TAMAT Institute

TAMAT Institute Perusahaan pelatihan dan konsultasi seputar SDM, pemasaran dan bisnis.

https://youtu.be/QMcIO0AFeY4
07/07/2020

https://youtu.be/QMcIO0AFeY4

Anda belum bisa menulis? Baru jadi penulis pemula? Tulisan Anda masih biasa-biasa saja? Silahkan tonton video ini.

11/12/2019

KREATIVITAS

Kreativitas berasal dari kata “create” dan “activity”, artinya aktivitas menciptakan sesuatu. Sebelum membahas tentang manfaat kreativitas, kami ingin memulainya dengan unsur ontology dari creativity itu sendiri. Apa itu kreativitas?

Kata create (mencipta) bisa diilustrasikan dengan proses Tuhan menciptakan alam semesta. Menurut teori big bang, alam semesta pada awalnya berbentuk dari sebuah titik padat kemudian mengembang hingga mengalami ledakan dahsyat. Ini adalah proses yang menarik. Ternyata, kreativitas itu awalnya adalah sebuah titik. Titik tersebut diciptakan oleh Tuhan. Kemudian atas kuasa dan izin-Nya, titik tersebut berkembang (growing) menjadi sesuatu yang lebih indah dan lebih bernilai.

Itulah kreativitas. Ia merupakan aktivitas “mengembangkan sebuah titik”. Titik adalah starting point, awal kita melangkah dan berbuat sesuatu. Lalu apa hubungannya titik dengan masalah? Masalah adalah sesuatu yang senantiasa mengikuti perkembangan titik. Ia masuk ke dimensi ruang dan waktu, menyatu dalam diri manusia baik secara fisik maupun mental. Ia bergerak bersamaan dengan pergerakan kreativitas manusia.

Dalam pengertian tradisionalnya, sesungguhnya kreativitas berfungsi sebagai sistem untuk bertahan hidup (survival). Manusia tradisional sebelum mengenal teknologi memiliki bentuk kreativitas sendiri untuk bertahan hidup. Creativity for survival ini sesungguhnya juga masih tetap berlaku sampai saat ini, terutama dalam menghadapi persaingan bisnis.

Saya secara pribadi pernah bekerja di bidang kreativitas, yakni di media Televisi. Setiap hari saya berurusan dengan kreativitas. Sejak itu saya menyadari bahwa kreativitas itu memiliki harga yang sangat mahal. Sebuah produk bisa berhaga 1 juta, 10 juta atau 1 milyar tergantung pada kreativitasnya. Program TV yang kreatif dan diapresiasi oleh market mampu menghasilkan income 10 milyar dalam satu episode. Namun, ada p**a program yang hanya menghasilkan 100 juta, bahkan ada p**a yang “dibuang” dari slot tayangnya. Itulah “hukum alam” dari sebuah kreativitas.

Creativity & Problem

Jika seseorang memiliki sedikit masalah dan memiliki kreativitas yang rendah, maka ia akan menjadi manusia yang berada di titik regresi. Jika ia memiliki banyak masalah sementara kreativitasnya rendah, ia akan menjadi orang yang stress menghadapi masalah tersebut. Jika ia memiliki kreativitas yang tinggi namun tidak mengambil tantangan baru dalam hidup, ia hanya akan berada di zona nyaman (comfort zone) tanpa ada kemajuan kualitas hidup yang berarti. Sementara, jika ia menghadapi banyak masalah namun ia juga memiliki kreativitas yang tinggi, ia akan mengalami progresifitas dalam kualitas hidupnya.

Saya pribadi memiliki rasa kagum yang cukup tinggi terhadap fenomena lulusan pesantren di Indonesia, terutama pesantren yang memiliki model pendidikan yang memungkinkan para santrinya memiliki adversity management baik. Saya tidak pernah belajar di pesantren, namun saya mengamati dan mewawancarai banyak teman yang pernah belajar di pesantren. Dari informasi yang saya peroleh, saya kemudian merefleksikannya dengan konsep Transcendental Adversity Management (TAM).

Mungkin kita juga bisa melihat sendiri, bahwa rata-rata lulusan pesantren memiliki tingkat kemandirian lebih tinggi dari pelajar non-pesantren. Kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah juga relatif lebih matang dan terlatih. Di pesantren, mereka dilatih dan digembleng untuk hidup dalam keterbatasan dan serba kekurangan. Mereka harus tidur berjama’ah di satu kamar. Mereka harus bangun sebelum subuh, bahkan melakukan ibadah tahajud setiap hari. Mereka harus berdisiplin dalam mendirikan sholat, belajar dan mengerjakan kegiatan pribadi. Mereka dilatih memiliki solidaritas yang tinggi. Mereka dibiasakan menyelesaikan masalah secara kreatif dengan resource dan fasilitas apa adanya.

Rupanya, sadar maupun tidak, pesantren di Indonesia telah mendidik santri-santrinya untuk menjadi orang-orang yang progresif, yakni terbiasa menghadapi masalah yang banyak (high problems) dengan kemampuan kreativitas yang tinggi (high creativity). Mereka rata-rata merupakan orang yang mandiri dan berdikari. Meskipun tidak semua dari meraka berhasil menjadi orang kaya (sejahtera secara materi), namun kemampuannya menghadapi masalah hidup relatif lebih teruji di setiap waktu dan tempat. Mereka cenderung mampu bertahan hidup di mana saja, dan dalam situasi apa saja. Jarang mengeluh dan memiliki mentalitas yang kuat.

Bagaimana cara mengimplementasikan konsep ini di tempat lain? Tentu semua orang dapat dibentuk menjadi pribadi yang kreatif dan mandiri. Dalam organisasi bisnis, biasanya tanggungjawab dan tantangan kerja yang besar dapat menjadikan karyawan memiliki kecakapan yang di atas rata-rata. Karyawan perlu diberikan kepercayaan dan tanggungjawab yang berada di atas standar kemampuannya, sehingga ia dapat memperoleh pengalaman lebih untuk dipelajari dan meningkatkan kualitasnya.

Adversity training yang paling efektif adalah dengan terjun secara langsung dan berkotor-kotoran dalam lumpur masalah. Namun bukan berarti langsung terjun dalam masalah yang terlampau jauh dari proporsinya. Ibarat anak SD diberikan soal anak SMA, tentu yang terjadi adalah stress. Namun tidak p**a ditimpakan masalah yang terlalu ringan, sehingga menjadikan meraka berada di zona nyaman.

Masalah, kreativitas dan advsersity management adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan. Dalam perspektif adversity management, masalah dapat difungsikan sebagai sarana untuk melatih diri mengembangkan kreativitas. Hanya saja, masalah tersebut harus dikelola dengan baik dan benar, agar proporsinya sesuai dengan kebutuhan pengembangan kualitas diri.

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA

Trustworthiness – RelationshipSeorang leader harus bisa dipercaya oleh orang lain. Kepercayaan tersebut dibangun berdasa...
30/11/2019

Trustworthiness – Relationship

Seorang leader harus bisa dipercaya oleh orang lain. Kepercayaan tersebut dibangun berdasarkan pada relationship yang terbuka, ikhlas dan jujur baik antara leader dengan followersnya maupun dengan customers di luar perusahaan yang dipimpinnya. Untuk dapat membangun kepercayaan yang tinggi ia harus menjalin hubungan dengan orang lain.

Relationship dan Trustworthiness yang sama-sama tinggi akan menghasilkan Lasting Friendship.

Trend consumer’s behavior di zaman post-modern lebih bersifat emotional (eM) sehingga relasi sangat penting dalam rangka membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen.

TAMAT Institute

MULTIPLE ADVERSITIESKaum psikolog aliran Gestalt mendefinisikan masalah sebagai situasi dimana terdapat kesenjangan atau...
29/11/2019

MULTIPLE ADVERSITIES

Kaum psikolog aliran Gestalt mendefinisikan masalah sebagai situasi dimana terdapat kesenjangan atau ketidaksesuaian antar representasi-representasi kognitif. Sementara aliran psikologi behaviorisme menyatakan bahwa masalah terjadi apabila respon yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu kurang kuat dibanding dengan respon-respon lain. Dalam khasanah teori sosial ada p**a yang berpendapat bahwa masalah muncul karena tidak adanya titik temu antara harapan (das sein) dan kenyataan (das sollen).

Di sini saya tidak ingin banyak membahas masalah definisi. Kita bebas mengambil definisi yang kita sukai, atau yang sesuai dengan keinginan kita. Dalam perspektif manajemen, unsur analisa dan penemuan solusi lebih diutamakan.

Kita percaya bahwa permasalahan tidak memiliki variable tunggal. Krisis yang kita hadapi dalam hidup selalu memiliki variable masalah yang majemuk (multiple adversities). Sebagai pribadi, atau sebagai salah satu anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, sebagai karyawan atau bos di perusahaan, sebagai apapun status sosial yang melekat pada diri kita, masalah yang kita hadapi mengandung banyak variabel yang menyusunnya.

Hasil penelitian terhadap anak-anak dan generasi muda di Eropa, ditemukan beberapa bentuk multiple adversities seperti: maltreatment and violence, loss events, intra-familial problems, school dan interpersonal problems. Masalah-masalah tersebut rupanya memiiki dampak terhadap perilaku bunuh diri terutama di kalangan anak usia muda (European Child & Adolescent Psychiatry Journal).

1. Physical Adversity

Kesengsaraan fisik merupakan permasalahan yang paling basic dimiliki oleh seseorang. Boleh jadi masalah fisik bersifat bawaan sejak lahir. Bisa p**a ia terjadi setelah beranjak dewasa. Kendala fisik sesungguhnya bukan kesengsaraan yang menghambat kesuksesan seseorang. Postur tubuh pendek bukan masalah penting, terbukti orang-orang Jepang meskipun jauh lebih pendek dari orang-orang Barat mampu membuktikan bahwa mereka bisa menjadi bangsa yang hebat. Contoh yang lebih personal misalnya adalah pemain sepakbola Messi.

Meskipun Messi memiki postur tubuh yang relatif lebih pendek dari pesepak bola kelas dunia lainnya, ia mampu menjadi pemain terbaik dunia berturut-turut. Di dalam negeri misalnya, Profesor Habibi memiliki postur tubuh yang tidak tinggi, namun prestasinya di bidang teknologi pesawat diakui oleh semua orang di dunia. Selain mereka, masih banyak contoh orang-orang yang mengalami keterbatasan fisik, namun mampu meraih kesuksesan.

Contoh physical Adversity adalah apa yang dialami oleh Nabi Ayub. Beliau mengalami sakit kronis yang berkepanjangan hingga delapan belas tahun. Namun beliau masih mampu memelihara keimanan dan tetap rajin beribadah kepada Allah.

Sakit fisik memang cukup menyengsarakan bagi orang yang mengalaminya. Apalagi jika sakitnya menghambat mobilitasnya. Namun, sakit fisik cenderung bersifat single-effect, yang mana hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Ia tidak bersifat multiple-effect. Orang yang memiliki kecerdasan transendental akan berfikir lebih positif, bahwa dibalik penyakit ada pelajaran hidup (ibroh). Kita seringkali hanya terfokuskan pada bagian tubuh yang sakit, tidak bagian tubuh yang sehat. Padahal masih banyak bagian tubuh lainnya yang dapat kita fungsikan untuk menjalani hidup dan menghasilkan karya.

2. Natural Adversity

Kesengsaraan alam (nature) memungkinkan terjadinya korban yang tidak sedikit. Saya merasakan dan mengalami sendiri peristiwa gempa bumi di Jogja tahun 2006 dan erupsi gunung merapi tahun 2010. Ribuan korban meninggal dunia. Rumah, sekolah, perkantoran, fasilitas publik semuanya hancur. Jika physical adversity cenderung bersifat single-effect, maka natural adversity mengandung multiple-effect. Jangkauan masalah ini lebih besar dan luas.

Namun natural adversity biasanya hanya terjadi sewaktu-waktu, bukan peristiwa yang sering dan rutin terjadi. Permasalahan ini masih dapat dikelola dengan baik, yakni dengan melakukan latihan siaga bencana. Berhasil tidaknya seseorang dalam menghadapi natural adversity sesungguhnya tergantung pada kesiapan subjeknya.

Di Jepang, Negara yang sudah terbiasa dengan peristiwa gempa, terbukti mampu melakukan disaster management dengan baik. Selain sistemnya sudah well-prepared, manusianya juga sudah memiliki awareness (kesadaran) yang kuat terhadap bencana. Mereka sudah well-trained.

Manajemen dalam menghadapi bencana alam memang harus dilakukan dengan baik. Dalam kisah Nabi Nuh, kita bisa belajar bahwa begitu mendapatkan informasi dari Tuhan akan datangnya banjir dahsyat, beliau langsung mempersiapkan dirinya dengan membuat bahtera besar. mempersiapkan kemungkinan merupakan bagian dari manajemen. Manajemen tidak hanya bersifat kuratif, namun juga prefentif.

Dalam teori manajemen tradisional, konsep planning, organizing, actuating dan controlling menunjukkan bahwa planning adalah unsur yang paling awal disusun. Untuk itu, jika kita ingin dapat mengelola kesengsaraan yang disebabkan faktor alam dengan baik, caranya adalah dengan membuat perencanaan, baik perencanaan struktur, program maupun mentalitasnya.

3. Material Adversity

Kemalangan akibat keterbatasan materi barangkali merupakan problem sebagian besar manusia. Problem materi memiliki dimensi yang luas, tidak hanya masalah keuangan, namun bisa p**a dalam bentuk fasilitas hidup, property, capital resource, dan lain sebagainya. Permasalahan ini tidak terkait dengan unsur alam, namun lebih berhubungan dengan jiwa entrepreneurship.

Salah satu contoh orang yang mampu mengatasi kesengsaraan materi adalah sahabat Rosulullah yang bernama Abdurrahman Bin Auf. Saat beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah, penguasa Makkah melarangnya membawa harta bendanya. Ia hanya mengenakan pakaian yang menempel dalam badannya.

Saat di Madinah, beliau dipersaudarakan dengan kaum Anshar yang kebetulan sangat kaya raya. Abdurrahman ditawarin separuh dari harta orang Anshar tersebut. Namun, ia menolaknya dengan cara yang sopan dan halus. Ia hanya ingin ditunjukkan dimana lokasi pasar Madinah. Karena jiwa entrepreneurship yang kuat, Abdurrahman pada akhirnya mampu membangun kerajaan bisnisnya di Madinah dari nol. Inilah yang namanya zero to hero.

Kesengsaraan materi memang telah banyak membuat orang berada dalam kehidupan yang kurang memuaskan. apalagi jika terjadi krisis ekonomi yang bersifat makro, maka permasalahan sosial yang lebih besar akan muncul: kemiskinan, kriminalitas, konflik sosial, dan sebagainya. Kesulitan di bidang ekonomi memang tidak hanya berdampak kepada rumah tangga individu, namun menyangkut rumah tangga yang lebih besar.

Namun sesunggunya materi adalah entitas yang bisa dicari. Banyak orang yang tidak bersekolah tinggi namun kaya raya. Meskipun banyak p**a yang bersekolah tinggi sekaligus juga berhasil dari sisi materi. Karena bisa dicari, semua orang memiliki peluang yang sama untuk mengusahakannya. Untuk itulah jiwa entrepreneurship dibutuhkan untuk mengatasi material adversity.

4. Social Adversity

Kesengsaraan sosial secara hierarki lebih tinggi dari kesulitan ekonomi. Terutama di masyarakat Indonesia. Orang Indonesia lebih merasa menderita jika tidak memiliki tetangga daripada tidak memiliki harta. Konon, menurut penelitian David McClelland, orang-orang timur (termasuk Indonesia) lebih dominan kebutuhan sosialnya (need for affiliation) daripada kebutuhannya untuk menggapai prestasi (need for achievement).

Betapa tidak? Pada lebaran tahun 2016, belasan orang meninggal dunia karena kemacetan arus mudik. Berita ini menjadi sorotan dunia, karena baru kali ini ada orang meninggal akibat kemacetan. Disini saya tidak akan membahas persoalan kemacetannya. Namun kita bisa tahu, bahwa mudik adalah kebutuhan orang Indonesia untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga, need for affiliation.

Kesimp**an ekstrimnya: untuk tetap menjaga kerukunan sosial, orang Indonesia rela mempertaruhkan nyawanya. Barangkali kesimp**an tersebut terlalu berlebihan. Namun itu cukup menggambarkan karakter masyarakat Indonesia. Karakter ini berkebalikan dengan masyarakat Barat, yang mana kebutuhan materi lebih urgent daripada kebutuhan sosial.

Orang Indonesia akan sangat menderita jika hidup dalam kesepian (loneliness). Apalagi jika dimusuhi oleh tetangga atau teman-temannya. Dunia terasa mau kiamat. Kita barangkali pernah merasakan bagaimana dimusuhi oleh seorang teman, mungkin teman bermain, teman organisasi atau teman kantor. Tidak enak rasanya jika bekerja tanpa adanya kolektivitas. Dampaknya, performance pekerjaan juga menurun. Kinerja organisasi atau perusahaan tidak akan maksimal jika unsur kerjasama antar anggota/karyawannya lemah.

Di era kini, barangkali social adversity sudah semakin rumit. Karena proses sosialisasi manusia tidak hanya dilakukan secara offline, namun juga online melalui social media. Di social media, rupanya kesengsaraan manusia semakin menjadi-jadi. Banyak orang yang berlomba untuk menonjolkan kehebatan dan kesuksesan dirinya, di satu sisi juga tidak sedikit yang melampiaskan deritanya melalui posting-postingan galau. Apakah kita termasuk orang yang melakukannya?

5. Policy Adversity

Kebijakan (policy) bisa menjadi penyebab kesengsaraan manusia, jika kebijakan tersebut bersifat dzalim (despotik). Penguasa idealnya memang memiliki kebijaksanaan (wisdom) dalam membuat kebijakan (policy). Kebijaksanaan dan kebijakan memiliki relasi yang tak terpisahkan. Jika kebijakan adalah output, maka kebijaksanaan adalah kualitas sikap yang mempengaruhi output. Jika pemimpin tidak bijaksana, hampir dipastikan kebijakan yang muncul tidak akan mendatangkan kemaslahatan. Sebaliknya, ia menghasilkan kemalangan massal.

Kesengsaraan yang disebabkan oleh kebijakan yang tidak bijaksana memiliki resiko yang lebih tinggi dari kesengsaraan akibat tekanan sosial. Karena kebijakan bersifat sistematis, terstruktur dan mengikat. Ia disupport oleh hukum.

Contoh klasik yang bersejarah adalah kisah Nabi Musa versus Fir’aun. Fir’aun adalah raja yang despotik. Ia tidak hanya memiliki kekuasaan otoriter dan totaliter, bahkan ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dampaknya, ribuan bani Israil menjadi korban eksploitasi. Musa hadir untuk membebaskan kaumnya dan menghentikan keangkuhan Fir’aun.

Meskipun zaman sudah berubah, nyaris tidak ada raja yang despotik seumpama Fir’aun saat ini, namun banyak pemimpin di Negara-negara demokratis yang memiliki kebijakan tidak pro-rakyat. Terutama rakyat lemah dan tidak berdaya. Demikian p**a di level yang lebih mikro, misalnya di korporasi/perusahaan dan organisasi.

Banyak karyawan/bawahan yang menderita karena kebijakan bos yang tidak bijaksana. Akibatnya, banyak karyawan resign dari perusahaan, bukan karena tidak menyukai pekerjaannya, namun karena tidak cocok dengan gaya kepemimpinan atasan/manajernya. Kasus ini sudah biasa terjadi. Dan menjadi pekerjaan rumah HRD untuk mencari solusi atas permasalahan ini.

6. Pleasure Adversity

Kesenangan (pleasure) berpotensi menjadi permasalahan yang lebih besar dari permasalahan yang sudah dibahas sebelumnya. Kesenangan berhubungan dengan hawa nafsu. Rata-rata manusia kesulitan dalam melakukan control atau pengendalian diri sendiri. Banyak orang yang tidak tergoda oleh harta dan kekuasaan. Namun tidak banyak orang yang mampu bertahan dari godaan kesenangan duniawi, terutama wanita.

Banyak laki-laki yang kekuasaannya hancur atau karirnya jatuh karena wanita. Sebutlah misalnya apa yang dialami oleh tokoh-tokoh besar bidang politik di Amerika: Thomas Jefferson dan Sally Hemings, Bill Clinton dan Monica Lewinsky, Gary Hart dan Donna Rice. Namun, laki-laki juga bisa menjadi godaan buat wanita. Contoh yang terabadikan dalam sejarah adalah kisah Zulaikha yang tergoda dengan ketampanan nabi Yusuf.

Permasalahan cinta memang persoalan yang abadi sepanjang zaman. Saya pribadi menyukai karya sastra. Dan salah satu novel yang menjadi favorit saya adalah Layla Majnun. Novel ini berkisah tentang kisah cinta dua insan manusia. Qeis, tokoh pemuda dalam novel tersebut, dijuluki majnun (gila) karena cintanya yang demikian menggelora kepada Layla. Ia mati dalam keadaan gila, dalam rindu yang begitu menggebu terhadap kekasihnya, Layla. Demikian p**a kisah Romeo and Juliet karya Shakespiere.

Kesengsaraan karena cinta memang tidak ada habisnya. Selalu menciptakan rasa galau, namun juga nikmat. Selalu menjadi permasalahan hidup yang ada di setiap ruang dan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, masalah cinta senantiasa hadir sebagaimana selalu hadirnya cahaya matahari dari timur. Ia muncul dan tenggelam mengikuti bolak-baliknya hati manusia. Anak-anak muda banyak yang memilih pacaran.

Namun, rupanya mereka selalu galau dengan pacarnya. Celakanya, yang tidak pacaran juga tidak kalah galau. Dalam perspektif Transcendental Adversity Management, orang yang memiliki keimanan kuat seharusnya tidak akan tenggelam dalam masalah ini. Terbukti, nabi Yusuf dengan keimanannya mampu bertahan dari godaan seorang wanita yang super cantik seperti Zulaikha. Tapi, bukankah itu keimanan kelas nabi?

Bukankah kita hanya manusia biasa yang lemah? Untuk itu, melalui pemahaman dan implementasi konsep TAM ini, diharapkan kita bisa belajar dari contoh-contoh manusia terbaik sebagai sumber inspirasi yang dapat membuat kita menjadi pribadi lebih baik.

7. Brain Adversity

Banyak masalah yang bisa dihadapi dengan relatif lebih mudah. Masalah kesehatan, masalah bencana alam, masalah krisis ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, masalah yang ada di kepala kita rupanya tidak mudah untuk dihadapi. Masalah apa itu? Masalah cara berfikir. Masalah mindset.

Sumber permasalahan manusia rupanya ada di dalam kepalanya sendiri. Banyak orang yang berfikir bahwa dia bodoh. Akhirnya mereka bodoh sepanjang hidupnya. Tidak sedikit yang berfikir bahwa mereka tidak mampu untuk sukses. Akhirnya mereka tidak mampu meraih sukses. Cara berfikir rupanya dapat menjadi barrier (penghalang) manusia untuk berkembang. Pendidikan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengubah cara berfikir seseorang.

Cara berfikir orang bodoh dapat menjadi sumber kesengsaraan tersendiri pada dirinya. Namun cara berfikir orang cerdas rupanya dapat menciptakan kesengsaraan yang lebih besar, bahkan lebih dahsyat dari efek bencana alam.

Cara berfikir yang terlampau rasional dapat menyebabkan manusia tidak percaya akan adanya Tuhan. Ia berfikir bahwa dunia ini terjadi dengan sendirinya melalui mekanisme alam (law of nature). Ini ajaran atheisme. Ada p**a yang berfikir bahwa Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya, namun tugas-Nya selesai sampai disitu. Tuhan tidak melakukan intervensi terhadap perjalanan hidup manusia.

Pemikiran yang bersumber dari kebebasan berfikir ini dapat menciptakan kesengsaraan hidup yang lebih besar. bukan hanya berskala lokal, namun global. Bukankah ini lebih berbahaya dari peristiwa gempa bumi yang hanya menelan ribuan orang? Pemikiran yang meniadakan peran Tuhan sepanjang usianya telah menyebabkan jutaan manusia hidup tanpa mengenal Tuhan hingga matinya. Dalam perspektif TAM, ini merupakan kemalangan yang luar biasa.

8. Belief Adversity

Kesengsaraan akibat keyakinan dipandang sebagai the highest level of adversity. Ini adalah kesengsaraan yang paling tinggi, paling maha dahsyat dibanding dengan kesengsaraan lainnya. Krisis keimanan berdampak pada semua dimensi kehidupan, dari mulai dimensi individu, keluarga, masyarakat, bangsa hingga peradaban.

Peradaban yang tidak memiliki pijakan keimanan adalah peradaban yang barbar dan fragile. Banyak bangsa telah hancur karena tidak didasari oleh keyakinan akan adanya Tuhan. Ilmu pengetahuan tanpa agama akan rusak. Teknologi tanpa spiritualitas akan kacau. Politik tanpa moralitas akan menindas.

Di titik yang ekstrem, orang yang tidak beriman akan hidup dalam jurang kesengsaraan. Di titik ekstrem berikutnya, orang yang keliru dalam memaknai iman juga akan terjerembab pada perbuatan membabi buta. Seolah-olah memperjuangkan keimanan, padahal sebaliknya. Yang bermain sesungguhnya bukan hati nuraninya, namun ego-keimanannya. Padahal, keimanan yang benar adalah keimanan yang diselimuti oleh hikmah dan kebijaksanaan (wisdom).

Penulis:
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA

28/11/2019
Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA menjadi salah satu narasumber seminar untuk pelajar.
28/11/2019

Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA menjadi salah satu narasumber seminar untuk pelajar.

Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA mengisi acara seminar yang diselenggarakan oleh Kominfo & DPR RI.
28/11/2019

Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA mengisi acara seminar yang diselenggarakan oleh Kominfo & DPR RI.

Pelatihan oleh Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA di Kendal Jawa Tengah.
28/11/2019

Pelatihan oleh Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA di Kendal Jawa Tengah.

Pelatihan oleh Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA tingkat Jawa Tengah di Purwokerto.
28/11/2019

Pelatihan oleh Bpk. Moh. Ikhsan Kurnia, MBA tingkat Jawa Tengah di Purwokerto.

Miliki 2 judul buku karya Ikhsan Kurnia, MBA:1. Transcendental Adversity Management (Buku Populer)2. Di Bawah Naungan-Mu...
20/11/2019

Miliki 2 judul buku karya Ikhsan Kurnia, MBA:

1. Transcendental Adversity Management (Buku Populer)

2. Di Bawah Naungan-Mu (Novel)

Harga bundling 2 judul: Rp. 90.000.

Bebas Ongkir ke seluruh Jawa.

Bagi yang berminat silahkan Whatsapp ke nomor:

089634606392
(TAMAT Institute)
WhatsApp Only

TECHNOLOGY AND ADVERSITYSemua orang memiliki problem dan tantangan hidupnya sendiri. Perbedaan kategori gender, usia dan...
20/11/2019

TECHNOLOGY AND ADVERSITY

Semua orang memiliki problem dan tantangan hidupnya sendiri. Perbedaan kategori gender, usia dan status sosial-ekonomi berpengaruh terhadap tingkat diferensiasi masalah. Saat ini kita hidup di dunia yang sudah berbeda. Manusia post-modern dengan berbagai kerumitan hidupnya memiliki potensi stress yang jauh lebih besar.

Habitus (meminjam istilah Bourdieu) manusia semakin unik dengan pola sosialisasi dan komunikasi yang semakin tidak real. Revolusi teknologi terutama teknologi informasi telah mengkonstruksi habitus manusia menjadi pribadi yang memiliki ketergantungan terhadap fasilitas taknologi.

Keterpisahan manusia dengan teknologi bahkan bisa berdampak pada terjadinya depresi. Definisi dan makna kemalangan (adversity) agaknya sudah banyak berubah dari pengertian tradisionalnya.

Dalam praktek sehari-hari, agaknya teknologi dipandang sebagai tools untuk membantu mempermudah dan mempercepat pekerjaan manusia. Artinya, seharusnya teknologi dapat membantu seseorang memiliki skor AQ yang tinggi.

Namun, di saat manusia menghadapi persoalah rumit dalam hidupnya (kemalangan, kesengsaraan, ancaman), apakah teknologi dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut? Konon, teknologi adalah produk cipta, rasa dan karsa manusia yang paling fenomenal.

Namun apakah hasil kreasi manusia tersebut dapat dipergunakan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan hidup?

Rupanya teknologi memiliki paradoks dalam dirinya sendiri. Di satu sisi ia membantu mengatasi masalah hidup. Di sisi lain menciptakan permasalahan baru yang lebih kompleks. Bukankah dari hari ke hari masalah manusia semakin variatif?

Semakin tinggi peradaban manusia maka semakin tinggi p**a dinamika kehidupan yang terjadi. Apakah itu berarti p**a semakin tinggi teknologi, permasalahan manusia juga semakin banyak jumlahnya? Jika demikian, apa manfaatnya teknologi untuk solusi atas kemalangan (adversity) yang kita hadapi?

Fenomena ini lebih menarik jika kita mengamati generasi muda, terutama generasi Y, Z dan Aplha. Generasi ini adalah generasi yang sangat techno savvy, namun juga sangat addicted dan mengalami dependensi terhadap teknologi.

Bagaimana jika mereka mengalami keterpisahan (separation) dengan teknologi? Bagaimana cara mereka mengatasi permasalahan dan kesulitan hidupnya dalam kondisi keterbatasan akan fasilitas?

Kami merekomendasikan program Adversity Management Training (AMT) bagi generasi muda (gen Y, Z dan Aplha). Training ini diperlukan agar generasi muda lebih kuat dan mampu menghadapi persoalan yang beragam, baik persoalan yang bersifat kultural maupun struktural.

Jika kesengsaraan yang dialami oleh generasi muda disebabkan karena keterpisahan (detached) mereka dengan teknologi, bagaimana dengan generasi tua? Generasi tua justru sebaliknya. Banyak diantara mereka yang tidak bisa melakukan pekerjaan produktif secara cerdas (smart productive) karena ketidakmampuan mereka mengadaptasi teknologi.

Hal ini terjadi pada orang tua saya, terutama ibu saya. Ibu saya tidak bisa menggunakan handphone. Jangankan smartphone yang berbentuk touch screen, beliau bahkan tidak bisa melakukan SMS dengan menggunakan handphone dengan tipe yang sederhana. Sehingga untuk berkomunikasi dengan beliau saya harus meminta bantuan kepada adik saya yang masih sekolah.

Nah, adik saya ini justru tidak bisa melakukan apa-apa jika tidak ada laptop dan smartphone. Jika jaringan internet sedang memburuk, maka ia akan terhambat mengerjakan tugas-tugas sekolah yang demikian menggunung. Lalu apakah generasi tua juga membutuhkan Adversity Management Training (AMT) sebagaimana generasi muda? Saya menjawab dengan tegas: YES!

Teknologi harus dimanfaatkan secara bijaksana dan moderat. Jika ia menciptakan ketergantungan, itu berarti kemalangan (adversity) berpotensi terjadi pada diri penggunanya. Dampak dari techno usage juga sudah dapat dirasakan secara psikologis dan sosiologis, misalnya terjadinya sexual abuse. Dan kerapkali hal ini menciptakan masalah baru yang lebih besar.

MACRO ADVERSITY

Kita, manusia yang hidup di awal abad 21 ini, adalah “spesies yang beruntung” (lucky species), sekaligus sebagai “spesies yang depresi” (depressed species). Kita beruntung karena kita dianugeri hidup di zaman transisi besar peradaban.

Kita adalah “spesies” yang penting dalam fase sejarah peradaban manusia. Kita hidup dimana revolusi teknologi informasi telah mengubah semua pola dan tata cara kehidupan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah ummat manusia.

Namun, beban peradaban (civilization burden) saat ini sedang berada di pundak kita. Ini adalah fase-fase yang sangat mengkhawatirkan dan stressful, karena revolusi teknologi telah menciptakan dekonstruksi (meminjam istilah Derrida) nalar ummat manusia dan bangunan struktur kehidupan yang ada.

Hasilnya, kerusakan psikologis dan fisik terjadi di berbagai tempat. Kejiwaan manusia mengalami patologi, harmoni alam sudah tidak lagi berada di titik keseimbangan, dan materi menempati posisi lebih tinggi dari nilai (value).

Ini adalah apa yang saya namakan dengan istilah “macro adversity” (kemalangan makro). Kenapa gambaran makro ini penting? Karena agar kita sadar apa yang sedang terjadi pada dunia tempat kita hidup.

Masa depan kita penuh dengan tanda tanya. Jika spiritualitas manusia post-modern saat ini dipandang mengalami peningkatan, namun agaknya spiritualitas tersebut lebih bersifat individual sentris. Karena banyak orang yang seolah semakin spiritual namun bersengketa di ranah sosial.

Untuk itu, diperlukan pemahaman yang lebih komprehensif tentang spiritualitas. Spiritualitas tidak semata-mata bersifat personal, namun bersifat sosial. Jika spiritualitas bersifat ego-sentris, maka justru akan memunculkan kesengsaraan baru dalam kehidupan. Karena rasa peduli terhadap sesama akan sirna.

Kemalangan makro agaknya merupakan sebuah keniscayaan dan sunnatullah. Dalam setiap fase sejarah, hampir tidak ada situasi yang sepenuhnya benar-benar nyaman. Selalu saja ada hal-hal yang diluar titik keseimbangan.

Selalu saja ada patologi, deviasi dan penyimpangan. Selalu saja ada ketidaksesuaian antara das sein dan das sollen. Peradaban manusia telah melewati berbagai periode zaman yang sulit. Jika bukan bencana alam (banjir, tsunami, gunung meletus, gempa bumi), maka muncul penguasa despotik yang mengerikan. Keniscayaan ini perlu menjadi kesadaran kita, bahwa kita tidak hidup di ruang hampa (life in vacuum).

Moh. Ikhsan Kurnia, MBA
Eva Dania Kosasih, M.Si., Apt.
# TAMAT Institute
# IKUR Group

Address

Perumahan BKR Regency Blok Q No. 6
Tasikmalaya

Telephone

+62895370467060

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TAMAT Institute posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to TAMAT Institute:

Share