IKUR Group

IKUR Group Perusahaan Holding yang membawahi 3 anak perusahaan: Lingkar Pakar, K***a Books & TAMAT Institute

Inspiring story for a new writer.
07/07/2020

Inspiring story for a new writer.

Anda belum bisa menulis? Baru jadi penulis pemula? Tulisan Anda masih biasa-biasa saja? Silahkan tonton video ini.

11/01/2020

Anda jebolan S2 atau S3 dengan IPK di atas 3,25?

Jangan sia-siakan kemampuan dan keahlian Anda!

Yuk bergabung bersama kami sebagai salah satu pakar di https://lingkarpakar.com/pakar/

Kemudian dapatkan pekerjaan freelance dengan penghasilan yang menjanjikan!

11/01/2020

Fenomena banjir seolah-olah terdengar tidak asing di telinga kita, karena bencana tersebut acap kali menimpa masyarakat. Hujan deras yang berkepanjangan menyebabkan bencana banjir yang tidak dapat dih

28/11/2019

KREATIVITAS

Kreativitas berasal dari kata “create” dan “activity”, artinya aktivitas menciptakan sesuatu. Sebelum membahas tentang manfaat kreativitas, kami ingin memulainya dengan unsur ontology dari creativity itu sendiri. Apa itu kreativitas?

Kata create (mencipta) bisa diilustrasikan dengan proses Tuhan menciptakan alam semesta. Menurut teori big bang, alam semesta pada awalnya berbentuk dari sebuah titik padat kemudian mengembang hingga mengalami ledakan dahsyat. Ini adalah proses yang menarik. Ternyata, kreativitas itu awalnya adalah sebuah titik. Titik tersebut diciptakan oleh Tuhan. Kemudian atas kuasa dan izin-Nya, titik tersebut berkembang (growing) menjadi sesuatu yang lebih indah dan lebih bernilai.

Itulah kreativitas. Ia merupakan aktivitas “mengembangkan sebuah titik”. Titik adalah starting point, awal kita melangkah dan berbuat sesuatu. Lalu apa hubungannya titik dengan masalah? Masalah adalah sesuatu yang senantiasa mengikuti perkembangan titik. Ia masuk ke dimensi ruang dan waktu, menyatu dalam diri manusia baik secara fisik maupun mental. Ia bergerak bersamaan dengan pergerakan kreativitas manusia.

Dalam pengertian tradisionalnya, sesungguhnya kreativitas berfungsi sebagai sistem untuk bertahan hidup (survival). Manusia tradisional sebelum mengenal teknologi memiliki bentuk kreativitas sendiri untuk bertahan hidup. Creativity for survival ini sesungguhnya juga masih tetap berlaku sampai saat ini, terutama dalam menghadapi persaingan bisnis.

Saya secara pribadi pernah bekerja di bidang kreativitas, yakni di media Televisi. Setiap hari saya berurusan dengan kreativitas. Sejak itu saya menyadari bahwa kreativitas itu memiliki harga yang sangat mahal. Sebuah produk bisa berhaga 1 juta, 10 juta atau 1 milyar tergantung pada kreativitasnya. Program TV yang kreatif dan diapresiasi oleh market mampu menghasilkan income 10 milyar dalam satu episode. Namun, ada p**a program yang hanya menghasilkan 100 juta, bahkan ada p**a yang “dibuang” dari slot tayangnya. Itulah “hukum alam” dari sebuah kreativitas.

Creativity & Problem

Jika seseorang memiliki sedikit masalah dan memiliki kreativitas yang rendah, maka ia akan menjadi manusia yang berada di titik regresi. Jika ia memiliki banyak masalah sementara kreativitasnya rendah, ia akan menjadi orang yang stress menghadapi masalah tersebut. Jika ia memiliki kreativitas yang tinggi namun tidak mengambil tantangan baru dalam hidup, ia hanya akan berada di zona nyaman (comfort zone) tanpa ada kemajuan kualitas hidup yang berarti. Sementara, jika ia menghadapi banyak masalah namun ia juga memiliki kreativitas yang tinggi, ia akan mengalami progresifitas dalam kualitas hidupnya.

Saya pribadi memiliki rasa kagum yang cukup tinggi terhadap fenomena lulusan pesantren di Indonesia, terutama pesantren yang memiliki model pendidikan yang memungkinkan para santrinya memiliki adversity management baik. Saya tidak pernah belajar di pesantren, namun saya mengamati dan mewawancarai banyak teman yang pernah belajar di pesantren. Dari informasi yang saya peroleh, saya kemudian merefleksikannya dengan konsep Transcendental Adversity Management (TAM).

Mungkin kita juga bisa melihat sendiri, bahwa rata-rata lulusan pesantren memiliki tingkat kemandirian lebih tinggi dari pelajar non-pesantren. Kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah juga relatif lebih matang dan terlatih. Di pesantren, mereka dilatih dan digembleng untuk hidup dalam keterbatasan dan serba kekurangan. Mereka harus tidur berjama’ah di satu kamar. Mereka harus bangun sebelum subuh, bahkan melakukan ibadah tahajud setiap hari. Mereka harus berdisiplin dalam mendirikan sholat, belajar dan mengerjakan kegiatan pribadi. Mereka dilatih memiliki solidaritas yang tinggi. Mereka dibiasakan menyelesaikan masalah secara kreatif dengan resource dan fasilitas apa adanya.

Rupanya, sadar maupun tidak, pesantren di Indonesia telah mendidik santri-santrinya untuk menjadi orang-orang yang progresif, yakni terbiasa menghadapi masalah yang banyak (high problems) dengan kemampuan kreativitas yang tinggi (high creativity). Mereka rata-rata merupakan orang yang mandiri dan berdikari. Meskipun tidak semua dari meraka berhasil menjadi orang kaya (sejahtera secara materi), namun kemampuannya menghadapi masalah hidup relatif lebih teruji di setiap waktu dan tempat. Mereka cenderung mampu bertahan hidup di mana saja, dan dalam situasi apa saja. Jarang mengeluh dan memiliki mentalitas yang kuat.

Bagaimana cara mengimplementasikan konsep ini di tempat lain? Tentu semua orang dapat dibentuk menjadi pribadi yang kreatif dan mandiri. Dalam organisasi bisnis, biasanya tanggungjawab dan tantangan kerja yang besar dapat menjadikan karyawan memiliki kecakapan yang di atas rata-rata. Karyawan perlu diberikan kepercayaan dan tanggungjawab yang berada di atas standar kemampuannya, sehingga ia dapat memperoleh pengalaman lebih untuk dipelajari dan meningkatkan kualitasnya.

Adversity training yang paling efektif adalah dengan terjun secara langsung dan berkotor-kotoran dalam lumpur masalah. Namun bukan berarti langsung terjun dalam masalah yang terlampau jauh dari proporsinya. Ibarat anak SD diberikan soal anak SMA, tentu yang terjadi adalah stress. Namun tidak p**a ditimpakan masalah yang terlalu ringan, sehingga menjadikan meraka berada di zona nyaman.

Masalah, kreativitas dan advsersity management adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam perspektif adversity management, masalah dapat difungsikan sebagai sarana untuk melatih diri mengembangkan kreativitas. Hanya saja, masalah tersebut harus dikelola dengan baik dan benar, agar proporsinya sesuai dengan kebutuhan pengembangan kualitas diri.

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA

25/11/2019

*PNS & KEBUTUHAN SDM ERA 4.0*

Tahun ini rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah dibuka. Salah satunya adalah rekrutmen Dosen oleh Kemdikbud. Karena penasaran, saya pun buka file kebutuhan formasi untuk pendidikan tinggi.

Wow, lumayan banyak juga ternyata kebutuhannya. Spontan saya berfikir, ternyata kebutuhan akan sumber daya pendidik masih tinggi. Padahal, dosen bahkan profesor kerapkali divonis, atau bahasa halusnya diprediksi, menjadi salah satu jenis profesi yang terancam musnah dari muka bumi.

Alasannya, profesi tersebut akan tersubstitusi oleh teknologi 4.0 yang mengkondisikan siswa/mahasiswa mampu belajar tanpa guidance dari manusia. Bahkan, instruksi atau arahan pembelajaran bisa dilakukan oleh mesin artificial intelligence (AI).

Dengan adanya rekrutmen dosen tahun ini, berarti negara masih memandang bahwa profesi pendidik masih dibutuhkan, setidaknya hingga 30 tahun yang akan datang.

Kok bisa? Kita hitung saja, kalau rata-rata usia dosen PNS yang direkrut tahun ini sekitar 30 tahunan, bukankah itu artinya negara siap menggajinya hingga usia pensiun (60 tahunan)?

Akan menjadi lucu bin ajaib, jika mereka dipensiunkan dini 10 tahun yang akan datang, hanya karena teknologi pembelajaran saat itu mungkin sudah seratus persen menggantikan peran dan fungsi dosen.

Seperti di Paris, ada sekolah bernama Ecole 42, sebuah sekolah coding yang didirikan oleh Xavier Niel sejak tahun 2013. Sekolah tersebut berjalan tanpa guru sama sekali.

Jika anda masuk ke websitenya, anda akan disambut dengan tagline: zero tuition, zero teachers, zero classes, 100 coding. Sekolah tersebut menerapkan pembelajaran peer-to-peer. Orientasinya adalah mencetak Software Engineer handal kelas dunia.

Akankah sekolah coding model Ecole 42 di Paris itu diduplikasi secara masal dan global? Menurut saya sangat possible. Model semacam itu berpeluang diadaptasi oleh sekolah-sekolah di seluruh dunia, termasuk Perguruan Tinggi.

Bahkan, pendidikan tinggi lebih possible dimulai lebih dulu, mengingat metode pembelajaran di Perguruan Tinggi adalah tipikal andragogi, dimana independensi mahasiswa dalam belajar jauh lebih tinggi dibanding siswa di sekolah.

Nah, pertanyaannya, kapan hal itu akan terjadi? 10 tahun lagi, 20 tahun lagi, atau jangan-jangan lebih cepat dari itu?

Pertanyaan ini adalah semacam thought experiment. Kita wajib bertanya kepada pemerintah, khususnya Mendikbud, bagaimana rencana strategisnya dalam menyongsong pendidikan 4.0?

Apakah profesi dosen, dan juga guru, akan tetap marketable di era 4.0? Apakah ke depannya antara pendidik dan teknologi 4.0 akan diposisikan komplementer (saling melengkapi), ataukah substitutif (teknologi menggantikan peran guru sepenuhnya)?

Saya termasuk orang yang bahagia mendengar informasi rekrutmen dosen tahun ini. Sekurang-kurangnya, itu bermakna profesi dosen masih dibutuhkan sebagai pendidik di Perguruan Tinggi. Kemdikbud sudah cukup bijaksana dalam mengambil langkah.

Jika kita berkaca dari sekolah Ecole 42, menurut saya ada beberapa hal yang perlu kita cermati.

Pertama, sekolah tanpa guru semacam itu hanya cocok diorientasikan untuk mempelajari satu jenis keahlian tertentu. Kedua, sekolah seperti itu pada umumnya, dan sebaiknya, dimiliki dan dijalankan oleh korporasi (swasta).

Ketiga, pengguna (users) dari sekolah semacam itu sangat segmented, tidak bisa menjadi model sekolah umum. Keempat, investasi mendirikan dan menjalankan sekolah semacam itu masih sangat besar, meski akan menjadi lebih murah setelah menjadi “mass luxury” (kemewahan masal).

Sehingga menurut saya, gagasan “impor” tentang sekolah tanpa guru atau perguruan tinggi tanpa dosen, harus dikaji secara hati-hati. Pemerintah jangan sampai salah langkah, apalagi sampai melakukan copy paste tanpa mempertimbangkan kondisi pendidikan di Indonesia.

Oleh karena itu, sustainability pendidikan harus kita jaga bersama, baik oleh pemerintah, swasta dan masyarakat. Pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya dan seutuh-utuhnya.

Adaptasi teknologi 4.0 ke dunia pendidikan harus tetap mempertimbangkan kesiapan (readiness) para pelaku dan semua stakeholders yang terlibat. Jangan sampai kita menjadi latah dengan perubahan zaman, hingga merugikan bangsa sendiri.

Sekali lagi, terima kasih kepada Kemdikbud yang telah membuka rekrutmen dosen tahun 2019 ini. Mungkin saya juga tertarik untuk mendaftar!

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA.

25/11/2019

TECHNOLOGY AND ADVERSITY

Semua orang memiliki problem dan tantangan hidupnya sendiri. Perbedaan kategori gender, usia dan status sosial-ekonomi berpengaruh terhadap tingkat diferensiasi masalah. Saat ini kita hidup di dunia yang sudah berbeda. Manusia post-modern dengan berbagai kerumitan hidupnya memiliki potensi stress yang jauh lebih besar.

Habitus (meminjam istilah Bourdieu) manusia semakin unik dengan pola sosialisasi dan komunikasi yang semakin tidak real. Revolusi teknologi terutama teknologi informasi telah mengkonstruksi habitus manusia menjadi pribadi yang memiliki ketergantungan terhadap fasilitas taknologi.

Keterpisahan manusia dengan teknologi bahkan bisa berdampak pada terjadinya depresi. Definisi dan makna kemalangan (adversity) agaknya sudah banyak berubah dari pengertian tradisionalnya.

Dalam praktek sehari-hari, agaknya teknologi dipandang sebagai tools untuk membantu mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia. Artinya, seharusnya teknologi dapat membantu seseorang memiliki skor AQ yang tinggi.

Namun, di saat manusia menghadapi persoalah rumit dalam hidupnya (kemalangan, kesengsaraan, ancaman), apakah teknologi dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut? Konon, teknologi adalah produk cipta, rasa dan karsa manusia yang paling fenomenal.

Namun apakah hasil kreasi manusia tersebut dapat dipergunakan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan hidup?

Rupanya teknologi memiliki paradoks dalam dirinya sendiri. Di satu sisi ia membantu mengatasi masalah hidup. Di sisi lain menciptakan permasalahan baru yang lebih kompleks. Bukankah dari hari ke hari masalah manusia semakin variatif?

Semakin tinggi peradaban manusia maka semakin tinggi p**a dinamika kehidupan yang terjadi. Apakah itu berarti p**a semakin tinggi teknologi, permasalahan manusia juga semakin banyak jumlahnya? Jika demikian, apa manfaatnya teknologi untuk solusi atas kemalangan (adversity) yang kita hadapi?

Fenomena ini lebih menarik jika kita mengamati generasi muda, terutama generasi Y, Z dan Aplha. Generasi ini adalah generasi yang sangat techno savvy, namun juga sangat addicted dan mengalami dependensi terhadap teknologi.

Bagaimana jika mereka mengalami keterpisahan (separation) dengan teknologi? Bagaimana cara mereka mengatasi permasalahan dan kesulitan hidupnya dalam kondisi keterbatasan akan fasilitas?

Kami merekomendasikan program Adversity Management Training (AMT) bagi generasi muda (gen Y, Z dan Aplha). Training ini diperlukan agar generasi muda lebih kuat dan mampu menghadapi persoalan yang beragam, baik persoalan yang bersifat kultural maupun struktural.

Jika kesengsaraan yang dialami oleh generasi muda disebabkan karena keterpisahan (detached) mereka dengan teknologi, bagaimana dengan generasi tua? Generasi tua justru sebaliknya. Banyak diantara mereka yang tidak bisa melakukan pekerjaan produktif secara cerdas (smart productive) karena ketidakmampuan mereka mengadaptasi teknologi.

Hal ini terjadi pada orang tua saya, terutama ibu saya. Ibu saya tidak bisa menggunakan handphone. Jangankan smartphone yang berbentuk touch screen, beliau bahkan tidak bisa melakukan SMS dengan menggunakan handphone dengan tipe yang sederhana. Sehingga untuk berkomunikasi dengan beliau saya harus meminta bantuan kepada adik saya yang masih sekolah.

Nah, adik saya ini justru tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak ada laptop dan smartphone. Jika jaringan internet sedang memburuk, maka ia akan terhambat mengerjakan tugas-tugas sekolah yang demikian menggunung. Lalu apakah generasi tua juga membutuhkan Adversity Management Training (AMT) sebagaimana generasi muda? Saya menjawab dengan tegas: YES!

Teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana dan moderat. Jika ia menciptakan ketergantungan, itu berarti kemalangan (adversity) berpotensi terjadi pada diri penggunanya. Dampak dari techno usage juga sudah dapat dirasakan secara psikologis dan sosiologis, misalnya terjadinya sexual abuse. Dan kerapkali hal ini menciptakan masalah baru yang lebih besar.

MACRO ADVERSITY

Kita, manusia yang hidup di awal abad 21 ini, adalah “spesies yang beruntung” (lucky species), sekaligus sebagai “spesies yang depresi” (depressed species). Kita beruntung karena kita dianugeri hidup di zaman transisi besar peradaban.

Kita adalah “spesies” yang penting dalam fase sejarah peradaban manusia. Kita hidup dimana revolusi teknologi informasi telah mengubah semua pola dan tata cara kehidupan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ummat manusia.

Namun, beban peradaban (civilization burden) saat ini sedang berada di pundak kita. Ini adalah fase-fase yang sangat mengkhawatirkan dan stressful, karena revolusi teknologi telah menciptakan dekonstruksi (meminjam istilah Derrida) nalar ummat manusia dan bangunan struktur kehidupan yang ada.

Hasilnya, kerusakan psikologis dan fisik terjadi di berbagai tempat. Kejiwaan manusia mengalami patologi, harmoni alam sudah tidak lagi berada di titik keseimbangan, dan materi menempati posisi lebih tinggi dari nilai (value).

Ini adalah apa yang saya namakan dengan istilah “macro adversity” (kemalangan makro). Kenapa gambaran makro ini penting? Karena agar kita sadar apa yang sedang terjadi pada dunia tempat kita hidup.

Masa depan kita penuh dengan tanda tanya. Jika spiritualitas manusia post-modern saat ini dipandang mengalami peningkatan, namun agaknya spiritualitas tersebut lebih bersifat individual sentris. Karena banyak orang yang seolah semakin spiritual namun bersengketa di ranah sosial.

Untuk itu, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif tentang spiritualitas. Spiritualitas tidak semata-mata bersifat personal, namun bersifat sosial. Jika spiritualitas bersifat ego-sentris, maka justru akan memunculkan kesengsaraan baru dalam kehidupan. Karena rasa peduli terhadap sesama akan sirna.

Kemalangan makro agaknya merupakan sebuah keniscayaan dan sunnatullah. Dalam setiap fase sejarah, hampir tidak ada situasi yang sepenuhnya benar-benar nyaman. Selalu saja ada hal-hal yang diluar titik keseimbangan.

Selalu saja ada patologi, deviasi dan penyimpangan. Selalu saja ada ketidaksesuaian antara das sein dan das sollen. Peradaban manusia telah melewati berbagai periode zaman yang sulit. Jika bukan bencana alam (banjir, tsunami, gunung meletus, gempa bumi), maka muncul penguasa despotik yang mengerikan. Keniscayaan ini perlu menjadi kesadaran kita, bahwa kita tidak hidup di ruang hampa (life in vacuum).

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA
Eva Dania Kosasih, M.Si., Apt.

25/11/2019

Selamat membaca.

25/11/2019

Address

Perumahan BKR Regency Blok Q No. 6
Tasikmalaya

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IKUR Group posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to IKUR Group:

Share