10/06/2026
SESEKALI AKU PENGEN TAU MENENGOK TENTANG NEGRIKU INI
BETAPA KAYANYA NEGRI KITA NAMUN APALAH DAYA KITA TAK BISA MENGOLAH SENDIRI
Penampakan Tambang Grasberg di Papua Milik Freeport Indonesia dengan kedalaman 1.500 M π€
Tambang Grasberg yang terletak di Papua, Indonesia, adalah salah satu tambang tembaga dan emas terbesar di dunia. Tambang ini dikelola oleh PT Freeport Indonesia, bagian dari Freeport-McMoRan, perusahaan tambang internasional asal Amerika Serikat. Dengan kedalaman mencapai 1.500 meter, tambang ini terdiri dari dua bagian utama, yakni tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Pada bagian tambang terbuka, terlihat lubang besar yang terus menggali lebih dalam, sementara bagian bawah tanahnya memiliki jaringan terowongan yang sangat luas dan canggih. Proses penambangan di kedalaman tersebut menggunakan teknologi modern, dengan peralatan berat dan sistem pengangkutan yang canggih.
Tambang Grasberg memiliki kondisi yang sangat menantang, dengan suhu tinggi dan tekanan yang kuat di kedalaman 1.500 meter. Sistem penambangan bawah tanah memungkinkan untuk mengangkut material tambang dari kedalaman tersebut ke permukaan, meski dengan risiko dan tantangan besar. Meskipun berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, tambang ini juga menghadapi kontroversi terkait dampak lingkungan dan sosial, dengan kerusakan ekosistem lokal serta permasalahan yang timbul di kalangan masyarakat adat setempat.
Tambang Grasberg, meskipun menonjol dalam sektor pertambangan global, tetap menjadi contoh dari tantangan besar dalam mempertahankan keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Melansir dari faktanyagoogle_official, Penampakan tambang Grasberg di Papua milik yang viral di media sosial menarik perhatian publik karena dikenal sebagai tambang emas terbesar di dunia dengan kedalaman mencapai 1.500 meter.
Meskipun penambangan di permukaan telah berakhir pada 2019, operasi kini berfokus pada tiga tambang bawah tanah utama: Grasberg Block Cave, Deep Mill Level Zone, dan Big Gossan. Grasberg tetap menjadi pusat industri tambang yang vital, tidak hanya sebagai tambang emas terbesar tetapi juga sebagai tambang ketiga terbesar di dunia.
Dan inilah Hasil data era digital terbaca kawan para pemimpin terbaik negri ini π
Presiden Soeharto: Meneken Kontrak Karya (KK) pertama pada tahun 1967. Awalnya, pendapatan negara hanya bersandar pada royalti sekitar 1%. Sempat ada klausul divestasi, namun gugur karena PP No.20 Tahun 1994 yang membolehkan kepemilikan asing hingga 100%.Presiden B.J. Habibie: Fokus pada transisi pemerintahan di tengah krisis dan menjajaki awal desakan desentralisasi bagi Papua.Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Mulai menuntut perhatian dan keadilan lebih besar bagi masyarakat Papua atas kekayaan tambang yang dikeruk.Presiden Megawati Soekarnoputri: Memulai rintisan divestasi saham lanjutan meskipun realisasinya di lapangan masih sangat lambat dan didominasi pihak asing.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): Menerbitkan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu Bara yang menghidupkan kembali kewajiban divestasi perusahaan asing, mewajibkan hilirisasi, dan menuntut renegosiasi Kontrak Karya.Presiden Joko Widodo (Jokowi): Berhasil mengambil alih mayoritas saham menjadi 51,23% untuk Indonesia pada Desember 2018 tanpa menggunakan APBN. Jokowi juga mengklaim 70% pendapatan dari Freeport telah masuk ke kas negara.Presiden Prabowo Subianto: Melanjutkan estafet negosiasi untuk memperpanjang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), dengan kesepakatan penambahan porsi kepemilikan saham Indonesia menjadi 63% dan pembagian 10% saham khusus bagi masyarakat Papua
Source; faktanyagoogle_official