01/06/2020
Apa Masalahnya?
Siapapun yang sehari-hari bergelut dengan suatu keadaan, atau pekerjaan, dan sudah menjadi rutinitas, biasanya akan menganggap tidak ada masalah dalam pekerjaan atau keadaan yang dijalaninya. Tapi biasanya dengan mudah menemukan adanya masalah atas keadaan atau pekerjaan orang lain. Pepatah mengatakan “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, tapi Kuman di seberang lautan tampak jelas”.
Menurut Theory of Constraint yang dirumuskan oleh Goldrat dalam bukunya “The Goal”, dijelaskan bahwa dalam setiap sistem pasti akan ada setidaknya satu konstrain yang membuat sistem itu tidak dapat bekerja dengan sempurna. Maka yang perlu dilakukan adalah menemukan konstrain itu lalu mencari solusi untuk mengatasi konstrain tersebut. Begitu solusi ditemukan dan suatu proses baru yang telah mengalami perbaikan kemudian berjalan menggantikan proses yang sebelumnya ada konstrain. Akan tetapi jika dikembalikan kepada Theory of Constraint, sistem yang baru pun akan mempunyai konstrain yang baru. Konstrain yang baru tersebut menuntut perbaikan, dan seterusnya. Makanya dalam istilah perbaikan kinerja, disebut Continuous Improvement, yang artinya perbaikan terus-menerus, dan populer dengan istilah Kaizen.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam suatu sitem pasti ada “Masalah”. Maka yang seharusnya ditanyakan adalah “Apa Masalahnya?”. Ini merupakan bagian yang mendasar dalam proyek Lean Sigma. Jika “Masalah” tidak dapat didefinisikan dengan jelas, proyek perbaikan tidak akan berjalan dengan benar. Dalam Lean Sigma ada Tool yang dapat membantu untuk menemukan “Masalah”, yang kemudian akan memandu untuk mendapatkan solusi yang tepat dan sesuai dengan “Masalah” tersebut.
Seseorang dengan pengalaman dan kompetensi yang banyak akan cenderung melompat kepada solusi. Seolah-olah dia sudah mengetahui solusi dari permasalahan yang dilontarkan. Padahal bisa jadi solusinya tidak tepat, atau bisa jadi ternyata permasalahannya bukanlah yang disebutkan sebelumnya. Dengan mengetahui “Masalah” yang sebenarnya akan mempermudah mencari solusi yang tepat guna. Ibarat seorang Dokter yang harus benar dalam mendiagonosa penyakit pasien agar dapat memberikan resep yang tepat sehingga penyakitnya sembuh.
Solo, 1 Juni 2020 BFL Masih