Soft Skills Institute

Soft Skills Institute Fanpage ini didedikasikan untuk memberikan knowledge dan informasi pelatihan SOFT SKILLS di sekolah, kampus, perusahaan dan komunitas.

Masa kecil kita begitu indah kala di Musholla/ Masjid, kadang kita nginep rame2 ketika takbiran ☺☺☺Bagaimana dengan anak...
04/02/2019

Masa kecil kita begitu indah kala di Musholla/ Masjid, kadang kita nginep rame2 ketika takbiran ☺☺☺

Bagaimana dengan anak2 zaman NOW?

31/01/2019
27/01/2016

Get the whole picture - and other photos from Kang Masduki

TIGA LANGKAH MEMULAI MENULISMalam ini, 4 Januari 2016 hari pertama di tahun 2016 kelas Laboratorium Dakwah (Labda) Batch...
05/01/2016

TIGA LANGKAH MEMULAI MENULIS

Malam ini, 4 Januari 2016 hari pertama di tahun 2016 kelas Laboratorium Dakwah (Labda) Batch #1 dimulai kembali. Program ini merupakan bagian dari tebar epos Soft Skills Institute. Ini pertemuan keempat, artinya sudah sebulan kelas ini berjalan, telah sepertiga waktu belajar dilalui. Sungguh saya merasa bahagia sekaligus haru atas perkembangan dari para peserta. Wabilkhusus tatkala mendengar deklarasi resolusi untuk menuntaskan visi hidup yang sudah terlebih dideklarasikan pada pertemuan pertama.

Pertemuan kelas kali ini membahas bagaimana mengumpulkan energi untuk bisa memulai menulis di blog pribadi. Membuat blog pribadi memang saya jadikan tugas liburan akhir tahun kemarin.

Setidaknya ada tiga langkah yang bisa kita lakukan untuk memulai menulis:
• Pertama, Pilih topik yang kita sukai, kuasai dan peduli.
• Kedua, Lakukan teknik menulis bebas (free writing). Mulai dengan menentukan batas waktu menulis, misal 10-15 menit. Menulislah hingga isi kepala habis. Jangan menilai tulisan. Jangan baca ulang. Setelah waktu habis, baru baca ulang dan lakukan koreksi.
• Ketiga, Menulis dengan meniru. Dalam buku dijelaskan bahwa meniru adalah cara dasar memperoleh pengetahuan. Di buku juga dijelaskan tentang metode meniru yang memberdayakan, wallaahu a’lam.

Jika bermanfaat, insya Allah nge-share artikel ini bagian dari .

Salam .

kangmasduki.com
edukator soft skills

SOFT SKILLS INSTITUTE
Training-Coaching-Consulting
www.softskills.web.id | [email protected]
0813-8099-3677; 0838-1231-2014 (SMS/WA/Telegram)

JOB SECURITYKalau masih ada yang berpikir job security bisa diperoleh dengan memberikan loyalitas, maka ujungnya tidak a...
29/12/2015

JOB SECURITY

Kalau masih ada yang berpikir job security bisa diperoleh dengan memberikan loyalitas, maka ujungnya tidak akan jauh dari kekecewaan. Harus diakui tidak semua perusahaan menyediakan ruang kesempatan bagi setiap karyawannya untuk berkarir sampai tingkat optimal. Apalagi dalam situasi saat ini dimana terjadi pengecilan kue ekonomi, pembengkakan biaya operasional dan serbuan produk-produk pesaing dari manca negara. Mayoritas perusahaan di negeri ini sedang terus berjuang untuk mengatasi kesulitan dirinya sebelum memikirkan karyawannya untuk berkarir.

Informasi yang dilansir oleh Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menyatakan per 30 September 2015, pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 62.321 orang. Angka ini berasal dari 14 provinsi di Indonesia (liputan6.com). Fakta ini mengajarkan kita bahwa “loyalitas” tidak berarti banyak saat tidak ada lagi tempat untuk kita memberikan loyalitas itu.

Dalam skala lebih keci; namun sering, merger dan akuisisi perusahaan tempat bekerja telah dan akan terus menjadi bagian kehidupan para professional.

Bagaimana dengan kita? Satu-satunya job security yang tersisa adalah keinginan untuk terus belajar tentang ilmu dan skill yang spesifik serta kesetiaan pada profesi kita masing-masing.

Apakah kita harus takut dan khawatir? Jawabannya terserah Anda. We cannot change life but we can change the way we look at life.

Jika bermanfaat, insya Allah nge-share artikel ini bagian dari .

Salam .

kangmasduki.com
edukator soft skills

SOFT SKILLS INSTITUTE
Training-Coaching-Consulting
www.softskills.web.id | [email protected]
0813-8099-3677; 0838-1231-2014 (SMS/WA/Telegram)

APAKAH SAYA BAHAGIA?Salah satu narasi yang sangat kuat menandai zaman kita adalah diskursus mengenai kebahagiaan. Ratusa...
18/12/2015

APAKAH SAYA BAHAGIA?

Salah satu narasi yang sangat kuat menandai zaman kita adalah diskursus mengenai kebahagiaan. Ratusan bahkan mungkin ribuan buku dan artikel mendiskusikan masalah kebahagiaan. Ada beragam sudut pandang. Ada yang memotretnya dari sudut agama, psikologi populer, sosiologis, bahkan sastra dan seni. Jauh hari, kanjeng Nabi mengajarkan kita dalam doa-doa sapu jagat yang dilaungkan, “Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan (Ya Tuhan kami, Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat).”

Kali ini saya ingin meramaikan konsep psikologi positif yang dikembangkan oleh Prof. Seligman, yang saat itu baru dipilih sebagai presiden American Psychological Association, 1998. Saya setuju dengan konsep fokus pada keunggulan dalam konsep beliau. Saya juga memang menegaskan tatkala berbicara di depan para trainer Fokus Satu Hebat di Jakarta, bahwa madzhab buku Fokus Satu Hebat yang saya tulis adalah senafas dengan psikologi positif dan growth mindset.

Kembali tentang kebahagiaan, menurut Prof. Seligman, ada tiga cara untuk bahagia:

Pertama, have a pleasant life (life of enjoyment): Memiliki hidup yang menyenangkan, mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin (cara yang biasa ditempuh oleh kaum hedonis). Namun apabila cara ini yang kita tempuh, hati-hati terjebak dalam hedonic treadmill (semakin kita mencari kenikmatan, semakin kita sulit dipuaskan) dan jebakan habituation (kebosanan karena terlalu banyak). Lebih baik dalam takaran yang pas namun dapat membahagiakan kita. Saya menemukan takaran yang pas itu ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Temen-temen bisa cek dalam beragam nash yang bertaburan di teks keduanya tentang diskursus kebahagiaan.

Kedua, have a good life (life of engagement): Dalam bahasa aristoteles disebut eudaimonia. Terlibat dalam pekerjaan, hubungan atau kegiatan yang membuat kita mengalami “flow”. Merasa terserap dalam kegiatan itu, seakan-akan waktu berhenti bergerak, kita bahkan tidak merasakan apapun, karena sangat “khusyu”. Bekerja, dan berkarya yang sesuai dengan tujuan hidup dan passion kita, insya Allah akan menemukan kondisi “flow” ini.

Ketiga, have a meaningful life (life of contribution): Memiliki semangat untuk melayani, berkontribusi dan bermanfaat bagi orang lain atau mahluk lain. Menjadi bagian dari organisasi atau kelompok, tradisi, gerakan atau harakah tertentu. Merasa hidup memiliki “makna” yang lebih tinggi dan lebih abadi di banding diri kita sendiri. Faktor kekitaan dan spiritual yang makin menghiasi hidup kita adalah indikatornya.

Saya masih terus berupaya menjaga tensi kebahagiaan saya, makin meningkat. Bagaimana dengan Anda? Wallaahu a’lam.

Jika bermanfaat, insya Allah nge-share artikel ini bagian dari .

Salam .

kangmasduki.com
edukator soft skills

SOFT SKILLS INSTITUTE
Training-Coaching-Consulting
www.softskills.web.id | [email protected]
0813-8099-3677; 0838-1231-2014 (SMS/WA/Telegram)

Guru kehidupan saya, Rene Suhardono pernah mengajarkan, kalau dipikir, hampir-hampir tidak ada yang lebih fair selain wa...
16/12/2015

Guru kehidupan saya, Rene Suhardono pernah mengajarkan, kalau dipikir, hampir-hampir tidak ada yang lebih fair selain waktu bagi manusia. Semua dapat jatah sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan, dan 12 bulan setahun. Jika di perusahaan, mulai dari CEO sampai management trainee memiliki waktu dalam besaran yang sama. Jika di kampus, dari rektor hingga dosen honorer memiliki jatah waktu yang sama. Pun demikian, jika di sekolah, mulai kepala sekolah hingga guru bantu memiliki jatah waktu yang tidak berbeda. Konsep pengelolaan waktu yang baik hampir selalu berbanding lurus dengan pencapaian dalam hidup: karier, bisnis dan dakwah. Tapi pengelolaan waktu saja ternyata belum cukup. Dengan jatah waktu yang sama, bagaimana menjelaskan perbedaan dalam pencapaian masing-masing professional dalam karier, bisnis dan dakwah? Ternyata ada faktor lain yang perlu kita perhatikan, energi.

Sekadar contoh, karier adalah segala hal yang kita kerjakan pada sebagian besar waktu saat kita “melek”. Bukan cuma sekadar bicara pekerjaan atau proses mendapatkan uang, karier adalah segala hal yang berkaitan dengan tujuan dan passion hidup kita. Energi adalah bahan bakar dalam karier, bisnis dan dakwah untuk terus bekerja, berkarya dan berkontribusi.

Masih ingat pertama kali masuk kerja? We were excited about working and starting up our career. Awalnya, begitu besar energi yang kita miliki untuk bekerja. Lembur tidak pernah jadi masalah, demikian juga gaji yang nggak seberapa (kalau dibandingkan sekarang). Energi terasa memudar atau bahkan hilang seiring dengan waktu berjalan. Bangun pagi untuk kerja yang dulu terasa menyegarkan sekarang justru melelahkan. Kepedulian akan pekerjaan, rekan kerja, dan perusahaan yang dulu sedemikian besar, belakangan terasa basa-basi.

Solusinya apa d**g? Memunculkkan kembali energi kita. Bagaimana caranya? Mengingat kembali pada tujuan hidup dan passion kita. Anda ingat khutbah Jumat? Prosesi khutbah ini menjadi kewajiban yang melekat pada sholat Jumat yang minggun itu. Kadang kita sudah tahu bahkan hafal dengan isi khutbah. Hanya saja, semua kita memang perlu maintenance. Ya, merawat iman. Menjaga keyakinan dan komitmen akan tujuan hidup. Saya menulis ini apakah saya sudah selesai dengan masalah ini? Tentu belum. Saya harus terus belajar kepada para guru kehidupan tentang hal ini. Belajar untuk setia pada apa yang menjadi tujuan hidup dan passion saya.

Dalam bahasa “kulon”, di sebut passion, it’s about knowing what you enjoy the most and what you are going to do about it. Pahami betul apa yang benar-benar kita kehendaki dalam hidup. Dan kenapa kita menghendakinya?

Mau tahu rasanya bekerja sesuai passion? Ingat saja saat-saat kita jatuh cinta. Semua terasa menyenangkan, more giving than taking. Demikian guru saya, Rene Suhardono mengajarkan.

Jika bermanfaat, insya Allah nge-share artikel ini bagian dari .

Salam .

kangmasduki.com
edukator soft skills

SOFT SKILLS INSTITUTE
Training-Coaching-Consulting
www.softskills.web.id | [email protected]
0813-8099-3677

KESIAPAN MENGHADAPI RESIKOTak dipungkiri, secara naluriah, Anda dan juga saya akan cenderung menghindari resiko dalam hi...
15/12/2015

KESIAPAN MENGHADAPI RESIKO

Tak dipungkiri, secara naluriah, Anda dan juga saya akan cenderung menghindari resiko dalam hidup. Hanya saja, rasionalitas kita berbicara lain. Siap atau tidak, resiko pasti akan kita temui dalam perjalanan kehidupan ini. Sehingga, hampir bisa dikatakan, ketidaksiapan kita dalam menghadapi resiko hidup, sejatinya tidak ada artinya bagi kita. Ketidaksiapan tersebut tidak akan pernah menyelamatkan kita.

Realitasnya, orang yang siap menghadapi resiko itulah yang biasanya justru meraih kemenangan. Kata-kta Robert T. Kiyosaki, seorang ahli keuangan internasional dan veteran pilot perang Vietnam, menarik untuk disimak. Ia mengatakan bahwa 95% pebisnis pada lima tahun pertama mengalami kegagalan, hanya 5% yang berhasil. Yang menarik, 5% yang berhasil itu adalah orang siap sebelumnya paling siap menghadapi kegagalan.

Mengapa demikian? Usut punya usut, ternyata bisa dijelaskan bahwa saat orang menerima kemungkinan terburuk pun siap, maka ia akan memperoleh kenyamanan. Tidak ada rasa was-was dan takut. Dengan itu ia akan mempunyai pikiran jernih dan mentalitas yang sehat. Sehingga ia akan punya daya kreatif yang tinggi dan daya tahan yang kokoh. Sangat wajar kalau akhirnya ia yang memperoleh kemenangan. Wallaahu a’lam.

Jika bermanfaat, insya Allah nge-share artikel ini bagian dari .

Salam .

kangmasduki.com
edukator soft skills

SOFT SKILLS INSTITUTE
Training-Coaching-Consulting
www.softskills.web.id | [email protected]
0813-8099-3677

18/11/2015
SINDROME KESEMPATAN EMASSering mendengar pepatah “Kesempatan emas tidak datang dua kali” ? Mungkin karena sangat menghay...
26/08/2015

SINDROME KESEMPATAN EMAS

Sering mendengar pepatah “Kesempatan emas tidak datang dua kali” ? Mungkin karena sangat menghayati pepatah tersebut, kebanyakan orang cenderung mengambil kesempatan apapun yang mereka anggap baik,tanpa peduli apakah mereka benar-benar menginginkannya. Misalnya saja, karena nilainilai Anda yang bagus, Anda mendapat tawaran untuk meneruskan S3 tanpa S2 terlebih dulu (ini memang dimungkinkan di beberapa negara seperti Australia atau Belanda).
Kesempatan tersebut memang bagus, tapi bila Anda sebenarnya lebih ingin berkarir di dunia industri, sebetulnya akan lebih bijaksana bila Anda mencari pengalaman bekerja, bukan memperlama kuliah. Tentu ceritanya lain lagi bila Anda memang tertarik untuk bekerja sebagai pengajar atau peneliti. Intinya, jangan langsung menyerbu setiap kesempatan emas yang datang pada Anda. Tanya dulu pada diri sendiri apakah tawaran tersebut sesuai dengan tujuan hidup Anda. Kepada dunia tentu Anda harus menjaga sikap rendah hati. Namun di saat yang sama, Anda juga harus menyadari potensi yang ada. Jangan meraup sesuatu hanya karena Anda
berpikir tidak mungkin mendapat kesempatan lain. Carilah kesempatan emas yang memang sesuai dengan tujuan hidup.


0813-8099-3677
[email protected]

NILAI IPK PENTING, TAPI SOFT SKILLS LEBIH PENTINGMenurut survei yang diterbitkan National Association of Collegesand Emp...
25/08/2015

NILAI IPK PENTING, TAPI SOFT SKILLS LEBIH PENTING

Menurut survei yang diterbitkan National Association of Colleges
and Employers (NACE) pada tahun 2002 di Amerika Serikat, dari hasil
jajak pendapat pada 457 pengusaha, diperoleh kesimpulan bahwa IP
hanyalah nomor 17 dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas.

Kualitas yang duduk di peringkat atas justru hal-hal yang kadang dianggap sekadar basa-basi ketika tertulis di iklan lowongan kerja. Misalnya, kemampuan berkomunikasi, integritas dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Kualitas-kualitas yang tidak terlihat wujudnya (intangible), namun sangat diperlukan ini, disebut juga soft skill.

Soft Skills Institute
0813-8099-3766
[email protected]

Pelaksanaan Training
25/08/2015

Pelaksanaan Training

Address

Jesisca I Blok D No. 8-9 Citra Raya
Tangerang
15710

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Soft Skills Institute posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share