11/10/2015
"5 Mitos Berbahaya Yang HARUS Anda Ketahui Tentang Uang Dan Kekayaan"
Financial freedom. Sebuah tujuan yang sangat ingin diraih oleh kebanyakan orang. Kemakmuran & Keberlimpahan.
Pada akhirnya, kita semua banting tulang kerja dari pagi sampai petang atau bahkan malam, adalah demi uang. Demi nafkah untuk keluarga dan masa depan.
Problemnya, dalam perjalanan mencari nafkah dan kemakmuran itu, ada 5 mitos yang keliru dan berakibat fatal dalam pemahaman kita mengenai uang, kekayaan dan orang kaya.
Mau tahu apa 5 mitos itu?
5 mitos ini sering muncul dalam pikiran sebagian orang, dan sering membawa dampak buruk dalam pemahaman kita mengenai uang dan kekayaan.
5 mitos ini ada yang muncul secara mencolok dalam bentuk nasehat dan pepatah. Tapi ada juga yang diam-diam mengendap dalam hati sebagian besar orang.
Mari kita bongkar satu demi satu 5 mitos ini.
โค Mitos #1 : "Orang kaya itu sombong dan hanya memikirkan nafsu dunia aja"
Mitos ini seperti hendak memberikan gambaran bahwa orang kaya itu hanya mementingkan gemerlap duniawi saja.
Seolah-olah semua orang kaya itu adalah โgambaran evil (setan) yang berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan materi duniaโ.
Saya merasa mitos itu tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya saya malah punya hipotesa seperti ini : semakin Anda kaya, semakin religius hidup Anda.
Ada cerita dua fakta yang cukup mencengangkan.
Ada dua perumahan mewah di daerah Cibubur dan Bekasi.
Dua masjid di dua perumahan mewah itu, setiap shalat subuh ramainya seperti Jumโatan. Amazing.
Benar, setiap fajar pagi, setiap adzan Subuh berkumandang, dua masjid itu sudah penuh sesak dengan mobil mewah, semacam Mercedes Benz, dll.
Komunitas orang kaya di dua masjid itu juga rutin menyumbang dana untuk membangun sekolah bagi para orang tidak berpunya.
Mengatakan orang kaya itu identik dengan nafsu serakah demi materi duniawi adalah kesalahan persepsi yang cukup fatal.
Bisa menanamkan pikiran bawah sadar bahwa menjadi kaya itu dosa. Aneh.
Padahal seperti fakta yang saya ceritakan diatas : menjadi kaya bisa juga menjadi mulia. Setiap subuh, rutin sholat di masjid, dan rajin memberi sedekah bagi orang tidak punya.
โค Mitos #2 : "Kalau mau kaya, korupsi aja"
Ini mitos yang juga sama absurdnya. Orang yang mengatakan kalimat seperti itu adalah โkorban manipulasi mediaโ.
Memang, hampir setiap hari berita di televisi dan koran selalu memuat kasus korupsi. Lalu, muncul mitos dan persepsi yang SALAH bahwa seluruh orang Indonesia itu koruptor, dan untuk kaya harus jadi koruptor.
Itu mitos yang benar-benar menghina jutaan orang (pedagang kain, penjual batik, pemilik usaha Bolu Meranti, kebab Baba Rafi, kaos Joger, dll) yang mencari nafkah dan kaya dengan cara yang barokah.
Namun media memang harus seperti itu supaya laku, dan anehnya, publik malah menikmatinya.
Padahal studi ilmiah sudah menunjukkan : makin sering Anda nonton berita di televisi, makin Anda tidak obyektif melihat realitas dunia (Seligman, 2007).
Penelitian lain lebih mengejutkan : berita-berita yang gencar tentang kasus korupsi dan narkoba kadang JUSTRU MENDORONG orang untuk juga melakukan korupsi dan mencoba narkoba (Chip and Dan Heath, 2010).
(Itulah kenapa sudah cukup lama saya TIDAK PERNAH NONTON televisi, mending buka internet dan mencari hal-hal positif yang bisa dishare ke banyak orang, yang bisa mengubah pandangan dan perilaku orang ke arah yang lebih baik. Dan terus terang, hidup saya menjadi lebih tentram. Tidak stress gara-gara berita televisi yang lebay).
Namun manipulasi media itu berakibat fatal : sejumlah orang lalu punya persepsi dan mitos yang SALAH bahwa untuk menjadi kaya harus menjadi koruptor. Media telah sukses memberikan edukasi yang salah.
Padahal banyak kisah-kisah entrepreneur muda yang menjadi kaya dengan cara yang mulia yang bisa diulas.
โค Mitos #3 : "Hemat pangkal kaya"
Ini juga mitos yang rada-rada aneh.
Kalau penghasilan Anda hanya 3 juta/bulan, mau hemat sampai setengah mampus, ya tetap ndak bisa kaya. Mau kaya dari Hongkong?
Kalau ada satu keluarga dengan dua anak di Jakarta, penghasilan hanya 3 juta/bulan โ ya pasti hematnya sudah sampai jungkir balik : makan mungkin hanya satu kali sehari, dan sarapannya indomie rebus terus sepanjang tahun. Apakah dengan hemat maksimal seperti ini lalu akan menjadi kaya?
Hello........???
Memberikan nasehat untuk hidup hemat pada orang yang penghasilannya pas-pasan malah seperti tidak punya simpati : apanya lagi yang mau dihemat, wong untuk beli makan aja sering ndak cukup. Baru awal bulan aja, uang sdh habis tuk bayar ini dan itu.....
Nasehat hemat pangkal kaya memang separo ilusi. Sebab hanya berfokus pada hemat hanya akan membuat hidupmu stagnan.
Fokus pada hemat malah bisa membuat Anda lupa pada sisi lain yang jauh lebih krusial : cara supaya penghasilanmu naik secara EKSPONENSIAL, atau naik 10 kali lipat (bukan hanya 10% per tahun).
Cara-cara kreatif untuk secara dramatis meningkatkan income jauh lebih penting daripada 1001 cara hidup berhemat.
Sebab sekali lagi, sehebat-hebatnya kamu berhemat, jika penghasilanmu stagnan ya dampaknya segitu-gitu aja. Paling mungkin hanya bisa hemat 10% โ 20% dari penghasilan.
Namun jika Anda sukses meningkatkan income secara eksponensial, potensi dampaknya bisa 1000% atau bahkan 10.000%.
Maka jangan terbuai kalimat Hemat Pangkal Kaya yang separo ilusi. Fokus pada percepatan peningkatan rezeki.
โค Mitos #4 : "Menabung pangkal kaya"
Ini lagi, mitos jadul yang ndak mati-mati.
Look, kalau uang Anda hanya ditabung di bank atau bahkan disimpan di brankas lemari, nilai pertumbuhannya cenderung akan kalah cepat dengan inflasi.
Dengan kata lain, nilai uangmu bisa pelan-pelan tergerus tanpa terasa. Mau kaya darimana, wong nilai uangnya malah ilang.
Yang benar bukan menabung (saving) tapi alokasikan uang sisa Anda untuk investasi (invest).
Pilihan investasinya bisa properti (sedikit demi sedikit beli tanah di pinggiran kota atau di kampung halaman, atau yang dekat kampus supaya bisa jadi kos-kosan).
Investasi lain bisa ditanamkan ke reksadana (kalau serius ndak usaha banyak nanya. Googling aja, semua informasi lengkap ada disana).
Baiknya langsung beli produk reksadana; dan bukan yang di-bundling model Asuransi Unitlink (ini produk aneh, yang kurang menguntungkan konsumen dalam jangka panjang).
Atau bisa juga investasikan uang Anda untuk modal bisnis/usaha. Pilihan jenis usahanya banyak. Salah satu contoh usaha yang meleverage kekuatan Internet yang berpotensi menghasilkan income secara eksponensial contohnya https://bit.ly/fingodahsyat
โค Mitos #5 : Oke ini mitos yang terakhir, dan paling fatal akibatnya. "Kekayaan tidak akan dibawa mati"
Respon seperti itu adalah wrong and wrong. Kalimat mitos yang salah kaprah.
Kekayaan akan kita bawa sampai mati hingga akhir jaman, jika kita membelanjakan kekayaan kita untuk memberangkatkan orang tua naik haji atau membangun masjid.
Kekayaan akan menerangi kita saat kelak kita beristirahat di alam kubur, jika kekayaan itu kita gunakan untuk menyekolahkan anak yatim atau membangun perpustakaan gratis di kampung halaman.
You get the points, right?
Kekayaan pasti akan kita bawa sampai mati jika kita belanjakan ke jalan yang mulia dan penuh keikhlasan.
Mengatakan โkekayaan ndak akan kita bawa sampe matiโ adalah kalimat ajaib yang berangkat dari asumsi keliru, bahwa kita membelanjakan semua kekayaan kita hanya untuk foya-foya belaka. Sebuah asumsi yang berdasar mitos belaka.
Orang yang mengatakan : โndak usah omong banyak tentang kekayaan, toh kekayaan tidak akan kita bawa sampe matiโ, mungkin disebabkan dua alasan :
1) orang itu mau menghibur diri karena penghasilannya masih pas-pasan atau
2) orang itu tidak tahu cara menjadi kaya dengan halal dan membelanjakan hartanya di jalan yang mulia.
Daripada komentar nyinyir bernada pesimis seperti itu, mungkin jauh lebih baik berkomentar dalam hati seperti ini.
Mari kita menjadi kaya dengan cara yang mulia, sehingga kita bisa membangun 9 masjid di penjuru Nusantara, atau bisa membantu Pembangunan Gereja, atau bisa mendirikan Panti Asuhan atau Panti Jompo, dll
Atau : mari kita menjadi kaya dengan cara yang mulia, sehingga kita bisa menjadi bapak asuh bagi ratusan anak yatim, dll.
Atau ini : bismillah, saya akan menjadi kaya dengan cara yang mulia sehingga saya bisa memberangkatkan orang tua naik haji, atau bisa mengajak orang tua berziarah ke tempat2 suci di Yerusalem, Roma, dll.
DEMIKIANLAH, 5 mitos fatal tentang uang, orang kaya dan kekayaan. Selalu kenanglah 5 pelajaran diatas dalam perjalanan panjang Anda meraih kemakmuran yang penuh barokah.
Kenapa 5 mitos itu layak kita kenang? Sebab jika kita punya persepsi atau mindset yang salah tentang kekayaan dan keberlimpahan, maka ini bisa benar-benar membuat hidup kita stagnan.
Akhir kata, teriring doa ikhlas dari saya untuk Anda semua :
Semoga Anda semua diberi jalan rezeki yang lapang, dan bisa menjadi insan yang memiliki kekayaan sejati : kaya spiritual, kaya finansial, kaya kebaikan, kaya kemuliaan, kaya teman dan saudara,
Source : strategimanajemen.net