27/03/2020
Seorang ibu di daerah X di pulau Jawa diperiksa oleh dinas setempat dan dinyatakan ODP (Orang Dalam Pengawasan) virus Corona. Hasil tes ibu ini baru bisa diketahui sekian hari kemudian. Maka sambil menunggu hasil tes keluar, si ibu diminta mengisolasi diri. Diam di rumah, jangan kemana-mana.
Apa yang terjadi?
Meski sudah diwanti-wanti, si ibu malah pergi ke pasar, belanja. Bahkan ia pergi ke tetangganya untuk membantu masak. Soalnya si tetangga mau punya hajat.
Saat hasil tes keluar, si ibu dinyatakan positif.
Petugas pun langsung menjemput si ibu untuk dikarantina dan juga mengisolasi warga satu komplek.
--------
Dari kisah tersebut, dapat diketahui bahwa si ibu ini tidak menunjukkan gejala terinfeksi. Kondisi badan yang 'baik-baik saja', membuat si ibu tetap beraktivitas.
Karena 'merasa sehat', maka ia memilih memanfaatkan waktunya untuk berbuat baik, membantu tetangga. Sungguh, tidak ada maksudnya untuk nulari orang lain.
Secuil kisah ini memberi begitu banyak pemahaman bagi saya:
1. Orang yang positif Corona bisa tampak sehat dan tanpa sadar menginfeksi orang-orang di dekatnya. Maka wajar saja jika mereka ngeyel, karena memang tidak ada tanda-tanda infeksi seperti yang selama ini tersebar (demam, batuk, pilek, sesak nafas).
2. Karena tidak muncul gejala, maka wajar jika diterapkan pembatasan atau jarak sosial. Artinya kalau antri jangan dekat-dekat, kalau rapat kasih jarak, menghindari bersentuhan.
3. Lebih lanjut lagi, kita juga harusnya maklum jika pemerintah membatasi kegiatan berkumpul, termasuk kegiatan ibadah. Tujuannya tentu untuk mengurangi penularan. Anjuran agar yang sakit jangan ke tempat ibadah jadi rancu karena ibu yang positif itupun gak merasa sakit dan gak muncul tanda-tanda sakit lho.
4. Setelah diperingatkan sedemikian, toh ibu ini tetap keluar rumah. Maka wajar saja kalau sebagian pihak minta lockdown. Itupun belum tentu pada nurut semua. Tapi setidaknya lockdown menegaskan agar kita tidak menyepelekan virus ini.
Intinya, baik yang setuju lockdown maupun tidak setuju lockdown pasti punya alasan masing-masing. Jangan saling menyudutkan. Mati karena virusnya belum tentu, jadi pengikut setan udah pasti (karena sombong, merasa pendapatnya paling benar).
Yang setuju lockdown, saya yakin sekarang pasti sudah . Tidak perlu diminta dan disuruh, sudah otomatis mengisolasi diri.
Yang tidak setuju lockdown inilah yang harus kita carikan solusi. Kenapa tidak setuju? Kendalanya apa? Kalau terkait urusan makan, sudah ada beberapa pihak yang bergerak mencarikan solusi. Ada yang siap membuat paket sembako, ada yang siap buka dapur umum, ada yang siap membantu jika kepala keluarga diisolasi terkait Corona.
Sudah ya. Berhenti meributkan lockdown vs anti lockdown.
Kasihan lho itu para nakes (tenaga kesehatan). Capek, pengen cuti enggak bisa, resiko tertular tinggi, udah gitu kostum dan alat pengaman lain mulai sedikit stoknya.
Saya ajak pembaca untuk berhenti cemas dengan yang masih pada berkeliaran tanpa uzur. Ini saatnya kita tawakal. Usaha edukasi toh sudah dilakukan. Kita kan gak bisa ngatur pikiran orang. Yang bisa diatur itu diri kita. Mau terus ngurusi yang ngeyel atau pilih bantu yang patuh?
Yuk. Kita fokus dengan apa yang bisa kita lakukan.
Yang bisa edukasi, terus edukasi. Tapi jangan maksa ya. Hidayah itu milik Allah. Kita gak bisa nuntut orang untuk sependapat dengan kita.
Yang ada dana, bisa bantu nakes. Sumbang masker, baju astronot (gak tau apa namanya), handsanitizer, atau apalah yang bisa bantu mereka. Buat pribadi beli masker kain aja, gak usah beli masker non medis. Kasihan nakes kalau harus 'rebutan' sama kita.
Supaya tau saja. Baju astronot yang harganya 169.000 itu sekarang angka enamnya yang di depan. Mahal. Udah gitu barangnya langka. Makanya ada yang pakai jas hujan. (Kebayang gak, di cuaca segerah ini harus pakai kostum seperti itu)
Yang tetangganya dokter atau perawat, sering-sering kasih semangat. Mereka ini butuh di dukung mentalnya.
Stop bersiteru.
Ayo membantu.
Kalau mau nyinyir, mau kesel, mau marah, mau ngeyel, sendiri aja. Jangan ajak-ajak.