12/05/2026
Pada tahun 2008, terdapat seorang mahasiswi hidup sederhana dengan uang jajan pas-pasan.
Di kampus, ia punya teman yang jarang terlihat makan. Temannya itu pendiam, sederhana, tapi dikenal baik hati dan pintar. Sampai suatu hari keadaan berbalik.
Usaha orang tuanya bangkrut, uang di dompet hanya tersisa Rp5 ribu, dan ia hanya mampu membeli seporsi mie goreng untuk bertahan hari itu.
Saat di kantin kampus, ia melihat temannya duduk sendiri dengan wajah kosong. Ia tahu tatapan itu, tatapan orang yang sedang menahan lapar dan berpura-pura kuat.
Tanpa banyak bicara, ia meminta mie goreng dibagi dua. Satu porsi dimakan berdua, ditemani segelas es teh yang bahkan harus diencerkan agar cukup.
Mungkin bagi orang lain itu makanan biasa, tapi bagi mereka saat itu, itulah bentuk kepedulian paling tulus.
Waktu berjalan, hidup justru makin berat. Ia harus kuliah sambil bekerja, mulai dari ojek, jualan online, hingga menerima jasa joki tugas demi bertahan hidup.
Sampai suatu pagi, setelah menikah dan merasa hidup mulai membaik, cobaan datang lagi.
Suaminya tertipu, tabungan habis, dapur kosong, dan ia memberanikan diri meminjam Rp100 ribu kepada temannya hanya untuk membeli beras.
Namun yang masuk ke rekeningnya bukan Rp100 ribu, melainkan Rp20 juta. Pesan dari temannya sederhana, meminta uang itu dipakai dulu untuk bangkit dan dikembalikan saat sudah mampu.
Saat itulah ia sadar, kebaikan sekecil apa pun ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Kadang, semangkuk mie goreng yang dibagi dua di masa sulit bisa kembali menjadi pertolongan besar di waktu yang paling dibutuhkan.
Semoga cerita ini menjadi inspirasi kita semua bahwa kebaikan itu bisa dilakukan dari sisi mana saja dan bukan menunggu kita mapan.