Tani organik

Tani organik melayani pemesanan partai Besar maupun kecil

Alhamdulillah dengan menggunakan produk nasa hasil meningkat dan sehat untuk di konsumsi
08/12/2019

Alhamdulillah dengan menggunakan produk nasa hasil meningkat dan sehat untuk di konsumsi

Penyakit busuk buah pada cabai atau antraknosa yang sering disebut dengan patek merupakan penyakit yang seringkali ditem...
30/03/2019

Penyakit busuk buah pada cabai atau antraknosa yang sering disebut dengan patek merupakan penyakit yang seringkali ditemui sehingga menyebabkan kerugian yang besar. Antranose disebabkan oleh cendawan jamur yaitu Colletotrichum sp. dan Gloeosporium sp. Jamur ini menyerang dalam kondisi lingkungan berkelembaban tinggi sekitar ± 95 % dan suhu udara rendah dibawah 320C, seperti saat ini dan jika menyerang pada biji cabai dapat bertahan hingga 9 bulan. Bila biji yang sudah terserang Anthraknose digunakan sebagai bibit lagi maka tanaman dari bibit tersebut dapat tertular Anthraknose.

Antraknose dapat menyerang buah cabai yang masih muda maupun yang hampir matang. Gejala busuk basah buah pada cabai yang sudah matang berarti buah cabai sudah terinfeksi sejak buah cabai masih hijau. Gejala awal antraknosa berupa bercak coklat kehitaman pada permukaan buah cabai, kemudian menjadi busuk lunak. Bagian tengah bercak tersebut terdapat kumpulan-kumpulan titik-titik hitam yang merupakan kumpulan cendawan. Serangan berat dapat menyebabkan seluruh buah keriput dan mengering. Selain itu, warna kulit buah berubah menyerupai jerami padi dan dalam kondisi cuaca panas dan lembab dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.

Cara penanganan penyakit busuk buah Antraknose

Secara teknis, hal tersebut dapat dilkukan dengan cara:

Rotasi tanam dengan family yang berbeda, dengan tujuan agar memutuskan siklus perkembangan penyakit
Musnahkan tanaman atau buah yang terserang penyakit ini
Pemupukan dengan kandungan P, K, dan Ca tinggi agar jaringan tanaman kuat
Pupuk organik, akan meningkatkan ketahanan tanaman dari serangan hama dan penyakit
Hindari adanya air tergenang dan gulma agar tidak terlalu lembab
Menanam benih bebas patogen pada lahan yang tidak kontaminasi oleh patogen penyakit patek
Bikin jarak tanam lebih dari 70 cm pada saat seperti curah hujan agak tinggi seperti ini.
Memanfaatkan agens antagonis, yaitu NATURAL GLIO.
Penggunaan agens hayati merupakan cara efektif dalam pengendalian penyakit busuk buah cabai yang disebabkan oleh jamur. Natural GLIO bersifat hiperparasit terhadap patogen penyakit sehingga terjadi persaingan nutrisi untuk hidup. Natural GLIO akan mematikan patogen penyebab penyakit dan berkembang melindungi tanaman dari gangguan patogen.



Mari cegah mulai awal agar serangan Anthraknose ini bisa dicegah dan panen cabe bisa melimpah



ADA PATEK, YA CEGAH DENGAN GLIO

Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama penting karena secara nyata merusak malai sehingga mengurangi jumlah malai ya...
30/03/2019

Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama penting karena secara nyata merusak malai sehingga mengurangi jumlah malai yang dapat dipanen atau dalam fase Vegetatif mematikan titik tumbuh sehingga mengurangi jumlah anakan. Populasi Penggerek Batang Padi biasanya meningkat menjelang berakhirnya musim hujan. Penggerek Batang Padi (PBP) disebabkan oleh 4 jenis PBP, yaitu PBP Kuning (Scirpophaga incertulas), PBP Putih (S. Innotata), PBP Bergaris (Chilo supressalis), dan PBP Merah jambu (Sesamia inferens). Keempat jenis PBP ini mempunyai cara hidup dan gejala kerusakan yang ditimbulkan hampir persis sama. Liang-liang gerek yang dibuat larva (ulat) dapat memutuskan perjalanan air dan unsur hara dari akar sehingga dapat melemahkan tanaman padi.

Kerusakan yang timbul tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Pada fase Vegetatif (Pembentukan batang, daun, dan anakan), maka daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuhnya dimakan. Pucuk yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut. Gejala ini biasa disebut Sundep. Pada fase generatif (pembentukan malai), maka malai akan mati karena pangkalnya dikerat oleh larva. Malai yang mati akan tetap tegak, berwarna abu-abu putih dan bulir-bulirnya hampa. Malai ini mudah dicabut dan pada pangkalnya terdapat bekas gigitan larva. Gejala ini biasa disebut Beluk.

Cara pengendalian :

- Tanam jenis padi yang cepat dewasa
- Tanam secara serempak, selisih waktu tanam jangan melewati 3 -4 minggu
- Buang tunggul-tunggul jerami segera setelah panen dengan cara membenamkan waktu Pengolahan tanah atau memotong tunggul tersebut persis di permukaan tanah.
- Hindari kelebihan pemakaian pupuk N (Urea, ZA)
- Buang bibit padi yang mengandung telur PBP sebelum penanaman
- Pembibitan, semprotkan Natural BVR sebagai pencegahan pada umur 7 - 10 hari.
- Semprotkan BVR / PESTONA pada umur 10 - 15 hari setelah tanam dan setiap 1 - 2 minggu sekali diselang seling.

Hama pengorok daun sebenarnya sejenis lalat termasuk dalam ordo Diptera, famili Agromyzidae, spesies Liriomyza  chinensi...
30/03/2019

Hama pengorok daun sebenarnya sejenis lalat termasuk dalam ordo Diptera, famili Agromyzidae, spesies Liriomyza chinensis yang menyerang tanaman bawang. Bagi petani bawang merah di Brebes Jawa Tengah, Liriomyza chinensis termasuk hama yang paling ditakuti karena intensitas kerusakan yang ditimbulkan sangat tinggi bahkan bisa mencapai 100% atau gagal panen.



Gejala Serangan

Awal serangan terlihat pada saat tanaman berumur masih muda antara 2 - 3 minggu setelah tanam (MST). Perkembangan populasi L. chinensis sangat cepat sehingga kerusakan yang ditimbulkan terlihat hanya dalam waktu 3 hari saja. Mula - mula imago menusukan ovipositornya pada daun bawang, gejala terlihat seperti ada totol - totol putih kecil. Kemudian larva yang sudah menetas langsung mengorok bagian jaringan mesofil daun. Arah korokan biasanya dari atas daun sampai umbi bawang. Kerusakan yang terlihat pada bawang menyebabkan umbi membusuk dan daun menjadi layu kering berwarna putih kecoklatan seperti terbakar. Pada serangan yang berat seluruh areal pertanaman bawang akan busuk kering dan bawang merah gagal panen (puso).



Larva dari hama ini tidak hanya merusak daun tetapi bisa merusak umbi bawang merah. Populasi yang tinggi menyebabkan daun menjadi kering dan umbi bawang merah menjadi busuk. Akibat kerusakan yang ditimbulkannya yang tinggi sekali, petani Brebes menyebutnya sebagai hama ”grandong”, anak Mak Lampir yang paling jahat. Pengendalian yang hanya mengandalkan pestisida sintetik telah menyebabkan hama grandong menjadi resisten / kebal.

Biologi Hama

Telur berwarna putih bening berukuran 0,28 mm x 0,15 mm, dan stadium telur 2 - 4 hari. Jumlah telur berkisar 50 - 300 butir, dengan rata-rata 160 butir. Telur diletakkan dalam jaringan daun melalui ovipositor. Larva yang baru keluar, berwarna putih susu atau putih kekuningan, segera mengorok jaringan mesofil daun dan tinggal dalam liang korokan selama hidupnya. Stadium larva antara 6 -12 hari, dan larva yang sudah berusia lanjut (instar 3) berukuran 3,5 mm. Larva instar 3 dapat mengorok jaringan 600 x lipat dari larva instar 1, dan larva ini kemudian keluar dari liang korokan untuk berkepompong. Pupa lalat pengorok daun ini umumnya ditemukan di tanah, tetapi pada tanaman bawang merah sering ditemukan menempel pada permukaan bagian dalam dari rongga daun bawang. Stadium pupa antara 11 - 12 hari. Imago betina mampu hidup selama 6 - 14 hari dan imago jantan antara 3 - 9 hari. Lalat L. chinensis pada bagian punggungnya berwarna hitam, sedangkan pada lalat L. huidobrensis dan L. sativa di bagian ujung punggungnya terdapat warna kuning.

Cara Pengendalian :

Effisiensi Penggunaan Pupuk Berimbang ( Makro dan Mikro ), dengan pengurangan pupuk N di musim hujan & perbanyak pupuk organik.
Penggunaan Perangkap Kuning pada saat umur 3 minggu setelah tanam dengan pengolesan Natural METILAT LEM
Penyapuan dengan menggunakan kain transparan yang dilumuri larutan kanji ditambah Natural METILAT LEM
Penyemprotan musuh alami dengan Nematoda Patogen Serangga (NPS)
Penyemprotan PESTONA dan PENTANA tiap minggu sekali secara selang seling
Segera lakukan tindakan awal, LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI

Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama penting karena secara nyata merusak malai sehingga mengurangi jumlah malai ya...
29/03/2019

Penggerek Batang Padi (PBP) merupakan hama penting karena secara nyata merusak malai sehingga mengurangi jumlah malai yang dapat dipanen atau dalam fase Vegetatif mematikan titik tumbuh sehingga mengurangi jumlah anakan. Populasi Penggerek Batang Padi biasanya meningkat menjelang berakhirnya musim hujan. Penggerek Batang Padi (PBP) disebabkan oleh 4 jenis PBP, yaitu PBP Kuning (Scirpophaga incertulas), PBP Putih (S. Innotata), PBP Bergaris (Chilo supressalis), dan PBP Merah jambu (Sesamia inferens). Keempat jenis PBP ini mempunyai cara hidup dan gejala kerusakan yang ditimbulkan hampir persis sama. Liang-liang gerek yang dibuat larva (ulat) dapat memutuskan perjalanan air dan unsur hara dari akar sehingga dapat melemahkan tanaman padi.

Kerusakan yang timbul tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Pada fase Vegetatif (Pembentukan batang, daun, dan anakan), maka daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuhnya dimakan. Pucuk yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut. Gejala ini biasa disebut Sundep. Pada fase generatif (pembentukan malai), maka malai akan mati karena pangkalnya dikerat oleh larva. Malai yang mati akan tetap tegak, berwarna abu-abu putih dan bulir-bulirnya hampa. Malai ini mudah dicabut dan pada pangkalnya terdapat bekas gigitan larva. Gejala ini biasa disebut Beluk.

Cara pengendalian :

- Tanam jenis padi yang cepat dewasa
- Tanam secara serempak, selisih waktu tanam jangan melewati 3 -4 minggu
- Buang tunggul-tunggul jerami segera setelah panen dengan cara membenamkan waktu Pengolahan tanah atau memotong tunggul tersebut persis di permukaan tanah.
- Hindari kelebihan pemakaian pupuk N (Urea, ZA)
- Buang bibit padi yang mengandung telur PBP sebelum penanaman
- Pembibitan, semprotkan Natural BVR sebagai pencegahan pada umur 7 - 10 hari.
- Semprotkan BVR / PESTONA pada umur 10 - 15 hari setelah tanam dan setiap 1 - 2 minggu sekali diselang seling.

Kemarau sering menjadi faktor pembatas tidak langsung bagi produktifitas berbagai tanaman, baik tanaman semusim maupun t...
29/03/2019

Kemarau sering menjadi faktor pembatas tidak langsung bagi produktifitas berbagai tanaman, baik tanaman semusim maupun tahunan. Pada tanaman semusim relatif lebih mudah membuat modifikasi dan strategi alternatif sebagai solusi, bisa dengan mengganti jenis tanaman yang lebih toleran terhadap kekurangan air atau dengan membuat embung, sumur resapan dan lain sebagainya. Tetapi pada tanaman tahunan khususnya sawit yang mempunyai nilai investasi relatif tinggi dan spesifikasi khas, tentu bukan perkara mudah mengambil langkah solusi.

Kelapa sawit termasuk tanaman yang membutuhkan air yang tinggi, karena evapotranspirasi yang tinggi. Kekurangan air pada tanaman kelapa sawit dapat mengakibatkan penurunan produksi tandan buah segar (Mangoensoekarjo dan Semangun,2005). Hadi (2004) menambahkan kekurangan air pada tanaman kelapa sawit dapat mengakibatkan buah terlambat masak, berat tandan buah berkurang, jumlah tandan buahmenurun hingga sembilan bulan kemudian, serta meningkatkan jumlah bunga jantan, dan menurunkan jumlah bunga betina.

Tahun 2015 menjadi sejarah paling kelam dirasakan Bapak Purn.Kol. Ir. T Purnomo selama puluhan tahun mengelola sawit. Kemarau panjang nan ekstrim itulah salah satu faktor menurunnya produktivitas sawit beliau. Tetapi setidaknya Beliau tetap bangga melihat tanaman sawitnya yang masih menghijau, sementara milik pekebun lain baik perkebunan rakyat maupun skala perusahaan yang berada di sekitar kebun beliau banyak yang kering dan pelepahnya ‘sengkleh’ hingga di atas 60%. Adapun pelepah tanaman sawit beliau yang sengkleh tidak lebih 10% saja. Pekebun sawit lain mengalami ‘TRACK BUAH’, sedangkan tanaman beliau masih berbuah dan tetap melakukan panen. Pasca kekeringan ekstrim ini masa recovery atau pemulihan sawit beliau ke kondisi normal tentu akan lebih cepat teratasi sehingga lebih cepat normal kembali.

Padahal faktanya dosis pupuk makro (NPK) yang Beliau aplikasikan hanya 4 Kg/Pohon/Thn. Untuk sawit umur 10 tahun, dosis tersebut sangat jauh dari ideal. Sebagai gambaran dosis pupuk makro perusahaan terdekat mencapai 9 - 9,5 Kg/Pohon/Thn. Tetapi kondisi tanamannya jauh lebih mengenaskan dibandingkan kebun sawit beliau.

Semoga berkah ..
16/01/2019

Semoga berkah ..

Dengan penggunaan pupuk  organik  modern tanaman sehat  hasil meningkat..
12/01/2019

Dengan penggunaan pupuk organik modern tanaman sehat hasil meningkat..

Sebagai bahan pangan pokok di Indonesia, beras mutlak dibutuhkan dalam jumlah yang besar dan berkelanjutan. Dan alangkah baiknya kalau kita sebagai negara agraria, mampu menghasilkan sendiri tanpa …

Yang mau punya  bisnis baru silahkan baca dulu..!!
02/01/2019

Yang mau punya bisnis baru silahkan baca dulu..!!

potensi bisnis Nasa. Bisnis NASA merupakan salah satu peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Bisnis ini bergerak dalam bidang distribusi produk pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan kes…

02/01/2019

Peluang bisnis budidaya ikan patin menurut kami suatu peluang yang cukup bagus untuk menjadi salah satu pilihan Anda dalam usaha budidaya perikanan karena ikan patin merupakan jenis ikan …

14/12/2018

Address

Desa Pasir Jaya. Kp. Bunut. Rt. 03/02. Jln. Swadaya. No. 37
Tangerang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tani organik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share