03/07/2020
Belajar "Nandur Pangerten"
(Belajar menanam pengertian)
Teroris, tindakan mereka memang sangat tidak bisa dibenarkan. Tapi ini juga merupakan PR kita bersama untuk merenungi sebab terlahirnya teroris. Adakah seorang teroris, maling, koruptor yang tidak tau bahwa apa yang dilakukannya itu "tidak tepat"? Saya rasa merekapun tau walau belum mengembang pada wilayah pemahaman terdalamnya.
Teroris, lahir pasti ada sebabnya. Sebab yang mendasar adalah ketimpangan secara struktural yang kompleks. Dasar utamanya adalah mangkel (dongkol/benci) pada tindakan ketidakadilan. Ketidakadilan dunia dan negaranya. Ketidakadilan menciptakan petaka sendiri bagi proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi ini merupakan resiko bersama, resiko dari adanya kehidupan. Maka hal utamanya dari perihal tersebut selayaknya kita jadikan bahan untuk terus membenahi diri dari dalam. Berani " Mulat Sarira Hangrasawani" (Intropeksi diri) sebelum kebencian atau dongkol itu menyusupi diri, sementara menimbulkan disharmonis yang sama seperti mereka disana yang kita kutuki/persalahkan.
Kenapa ada ibu-ibu yang menguntit di supermarket entah susu atau bahan makanan lain, seorang nenek yang mencuri kayu bakar. Kemudian mereka dituntut hukum. Mereka itu orang luwe/kaliren/ kelaparan. Seperti halnya teroris mereka melakukan terror bom karena merasa dongkol pada ketimpangan ketidakadilan. Kita terburu membenci apa yang mereka lakukan, kadang lupa menelisik sebab. Mari bersama memahamkan diri, jangan keburu menghukum orang yang sedang bingung. Saya pribadi sangat mengecam tindakan terror. Tapi saya berusaha mempelajari dan merenungi setiap proses yang terjadi.
Seperti maling yang tertangkap, lalu mbok antemi raine (pukuli) sampek nyonyor, cacat, bahkan mati. Maling /mencuri aku paham itu kliru tapi yen mbok antemi raine iki aku yang nggak paham. Sementara tindakanmu pada mereka itu lebih kejam. Piye karepmu iki. Cari sebab dari mereka yang bertindak tidak tepat. Jangan ikut menjadi sebab untuk mengembangkan tindakan yang sama buruknya p**a.
Jaman dulu simbahku memberikan makanan pada seorang maling yang mencuri gabah/berasnya. Kata simbah jangan turut memperlakukan orang dengan tindakan yang sama atas apa yang mereka lakukan pada kita. Mereka bisa saja bukan orang jahat yang sebenarnya, mereka hanya kelaparan, mereka hanya sedang kalut saja akibat goncangan dinamika kehidupan. Yang terpenting selalu renungi dan pertimbangkan apa yang harus kita sikapi pada segala situasi tersebut. Tetap belajarlah mengasihi. Hanya kasih dan kemanusiaan yang membuat kita bisa saling menyatu dalam kerukunan. Bukan agama, aturan, bahkan aliran apapun. Tapi kasih dan akal -budhi kemanusiaanlah yang mampu untuk memperlakukan sesama dengan semestinya.
Ayo, bersama saling nyengkuyung, saling tanggap dan saling memuliakan. Tujuan tertinggi dari kehidupan Hamemayu hayuning bawana ialah; meningkatkan daya bocah angon- daya dimana siapapun kamu entah jendral, guru, kiyai, petani dll bisa angon atau menggembalakan /among -kinemongan dengan prinsip asih, asah, dan asuh. Agar terwujud ilir-ilir tandure wong sumilir;
Keadaan dimana serba mengalir dan selaras, gemah ripah loh jinawi tata tentrem kartaraharja.
Adem tentrem, marem, tur lerem (Damai, tenang, puas, dan suwung).
Letting go- lepaskan semua yang kau genggam erat, Tuhan akan menggantikan apa yang kamu kira itu milikimu. Hari ini saya mendapat pelajaran baru tentang kepasrahan. Seorang sahabat meminta diberkati kantor barunya. Kemarin dia menyiapkan protokoler untuk menjemput saya di desa, mengingat kondisi corona belum mereda, kemudian membawa saya ke kota. Sementara saya sekalian harus mengisi acara pembekalan karakter ketahanan nasional di tempat sahabat anggota pencak silat PSHT yang menjabat sebagai divisi terapan budaya sebagai pondasi ketahanan nasional partai Demokrat di Cikeas. Saya merasa sangat di berkati, awalnya saya keberatan harus meninggalkan putri saya yang baru lahir, belum genap sebulan. Tapi Gusti punya maksud lain, ketika tim protokoler dari kapolda menjemput saya dirumah awalnya saya agak ragu. Mungkin karena saya terlalu anti terhadap sistem birokrat dan politik. Saya sudah berjanji tidak akan berkecimpung dan berafiliasi dengan politik dan para aristokrat. Namun ada proyek rahasia Gusti, selama perjalanan saya berkecamuk; antara rasa ragu dan berat meninggalkan anak istri, mobil dan fasilitas mewah tercukupi tapi tak sedikitpun membuat saya nyaman. Degup jantung semakin tak terelakan. Sudahlah, saya merebahkan diri di sandaran kursi mobil Lexus yang membawa saya, berucap doa-mantra dan pasrah. Sementara para petugas yang membawa saya tetap dingin terpaku dengan layar ponselnya.
Hujan turun ketika memasuki wilayah Semarang, dalam tidur saya bermimpi di hampiri pria bersurjan dan berudeng hitam, berujar "Iki lakonmu, kowe nyanggit agemanku kanggo piyandel nglakoni laku pamong, momonganmu bromo corah, wong nduwe drajat bondo dunyo brono nanging batine kemrapyah goyah. Para kawulo kang nyekel negoro butuh pitutur luhur, para wong kang duwe kuoso butuh pepadang, wong sugih pangkat lan bondo mau koyo dene wong wudo ning ora duwe isin, wong durjana kang orang duwe rumongso; sekabehane butuh wong kang disungkani, butuh wong kang disegani, butuh wong kang biso nuturi, mlakuo kowe bocah angon, ojo rumongso cilik ojo rumongso milik, sugihmu batin mulyamu paseduluran tirakatmu poso kekuasaan, kowe wes pernah lakon luwe, nafsumu sumende, ojo kegudo wong wadon, ojo kegudo pangkat jabatan, aku lenggah ning sandingmu, ojo samar kaweruhku mageri blegermu soko goda rencana. " (Ini adalah lakumu, kamu telah menempuh kaweruhku untuk kamu jadikan pegangan sebagaimana bekalmu menjalani laku sebagai pamong, momongan (anak asuh) -mu adalah mereka para penguasa, para manusia yang masih serakah belum menemukan arti derajat hidup sejati, memiliki pangkat dan harta namun buta ruhani, ibarat telanjang tapi tidak malu, bertindak disharmonis namun tidak menyadari; mereka semua butuh orang yang disungkani, disegani, yang bisa menasehati dan menunjukan cara memimpin, membagi berkat yang tepat, mantaplah lanjutkan lakumu, jangan berkecil hati, jangan memilki keinginan untuk memiliki atau dimiliki, kekayaanmu adalah marifat batin, kemulyaanmu adalah persaudaraan, tirakatmu berpuasa kekuasaan, kamu sudah pernah menempuh rasa lapar, matamu sudah sering kamu ajak begadang, jangan tergoda perempuan, jangan tergoda pangkat jabatan, bersandarlah pada hati suci, aku mendampingimu ilmu yang kamu bawa akan melindungi dari segala goda rencana, termasuk serangan pikiran kotormu sendiri ").
Setelah itu sosok tersebut memegang saya, sekejap sayapun terbangun. Tubuh terasa mantap, tanpa ragu, suara lantang keluar mendahului obrolan saya dengan para petugas pengawal penjemput saya. Sambil tersenyum saya membatin " Sosok dalam mimpi itu tidak asing" saya begitu akrab dengannya semenjak kecil. Kedekatan jiwa terasa terjalin lama, bahkan sebelum saya disanggit untuk dilahirkan dari rahim Ibu Simawarni (ibu saya) dan Bapak Sunaryo (ayah saya). Anda tidak perlu mempercayai cerita ini, mungkin. Namun anda bisa menemukan keunikan misi jiwa Anda di tengah - tengah hidup Anda yang terasa berat dan kaku saat ini, selalu ada pesan, hikmah, dan makna di dalamnya. Terima, lepaskanlah dan selalu bersyukur dengan keadaan apapun yang menimpa Anda. Jangan menghakimi, terima saja. Anda tidak akan pernah mengerti cara-cara unik Tuhan mengerjakan proyek agungnya terhadap Anda.
Kemudian kita berhenti di Rest Area di wilayah Brebes, 2 petugas yang membawa saya tiba-tiba brebes meneteskan air mata saat saya menceritakan pengalaman dan sebuah mindset baru terhadap mereka. Ternyata brebes, juga sesuai nama tempatnya, yang bukan suatu kebetulan saya dan mereka di singgahkan sejenak di tempat tersebut. Dibalik kegagahan para pasukan terlatih ternyata ada segudang kerapuhan batin juga, dan begitulah manusia. Saya pun merasa beruntung dikehendaki Tuhan mengubah pandangan mereka, tercerahkan? Ah terlalu berlebihan saya hanya menghipnotis mereka melalui sebatang rokok, namun luar biasa sampai hari ini mereka sangat akrab dan melayani saya dengan baik. Sungguh Maha Murah Tuhan Semesta, satu mantra untuk menyaksikan kemurahan-Nya, Letting Go - Pasrah berserah. Rahayu Sagung Dumadi..
~ Tunjung Dhimas Bintoro.
Note:
Buku Letting Go Mbah David R. Hawkins, terasa menjawab beberapa pengalaman saya. Sebuah ulasan yang menarik bagi pembangunan infrastruktur ruhani. Walaupun saya belum membacanya detail, semenjak berkontemplasi dengan penampakan buku ini proses sinkronisasi kesadaran terurai dalam diri saya. Kedekatan sukma Mbah David R. Hawkins terasa sama teduhnya dengan Sosok Waliyullah Sunan Kalijaga yang begitu dekat dengan diri saya. Entah ilusi atau kebenaran, jelasnya saya semakin teguh pada cara pandang beliau - beliau yang mampu mengelola dunia berdasarkan tempat dan waktunya. Bijak, tidak menyerang satu sama lain, memesrai semua fihak, dan mengutamakan pendekatan perasaan yang lembut untuk menyelesaikan masalah.