi alam [loka] yang lebih halus, kita bisa melihat Linga Sarira ini sebagai “hantu” dari orang yang sudah meninggal. Sebenarnya yang dilihat adalah linga sarira dari orang yang sudah meninggal. Umumnya linga sarira atau “hantu tanda kutip” ini diselimuti warna agak keungu-unguan.

PRALONO : Secara umum linga sarira akan perlahan-lahan terurai secara bersamaan dengan terurainya shula sarira [badan fisik] kita. Inilah satu-satunya alasan mengapa Hindu mengajarkan kita melakukan kremasi atau ngaben [pembakaran mayat] saat ada yang meninggal. Dengan pembakaran shula sarira [badan fisik], akan menyebabkan shula sarira [badan fisik] secepatnya terurai kembali menjadi lima elemen dasar materi [panca maha bhuta] yang membentuknya. Terurainya shula sarira [badan fisik] berarti terurai p**a linga sarira, sehingga yang meninggal itu terbantu untuk bisa segera melanjutkan perjalanan memasuki dimensi alam [loka] berikutnya dan tidak perlu lama-lama bergentayangan menjadi “hantu tanda kutip”.

Penjelasan di atas adalah untuk yang secara umum, ada dua kasus lainnya tentang linga sarira. Pertama bagi orang yang sudah maju secara spiritual [bathinnya bersih, menyambut kematian dengan damai dan keikhlasan sempurna], begitu kematian menjemput dia langsung pergi ke alam-alam luhur dan linga sarira-nya langsung terurai tanpa perlu menunggu shula sarira [badan fisik]-nya terurai. Kedua sebaliknya, orang yang lumpur kekotoran bathinnya pekat atau orang yang keterikatan duniawi-nya begitu kuat [sehingga dia tidak rela meninggalkan dunia ini], dia bisa lama bergentayangan dengan linga sarira-nya walaupun shula sarira [badan fisik]-nya sudah terurai.

3. Pronomoyo Koso

Ini adalah lapisan badan energi [energi prana]. Energi yang memberikan gerak kehidupan kepada badan fisik [materi] kita. Alam semesta ini diselimuti oleh samudera besar energi pemberi kehidupan fisik yang disebut energi prana. Setiap organisme, mulai yang terkecil [mikroba] s/d yang terbesar, saat punarbhawa [kelahiran kembali], menarik ke dalam dirinya sendiri energi prana dari samudera energi prana semesta ini. Kekuatan hidup [prana] yang terdapat di dalam diri kita inilah yang disebut sebagai badan energi [pranamaya kosa].

WUJUD : Kemilau warna ke-emasan. Saat kematian datang, lapisan badan ini keluar dari dalam shula sarira [badan fisik] dan semua lapisan badan lainnya, kembali kepada samudera energi prana.

4. Sukmo Sarira

Ini adalah lapisan badan kita yang tersusun dari pikiran yang kasar, yaitu keinginan, hawa nafsu dan emosi negatif. Kalau setelah mati kita lahir di alam-alam bawah, ini adalah lapisan badan yang akan kita gunakan di alam-alam bawah tersebut. Kalau ini yang terjadi, dari alam-alam bawah ini kita akan langsung mengalami kelahiran kembali ke dunia untuk melanjutkan evolusi jiwa kita, tanpa sempat pergi ke alam-alam luhur [alam para dewa].

WUJUD : Wujud dasarnya mirip dengan kabut atau awan tanpa bentuk, dengan warna yang selalu berubah-ubah sesuai dengan isi pikiran kita sendiri. Orang yang biasa mengikuti nafsu indria dan emosi negatifnya [marah, benci, iri hati, dll], sukmo sarira-nya cenderung kasar, tebal dan padat. Sebaiknya orang yang telah maju di dalam spiritualitas, sukmo sarira-nya wujudnya lembut, cerah dan berpendar.

Kalau ada diantara kita ada yang punya bakat khusus atau kemampuan untuk melihat dimensi yang lebih halus, kita bisa melihat Sukmo Sarira ini sebagai “aura”. Sebenarnya yang dilihat adalah sukmo sarira.

Dalam literatur spiritual timur di dunia barat, sukmo sarira sering disebut sebagai astral body [badan astral]. Hal ini tidak salah, terutama karena bagi seorang yang waskita, sukmo sarira-nya bisa dia bentuk dengan wujud seperti apa yang dia inginkan, mungkin bentuk yang identik sama dengan shula sarira [badan fisik]-nya. Atau bentuk yang lain. Dan dengan memakai sukmo sarira-nya itu, dia bisa bepergian ke segala tempat yang sangat jauh di berbagai dimensi alam [loka] dengan sadar.

[Sedikit catatan tambahan : bahwa di alam-alam bawah, banyak mahluk-mahluk gelap yang bisa menggunakan sukmo sarira [dirubah wujudnya/ cipto gambar] untuk menipu kita. Wujudnya Dewa, orang suci atau orang yang kita kenal dekat, tapi sebenarnya bukan. Tapi jangan khawatir, kalau bathin kita bersih, apalagi “kesadaran tuntunan guru sejati”, mahluk-mahluk ini tidak akan tertarik mendekati kita]. Dan gambar tersebut akan pecah bila tidak berwujud aslinya.

Aspek lain dari sukmo sarira adalah memiliki sifat dapat menarik energi-energi suci alam semesta yang baik, yaitu melalui penyucian diri melalui media air [melukat], dll. Dengan cara demikian pikiran kita dimurnikan.

Ketika bathin kita makin bersih dan makin terkendali dari sad ripu [ kegelapan bathin], wujud sukmo sarira akan semakin lembut, semakin cerah dan semakin berpendar. Ketika sad ripu lenyap dari bathin kita, ketika kita mati lapisan badan ini akan terurai dan kita akan lahir di alam-alam yang luhur [alam para dewa]. Semua dapat disampurnakan dengan pengendalian indriya dan pikiran, penyucian diri melalui media air [melukat] atau pembangkitan kundalini [secara benar]. Dalam kesadaran banyu kahuripan yang bersifat menumbuhkan dan menjernihkan.

5. Karono Sarira

Ini adalah lapisan badan kita yang tersusun dari energi yang mencipta pikiran yang halus, yaitu pikiran yang bersih, penuh welas asih dan kebaikan tanpa pamrih. Kalau setelah mati kita lahir di alam-alam yang luhur [alam para dewa], ini adalah lapisan badan yang kita gunakan di alam-alam luhur tersebut. Kita akan tinggal di alam dewa untuk jangka waktu yang sangat lama, akan tetapi di titik ini roda reinkarnasi/ nitis [kelahiran kembali] belum berhenti. Kita masih akan mengalami kelahiran kembali ke dunia untuk melanjutkan misi agung atau atau penyelesaian karma.

6. Margamaya Patrapan Sunyo

Ini adalah lapisan badan kita yang tersusun dari kesadaran manusia sejati (sang pembawa/ avatar). Menyadari hakekat riak-riak pikiran, tanpa [ke-aku-an] bebas dari dualitas [suci-kotor, baik-buruk, benar-salah, dll]. Kalau setelah kita mati lapisan badan yang lebih kasar terurai dan kita menggunakan badan ini, roda reinkarnasi [kelahiran kembali] berhenti dan kita akan melanjutkan evolusi jiwa kita di alam-alam yang sangat luhur [alam para kesadaran kosmik]. Dengan kebebasan memilih turun kembali ke bumi atau tidak.

Dalam lapisan badan ini mengalir pengetahuan ke-Tuhanan, kebijaksanaan sejati dan pengetahuan universal. Di lapisan badan ini tidak ada pembatasan. Kita dapat merasakan secara mutlak kesadaran mahluk lain juga tercakup di dalam kesadaran kita sendiri. Sebab realitas-nya mahluk lain juga bagian dari diri kita.

WUJUD : Tidak termanifestasi.

7. Nayantaka Ajali Kauri

Ini adalah lapisan badan kita yang tersusun dari banyu kahuripan; quak yang transenden, lebur dalam syahadat pesinggahan bibit sekawit [kesadaran sempurna].

WUJUD : Tidak termanifestasi.

MOKSA-Suwung

Ketika seluruh lapisan badan ini semuanya melepas tumpah dalam wadah kekosongan, di-titik itulah kita mengalami moksa-Suwung [pembebasan sempurna], menjadi satu dengan realitas absolut. Sering di-istilahkan dengan istilah “MANUNGGAL”, sebab di titik itulah kita “sadar” bahwa sebenarnya semuanya satu, trillyunan trillyunan trillyunan [tak terhingga] bentuk itu sejatinya adalah satu : Bibit sekawit; manungso - manus; Suwung-banyu kahuripan.

~ Tunjung Dhimas Bintoro

Past life? Anda percaya itu? Bahkan aku sendiri tidak mengerti apa itu past life. Di balik milyaran misteri yang mustahi...
29/06/2020

Past life? Anda percaya itu? Bahkan aku sendiri tidak mengerti apa itu past life. Di balik milyaran misteri yang mustahil tersingkap oleh daya jangkau manusia; mungkin saya dan anda pernah berjumpa dalam satu sel, atau satu partikel, atau bahkan satu energi yang berfrekuensi sama. Dejavu? Pernahkah dari sebagian pengalaman hidup Anda mengalami- misal Anda pernah merasa paling hebat tiba-tiba tertunduk sungkan dengan seorang sosok, atau tiba-tiba Anda bertemu dengan seseorang yang mendadak membuat Anda terbooster secara energi, melahirkan semangat baru, atau bahkan Anda merasa selalu jengkel dengan seseorang walaupun orang tersebut selalu berusaha baik atau sebaliknya, Andalah yang berusaha baik padanya. Pernahkah Anda mengalami emosi berkecamuk tidak karuan, berantakan oleh seseorang yang awalnya Anda kira hanya kisah asmara biasa, namun ada rasa yang tak terjelaskan, terus merajam, membelenggu, dan membingungkan.
Atau Anda memiliki kebiasaan yang unik, contoh seperti dalam suatu kondisi Anda tertarik memakai blangkon, surjan, baju-baju/ kain batik, pernak-pernik budaya tertentu atau menyukai suatu tempat, dan dalam kondisi satu bulan sekali, seminggu sekali, Anda tiba-tiba ada dorongan kuat untuk berpuasa atau memakan makanan tertentu, atau mengenakan pakaian tertentu, tanpa ada doktrin kebiasaan dari lingkungan Anda saat itu. Saya pun pernah mengalami hal demikian, alasan - alasan diatas yang mendorong saya untuk mencari tau " apa mungkin kita berasal dari kehidupan sebelumnya? " Mungkin dari sebagian Anda yang berwawasan, berpengetahuan, lebih mampu mengurai dan menjelaskan secara runtut dan detail dari paparan fenomena "past life". Sementara itupun juga bebas ditafsir. Namun saya menyatakan kebutuhan saya sendiri; adalah tidak perlu menjawab hal tersebut terhadap semua pihak. Mungkin ada kebenaran tentang fenomena past life, tapi menghormati kapasitas dan kepercayaan orang lain terkadang lebih diutamakan dalam kehidupan piramida masyarakat. Dan tidak merusak tatanan masyarakat dengan upaya meminimalisir gejolak didalamnya dengan paham-paham tertentu mungkin juga sebuah jalan tengah menuju hakikat kebenaran. Sayapun belajar, berusaha mendengar, tapa brata saya sore ini tiba-tiba terhenti. Seseorang mendatangi saya bercerita tentang pertemuannya dengan seseorang yang membuatnya terbangkitkan dari keterpurukan. Dia bertanya "Apakah reinkarnasi itu ada? Mungkinkah dia pernah berjumpa dengan saya dikehidupan sebelumnya, saya sering bermimpi bertemu dia dalam satu masa di mana saya dan dia selalu berjumpa di warung, memakai surjan dan blangkon. Dengan kondisi seperti nuansa ke-jawa-an. Sementara saya lahir dibesarkan dalam lingkungan religius nuansa islami. " Ujarnya.
Saya merespon, menjawab sedikit tentang apa yang orang tadi tanyakan. Namun ditengah wedaran, ada cicak jatuh di kepala saya. Mendadak mulut saya tersumbat, detak jantung melemah, seperti orang keple saat stroke menyerang. Sanggit muncul, sepertinya saya tidak boleh nabrak pager, kali ini Gusti mengirim malaikat untuk menghentikan kinerja tubuh dan kondisi energi saat itu juga untuk membungkam mulut saya. Eling... Eling.. Marang Piweling. Dan seketika pulih saya memotong pembicaraan "Mas, wes ora usah jeru-jeru pitakonmu ndak marai rusak penganggitmu, sing penting kowe becik marang sepada - padamu disik, kabeh lumaku ngenggoni titah, ojo dirusak nganggo roso pengin ngertimu kang ngluwihi penjangkamu, ndak sulaya, madya pada iki panggone titah kang mlaku lan lumintu miturut garis uga pager wates e dewe-dewe, ojo diterak yen kui kabeh urung dadi dalanmu, setitik disik mengko mrene maneh yen wes kewengku. " (Mas, jangan terlalu dalam dulu pertanyaanmu, itu hanya akan merusak tatanan jangkauan akal dan kesadaranmu, yang penting belajar membangun infrastruktur rohani dulu dengan berlaku baik pada sesamamu, menjadi pelayan yang tulus, semua yang ada sejatinya adalah menempati titah, jangan dirusak dengan rasa ingin taumu yang berlebihan dimana hal itu melebihi kapasitas daya tampungmu, hanya akan membuatmu bergejolak, Madya Pada/ Bumi adalah tempat piramida yang berlapis-lapis bergerak sesuai garis dan batas-batas, jangan di tabrak jika itu belum menjadi jalanmu-ukuranmu, selalu kendalikan diri, sedikit - sedikit saja, nanti kembalilah kesini jika sudah terdorong lagi membahas hal itu. ").
Dan setelah itu dia berpamitan, sayapun lanjut ngasih makan kambing dan ayam-ayam di kandang. Dan mbatin "malati tenan pigugon tuo iku, teges malati kui mergo terkadang ora pas karo titiwanci lan saknaliko kayak mekso banyu sak gentong di grojok marang cingkir. "

(Ternyata kualat itu ada, saat menjabarkan kaweruh tuo (sejati/ sepuh) secara sembarangan / ngentengke / gebyah uyah/ menyepelekan, maksud daripada malati; ialah ketika menjabarkan/ melakukan sesuatu tanpa memahami / mempertimbangkan koordinat yang tepat secara ruang waktu, ibarat seperti menuangkan air satu galon pada cangkir. Benturan secara energi, emosi, pikiran, fisik akan terjadi seketika dampaknya akan terus berada pada kesalah pahaman pada diri dan outputnya terus melahirkan perseteruan antar sesama"). Eling, kuat, waras, akas, awas, slamet...
Rahayu Nir Ing Sambekolo...
Picture Ki Sasongko Hend
Writer Tunjung Dhimas Bintoro

DNADNA Spiritual adalah perangkat yang berfungsi menyimpan cetak biru manusia sebagai keberadaan ilahiah (Divine Entity)...
25/02/2019

DNA

DNA Spiritual adalah perangkat yang berfungsi menyimpan cetak biru manusia sebagai keberadaan ilahiah (Divine Entity) - yang bisa mencapai keadaan bali marang sangkan paraning dumadi dan merealisasikan kualitas seluruh ketuhanan. Nah, realisasi dari cetak biru ini, tergantung dari data perjalanan jiwa yang juga tersimpan di dalam DNA Spiritual. Saat seseorang memang telah mengalami perjalanan jiwa yang memadai, tubuh karmanya jernih dan tubuh pengetahuannya penuh dengan data pencerahan, maka di kehidupan terbarunya ia menjadi sangat prospektif untuk mencapai tataran optimal sebaga Divine Entity.

Jadi, dengan melihat secara utuh DNA manusia baik DNA Fisik maupun DNA Spiritualnya, kita bisa menyatakan bahwa manusia sejatinya adalah Divine Entity yang berbungkus badan fisik, yang punya potensi mengalami realisasi optimal sebagai Divine Entity meski masih berada di badan fisik. Dengan menempati badan fisik, Sang Jiwa yang semula berada pada tataran kesadaran sebagai Divine Entity pada faktanya memang bisa mengalami degradasi kesadaran: ia menjadi kerdil, kurang berdaya, dan terperangkap penderitaan. Dengan merealisasikan rancangan agung yang tertera dalam DNA Spiritualnya, maka Sang Jiwa bisa mencapai keadaan agung, merdeka, berdaya, dan bahagia yang langgeng.
DNA Spiritual
Tulisan: Setyo Hajar Dewantoro

Soul Sketch: by KocKo S Hend

Tracking by: Tunjung Dhimas Bintoro

MENYIRNAKAN ILUSI Apakah contoh ilusi?  “Tuhan menempati ruang dan waktu tertentu”, “Tuhan terpisah dari manusia, Tuhan ...
12/02/2019

MENYIRNAKAN ILUSI

Apakah contoh ilusi? “Tuhan menempati ruang dan waktu tertentu”, “Tuhan terpisah dari manusia, Tuhan pemarah, pembenci atau pendendam”, “Tuhan hanya menyukai pemeluk agama tertentu”, “Hanya dengan memeluk agama tertentu manusia bisa selamat dan masuk surga”, “Tuhan marah dan siap menyiksa perempuan seperti di Jawa yang menggunakan sanggul atau rambut dibiarkan tergerai dan terbuka”.. Demikianlah contoh-contoh ilusi yang terkait dengan Tuhan dan sifat Tuhan. Tentu masih banyak lagi ilusi yang lain, seperti yang terkait dengan realitas manusia dan realitas kehidupan beserta segenap hukumnya. Di antaranya adalah ilusi yang mengkerdilkan manusia pada saat ini: “Manusia sekarang semakin tidak suci dibandingkan manusia jaman dulu”, “Kita tak mungkin mencapai pencerahan yang sama atau melebihi orang-orang yang dianggap sebagai utusan Tuhan di masa lalu”, “Seorang tokoh besar adalah Tuhan sementara kita bukan dan harus menyembahnya”.

Pencerahan dan keberdayaan yang sejati hanya bisa diraih jika pikiran sadar dan bawah sadar dijernihkan. Penjernihan bisa terjadi saat sinar suci memancar dari pusat hati, atau dilimpahkan oleh para Guru Suci, jiwa-jiwa agung yang tercerahkan. Tetapi tentu ada prasyarat bagi bekerjanya proses penjernihan pikiran sadar maupun bawah sadar ini. Sinar suci hanya bekerja pada diri setiap orang yang mau membuka diri dan punya tekad kuat agar jiwa raganya dijernihkan.

Bali Marang Sangkan Paraning Dumadi
Monggo pinarak/ silahkan hadir bila merasa terpanggil.

Cakra Homestay-Solo Jawa Tengah.

Membabar kasanah spiritual dan wisata ruhani ke beberapa situs-situs sejarah leluhur Nusantara yang berada di Jawa Tengah.
Saatnya kembali meniti jalan jati diri yang diwariskan leluhur, ayo rekk nyuwung bebarengan...

Cp. Ayu 081320005957

Nia 021174952222

Address

Jalan Wiyung Gang Sawah III. No. 133
Surabaya

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sketsa Jiwa &Terapi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sketsa Jiwa &Terapi:

Share