29/11/2019
MULTIPLE ADVERSITIES
Kaum psikolog aliran Gestalt mendefinisikan masalah sebagai situasi dimana terdapat kesenjangan atau ketidaksesuaian antar representasi-representasi kognitif. Sementara aliran psikologi behaviorisme menyatakan bahwa masalah terjadi apabila respon yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu kurang kuat dibanding dengan respon-respon lain. Dalam khasanah teori sosial ada p**a yang berpendapat bahwa masalah muncul karena tidak adanya titik temu antara harapan (das sein) dan kenyataan (das sollen).
Di sini saya tidak ingin banyak membahas masalah definisi. Kita bebas mengambil definisi yang kita sukai, atau yang sesuai dengan keinginan kita. Dalam perspektif manajemen, unsur analisa dan penemuan solusi lebih diutamakan.
Kita percaya bahwa permasalahan tidak memiliki variable tunggal. Krisis yang kita hadapi dalam hidup selalu memiliki variable masalah yang majemuk (multiple adversities). Sebagai pribadi, atau sebagai salah satu anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, sebagai karyawan atau bos di perusahaan, sebagai apapun status sosial yang melekat pada diri kita, masalah yang kita hadapi mengandung banyak variabel yang menyusunnya.
Hasil penelitian terhadap anak-anak dan generasi muda di Eropa, ditemukan beberapa bentuk multiple adversities seperti: maltreatment and violence, loss events, intra-familial problems, school dan interpersonal problems. Masalah-masalah tersebut rupanya memiiki dampak terhadap perilaku bunuh diri terutama di kalangan anak usia muda (European Child & Adolescent Psychiatry Journal).
1. Physical Adversity
Kesengsaraan fisik merupakan permasalahan yang paling basic dimiliki oleh seseorang. Boleh jadi masalah fisik bersifat bawaan sejak lahir. Bisa p**a ia terjadi setelah beranjak dewasa. Kendala fisik sesungguhnya bukan kesengsaraan yang menghambat kesuksesan seseorang. Postur tubuh pendek bukan masalah penting, terbukti orang-orang Jepang meskipun jauh lebih pendek dari orang-orang Barat mampu membuktikan bahwa mereka bisa menjadi bangsa yang hebat. Contoh yang lebih personal misalnya adalah pemain sepakbola Messi.
Meskipun Messi memiki postur tubuh yang relatif lebih pendek dari pesepak bola kelas dunia lainnya, ia mampu menjadi pemain terbaik dunia berturut-turut. Di dalam negeri misalnya, Profesor Habibi memiliki postur tubuh yang tidak tinggi, namun prestasinya di bidang teknologi pesawat diakui oleh semua orang di dunia. Selain mereka, masih banyak contoh orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik, namun mampu meraih kesuksesan.
Contoh physical Adversity adalah apa yang dialami oleh Nabi Ayub. Beliau mengalami sakit kronis yang berkepanjangan hingga delapan belas tahun. Namun beliau masih mampu memelihara keimanan dan tetap rajin beribadah kepada Allah.
Sakit fisik memang cukup menyengsarakan bagi orang yang mengalaminya. Apalagi jika sakitnya menghambat mobilitasnya. Namun, sakit fisik cenderung bersifat single-effect, yang mana hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Ia tidak bersifat multiple-effect. Orang yang memiliki kecerdasan transendental akan berfikir lebih positif, bahwa dibalik penyakit ada pelajaran hidup (ibroh). Kita seringkali hanya terfokuskan pada bagian tubuh yang sakit, tidak bagian tubuh yang sehat. Padahal masih banyak bagian tubuh lainnya yang dapat kita fungsikan untuk menjalani hidup dan menghasilkan karya.
2. Natural Adversity
Kesengsaraan alam (nature) memungkinkan terjadinya korban yang tidak sedikit. Saya merasakan dan mengalami sendiri peristiwa gempa bumi di Jogja tahun 2006 dan erupsi gunung merapi tahun 2010. Ribuan korban meninggal dunia. Rumah, sekolah, perkantoran, fasilitas publik semuanya hancur. Jika physical adversity cenderung bersifat single-effect, maka natural adversity mengandung multiple-effect. Jangkauan masalah ini lebih besar dan luas.
Namun natural adversity biasanya hanya terjadi sewaktu-waktu, bukan peristiwa yang sering dan rutin terjadi. Permasalahan ini masih dapat dikelola dengan baik, yakni dengan melakukan latihan siaga bencana. Berhasil tidaknya seseorang dalam menghadapi natural adversity sesungguhnya tergantung pada kesiapan subjeknya.
Di Jepang, Negara yang sudah terbiasa dengan peristiwa gempa, terbukti mampu melakukan disaster management dengan baik. Selain sistemnya sudah well-prepared, manusianya juga sudah memiliki awareness (kesadaran) yang kuat terhadap bencana. Mereka sudah well-trained.
Manajemen dalam menghadapi bencana alam memang harus dilakukan dengan baik. Dalam kisah Nabi Nuh, kita bisa belajar bahwa begitu mendapatkan informasi dari Tuhan akan datangnya banjir dahsyat, beliau langsung mempersiapkan dirinya dengan membuat bahtera besar. mempersiapkan kemungkinan merupakan bagian dari manajemen. Manajemen tidak hanya bersifat kuratif, namun juga prefentif.
Dalam teori manajemen tradisional, konsep planning, organizing, actuating dan controlling menunjukkan bahwa planning adalah unsur yang paling awal disusun. Untuk itu, jika kita ingin dapat mengelola kesengsaraan yang disebabkan faktor alam dengan baik, caranya adalah dengan membuat perencanaan, baik perencanaan struktur, program maupun mentalitasnya.
3. Material Adversity
Kemalangan akibat keterbatasan materi barangkali merupakan problem sebagian besar manusia. Problem materi memiliki dimensi yang luas, tidak hanya masalah keuangan, namun bisa p**a dalam bentuk fasilitas hidup, property, capital resource, dan lain sebagainya. Permasalahan ini tidak terkait dengan unsur alam, namun lebih berhubungan dengan jiwa entrepreneurship.
Salah satu contoh orang yang mampu mengatasi kesengsaraan materi adalah sahabat Rosulullah yang bernama Abdurrahman Bin Auf. Saat beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah, penguasa Makkah melarangnya membawa harta bendanya. Ia hanya mengenakan pakaian yang menempel dalam badannya.
Saat di Madinah, beliau dipersaudarakan dengan kaum Anshar yang kebetulan sangat kaya raya. Abdurrahman ditawarin separuh dari harta orang Anshar tersebut. Namun, ia menolaknya dengan cara yang sopan dan halus. Ia hanya ingin ditunjukkan dimana lokasi pasar Madinah. Karena jiwa entrepreneurship yang kuat, Abdurrahman pada akhirnya mampu membangun kerajaan bisnisnya di Madinah dari nol. Inilah yang namanya zero to hero.
Kesengsaraan materi memang telah banyak membuat orang berada dalam kehidupan yang kurang memuaskan. apalagi jika terjadi krisis ekonomi yang bersifat makro, maka permasalahan sosial yang lebih besar akan muncul: kemiskinan, kriminalitas, konflik sosial, dan sebagainya. Kesulitan di bidang ekonomi memang tidak hanya berdampak kepada rumah tangga individu, namun menyangkut rumah tangga yang lebih besar.
Namun sesunggunya materi adalah entitas yang bisa dicari. Banyak orang yang tidak bersekolah tinggi namun kaya raya. Meskipun banyak p**a yang bersekolah tinggi sekaligus juga berhasil dari sisi materi. Karena bisa dicari, semua orang memiliki peluang yang sama untuk mengusahakannya. Untuk itulah jiwa entrepreneurship dibutuhkan untuk mengatasi material adversity.
4. Social Adversity
Kesengsaraan sosial secara hierarki lebih tinggi dari kesulitan ekonomi. Terutama di masyarakat Indonesia. Orang Indonesia lebih merasa menderita jika tidak memiliki tetangga daripada tidak memiliki harta. Konon, menurut penelitian David McClelland, orang-orang timur (termasuk Indonesia) lebih dominan kebutuhan sosialnya (need for affiliation) daripada kebutuhannya untuk menggapai prestasi (need for achievement).
Betapa tidak? Pada lebaran tahun 2016, belasan orang meninggal dunia karena kemacetan arus mudik. Berita ini menjadi sorotan dunia, karena baru kali ini ada orang meninggal akibat kemacetan. Disini saya tidak akan membahas persoalan kemacetannya. Namun kita bisa tahu, bahwa mudik adalah kebutuhan orang Indonesia untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga, need for affiliation.
Kesimp**an ekstrimnya: untuk tetap menjaga kerukunan sosial, orang Indonesia rela mempertaruhkan nyawanya. Barangkali kesimp**an tersebut terlalu berlebihan. Namun itu cukup menggambarkan karakter masyarakat Indonesia. Karakter ini berkebalikan dengan masyarakat Barat, yang mana kebutuhan materi lebih urgent daripada kebutuhan sosial.
Orang Indonesia akan sangat menderita jika hidup dalam kesepian (loneliness). Apalagi jika dimusuhi oleh tetangga atau teman-temannya. Dunia terasa mau kiamat. Kita barangkali pernah merasakan bagaimana dimusuhi oleh seorang teman, mungkin teman bermain, teman organisasi atau teman kantor. Tidak enak rasanya jika bekerja tanpa adanya kolektivitas. Dampaknya, performance pekerjaan juga menurun. Kinerja organisasi atau perusahaan tidak akan maksimal jika unsur kerjasama antar anggota/karyawannya lemah.
Di era kini, barangkali social adversity sudah semakin rumit. Karena proses sosialisasi manusia tidak hanya dilakukan secara offline, namun juga online melalui social media. Di social media, rupanya kesengsaraan manusia semakin menjadi-jadi. Banyak orang yang berlomba untuk menonjolkan kehebatan dan kesuksesan dirinya, di satu sisi juga tidak sedikit yang melampiaskan deritanya melalui posting-postingan galau. Apakah kita termasuk orang yang melakukannya?
5. Policy Adversity
Kebijakan (policy) bisa menjadi penyebab kesengsaraan manusia, jika kebijakan tersebut bersifat dzalim (despotik). Penguasa idealnya memang memiliki kebijaksanaan (wisdom) dalam membuat kebijakan (policy). Kebijaksanaan dan kebijakan memiliki relasi yang tak terpisahkan. Jika kebijakan adalah output, maka kebijaksanaan adalah kualitas sikap yang mempengaruhi output. Jika pemimpin tidak bijaksana, hampir dipastikan kebijakan yang muncul tidak akan mendatangkan kemaslahatan. Sebaliknya, ia menghasilkan kemalangan massal.
Kesengsaraan yang disebabkan oleh kebijakan yang tidak bijaksana memiliki resiko yang lebih tinggi dari kesengsaraan akibat tekanan sosial. Karena kebijakan bersifat sistematis, terstruktur dan mengikat. Ia disupport oleh hukum.
Contoh klasik yang bersejarah adalah kisah Nabi Musa versus Fir’aun. Fir’aun adalah raja yang despotik. Ia tidak hanya memiliki kekuasaan otoriter dan totaliter, bahkan ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dampaknya, ribuan bani Israil menjadi korban eksploitasi. Musa hadir untuk membebaskan kaumnya dan menghentikan keangkuhan Fir’aun.
Meskipun zaman sudah berubah, nyaris tidak ada raja yang despotik seumpama Fir’aun saat ini, namun banyak pemimpin di Negara-negara demokratis yang memiliki kebijakan tidak pro-rakyat. Terutama rakyat lemah dan tidak berdaya. Demikian p**a di level yang lebih mikro, misalnya di korporasi/perusahaan dan organisasi.
Banyak karyawan/bawahan yang menderita karena kebijakan bos yang tidak bijaksana. Akibatnya, banyak karyawan resign dari perusahaan, bukan karena tidak menyukai pekerjaannya, namun karena tidak cocok dengan gaya kepemimpinan atasan/manajernya. Kasus ini sudah biasa terjadi. Dan menjadi pekerjaan rumah HRD untuk mencari solusi atas permasalahan ini.
6. Pleasure Adversity
Kesenangan (pleasure) berpotensi menjadi permasalahan yang lebih besar dari permasalahan yang sudah dibahas sebelumnya. Kesenangan berhubungan dengan hawa nafsu. Rata-rata manusia kesulitan dalam melakukan control atau pengendalian diri sendiri. Banyak orang yang tidak tergoda oleh harta dan kekuasaan. Namun tidak banyak orang yang mampu bertahan dari godaan kesenangan duniawi, terutama wanita.
Banyak laki-laki yang kekuasaannya hancur atau karirnya jatuh karena wanita. Sebutlah misalnya apa yang dialami oleh tokoh-tokoh besar bidang politik di Amerika: Thomas Jefferson dan Sally Hemings, Bill Clinton dan Monica Lewinsky, Gary Hart dan Donna Rice. Namun, laki-laki juga bisa menjadi godaan buat wanita. Contoh yang terabadikan dalam sejarah adalah kisah Zulaikha yang tergoda dengan ketampanan nabi Yusuf.
Permasalahan cinta memang persoalan yang abadi sepanjang zaman. Saya pribadi menyukai karya sastra. Dan salah satu novel yang menjadi favorit saya adalah Layla Majnun. Novel ini berkisah tentang kisah cinta dua insan manusia. Qeis, tokoh pemuda dalam novel tersebut, dijuluki majnun (gila) karena cintanya yang demikian menggelora kepada Layla. Ia mati dalam keadaan gila, dalam rindu yang begitu menggebu terhadap kekasihnya, Layla. Demikian p**a kisah Romeo and Juliet karya Shakespiere.
Kesengsaraan karena cinta memang tidak ada habisnya. Selalu menciptakan rasa galau, namun juga nikmat. Selalu menjadi permasalahan hidup yang ada di setiap ruang dan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, masalah cinta senantiasa hadir sebagaimana selalu hadirnya cahaya matahari dari timur. Ia muncul dan tenggelam mengikuti bolak-baliknya hati manusia. Anak-anak muda banyak yang memilih pacaran.
Namun, rupanya mereka selalu galau dengan pacarnya. Celakanya, yang tidak pacaran juga tidak kalah galau. Dalam perspektif Transcendental Adversity Management, orang yang memiliki keimanan kuat seharusnya tidak akan tenggelam dalam masalah ini. Terbukti, nabi Yusuf dengan keimanannya mampu bertahan dari godaan seorang wanita yang super cantik seperti Zulaikha. Tapi, bukankah itu keimanan kelas nabi?
Bukankah kita hanya manusia biasa yang lemah? Untuk itu, melalui pemahaman dan implementasi konsep TAM ini, diharapkan kita bisa belajar dari contoh-contoh manusia terbaik sebagai sumber inspirasi yang dapat membuat kita menjadi pribadi lebih baik.
7. Brain Adversity
Banyak masalah yang bisa dihadapi dengan relatif lebih mudah. Masalah kesehatan, masalah bencana alam, masalah krisis ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, masalah yang ada di kepala kita rupanya tidak mudah untuk dihadapi. Masalah apa itu? Masalah cara berfikir. Masalah mindset.
Sumber permasalahan manusia rupanya ada di dalam kepalanya sendiri. Banyak orang yang berfikir bahwa dia bodoh. Akhirnya mereka bodoh sepanjang hidupnya. Tidak sedikit yang berfikir bahwa mereka tidak mampu untuk sukses. Akhirnya mereka tidak mampu meraih sukses. Cara berfikir rupanya dapat menjadi barrier (penghalang) manusia untuk berkembang. Pendidikan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengubah cara berfikir seseorang.
Cara berfikir orang bodoh dapat menjadi sumber kesengsaraan tersendiri pada dirinya. Namun cara berfikir orang cerdas rupanya dapat menciptakan kesengsaraan yang lebih besar, bahkan lebih dahsyat dari efek bencana alam.
Cara berfikir yang terlampau rasional dapat menyebabkan manusia tidak percaya akan adanya Tuhan. Ia berfikir bahwa dunia ini terjadi dengan sendirinya melalui mekanisme alam (law of nature). Ini ajaran atheisme. Ada p**a yang berfikir bahwa Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya, namun tugas-Nya selesai sampai disitu. Tuhan tidak melakukan intervensi terhadap perjalanan hidup manusia.
Pemikiran yang bersumber dari kebebasan berfikir ini dapat menciptakan kesengsaraan hidup yang lebih besar. bukan hanya berskala lokal, namun global. Bukankah ini lebih berbahaya dari peristiwa gempa bumi yang hanya menelan ribuan orang? Pemikiran yang meniadakan peran Tuhan sepanjang usianya telah menyebabkan jutaan manusia hidup tanpa mengenal Tuhan hingga matinya. Dalam perspektif TAM, ini merupakan kemalangan yang luar biasa.
8. Belief Adversity
Kesengsaraan akibat keyakinan dipandang sebagai the highest level of adversity. Ini adalah kesengsaraan yang paling tinggi, paling maha dahsyat dibanding dengan kesengsaraan lainnya. Krisis keimanan berdampak pada semua dimensi kehidupan, dari mulai dimensi individu, keluarga, masyarakat, bangsa hingga peradaban.
Peradaban yang tidak memiliki pijakan keimanan adalah peradaban yang barbar dan fragile. Banyak bangsa telah hancur karena tidak didasari oleh keyakinan akan adanya Tuhan. Ilmu pengetahuan tanpa agama akan rusak. Teknologi tanpa spiritualitas akan kacau. Politik tanpa moralitas akan menindas.
Di titik yang ekstrem, orang yang tidak beriman akan hidup dalam jurang kesengsaraan. Di titik ekstrem berikutnya, orang yang keliru dalam memaknai iman juga akan terjerembab pada perbuatan membabi buta. Seolah-olah memperjuangkan keimanan, padahal sebaliknya. Yang bermain sesungguhnya bukan hati nuraninya, namun ego-keimanannya. Padahal, keimanan yang benar adalah keimanan yang diselimuti oleh hikmah dan kebijaksanaan (wisdom).
Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA