Welfare Club

Welfare Club Miskin itu ☺ mudah
Kaya? Butuh pendamping tepat...

"Kesejahteraan Anda adalah prioritas kami"

SAYEMBARA "MERDEKA DARI INFLASI"DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI YANG KE-71!!!Mari merdekakan diri dari Inflasi!Dapatkan FREE Ko...
18/08/2016

SAYEMBARA "MERDEKA DARI INFLASI"

DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI YANG KE-71!!!

Mari merdekakan diri dari Inflasi!
Dapatkan FREE Konsultasi Keuangan + Financial Health Check Up senilai 200$ dengan Awang Raga Gumilar, S.H., QWP® bagi 2 orang pemenang!

SYARAT DAN KETENTUAN:
1. Bacalah artikel berjudul "Perampok Mimpi yang Bernama Inflasi" di Page atau Halaman Welfare Club (artikel bisa dibuka di link berikut:
https://www.facebook.com/WCFinance/posts/1637263769919441);
2. Buatlah pertanyaan terkait artikel tersebut dan kirimkan pertanyaan Anda kepada kami melalui "Message" atau "Pesan" yang dapat diakses via link berikut: http://m.me/WCFinance.
3. Sertakan nama, tempat & tanggal lahir, pekerjaan, dan pertanyaan Anda dalam "Message" atau "Pesan" yang Anda kirim;
4. Pertanyaan yang Anda kirim melalui "Message" atau "Pesan" akan kami terima mulai postingan ini diterbitkan hingga tanggal 25 Agustus 2016;
5. 2 orang dengan pertanyaan paling berkualitas akan kami umumkan sebagai pemenang pada tanggal 29 Agustus 2016, pukul 16.30 WIB.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

PERAMPOK MIMPI YANG BERNAMA INFLASI"Dalam bahasa mudah, inflasi berarti perampokan secara sadar tapi kita yang dirampok ...
15/08/2016

PERAMPOK MIMPI YANG BERNAMA INFLASI

"Dalam bahasa mudah, inflasi berarti perampokan secara sadar tapi kita yang dirampok tidak bisa berbuat apa-apa."
-Ryan Filbert-

Pertanyaannya: Apakah inflasi dapat mengganggu cita-cita kita untuk menjadi kaya (sejahtera)?

Jawabannya adalah "Iya". Ya, justru musuh utama kita dalam menggapai cita-cita untuk menjadi kaya (sejahtera) adalah seorang "PERAMPOK" yang bernama inflasi.

Mengapa demikian?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inflasi adalah
"kemerosotan nilai uang karena banyaknya dan cepatnya uang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang"

Penjelasannya sebagai berikut:
Kita tentu tahu bahwa biaya pendidikan kian mahal setiap tahunnya. Kenaikan biaya pendidikan di Indonesia merupakan salah satu contoh konkrit terjadinya inflasi secara rutin di Indonesia. Semisal, kita ingin merencanakan dan mempersiapkan biaya pendidikan untuk calon buah hati semenjak ia belum lahir nih. Pada tahun ini (tahun 2016), kita sudah memiliki tabungan berupa uang tunai senilai Rp12.000.000,00 yang rencananya akan dipakai untuk membiayai calon buah hati di jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK). Tahun ini, kita juga sudah mencari informasi dan menemukan bahwa total biaya sekolah untuk mengenyam pendidikan di TK ialah sebesar Rp11.000.000,00. Tentunya kita sudah bisa membiayai calon buah hati kita kan, bahkan sisa Rp1.000.000,00 kan...
Eits...
Tunggu dulu...
Di sini ceritanya calon buah hati kita belum lahir nih. Kalau pun tahun ini si jabang bayi lahir, setidaknya kita harus menunggu 5 tahun lagi sebelum si buah hati siap untuk masuk TK kan? Ya sudah, berarti uangnya tinggal disimpan di tempat yang aman di rumah kan?
Eits...Eits...Eits...
Tunggu lagi, Calon Bapak dan Calon Ibu yang terkasih. Tunggu dulu...
Dengan tingkat inflasi rata-rata di Indonesia yang besarnya 9,87% per tahun (lihat gambar tabel), tentunya secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa rata-rata biaya pendidikan juga akan jadi semakin mahal 9,87% per tahunnya. Tahun ini total biayanya hanya Rp11.000.000,00, tapi 5 tahun lagi biayanya bisa sampai Rp17.600.000,00. Nah, naik tuh biayanya. Kalau uang kita yang Rp12.000.000,00 tadi cuma disimpan aja di rumah, 5 tahun lagi kita bakal kekurangan Rp5.600.000,00 untuk membiayai calon buah hati kita...

Tadi itu baru salah satu contoh terjadinya inflasi alias "PERAMPOKAN" atas biaya pendidikan. Masalahnya nih, inflasi tidak hanya terbatas pada menyebabkan makin mahalnya biaya pendidikan, inflasi juga menyebabkan makin mahalnya barang-barang dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Harga properti selalu naik...Harga sembako selalu naik...Harga baju juga selalu naik...Selama Indonesia masih menyandang posisi sebagai Negara Berkembang, maka harga-harga di Indonesia akan selalu naik. Kenapa? Karena si "PERAMPOK" paling demen nongkrong di negara yang masih berkembang...

Duh? Terus kita harus gimana d**g?
Jawabnya next time yah...
Sampai di sini dulu. Hehe

Kind Regards,

Awang Raga Gumilar, S.H., QWP®

Personal Financial Advisor
Wealth Planner
Financial Law Specialist
----------------------------------------------------------------------------------
"Kesejahteraan Anda adalah prioritas kami"

MENABUNG MEMAKAI SARINGAN 1 2 3 4Saat Anda masih kecil, tentunya Ayah atau Ibu Anda kerap mengajarkan semangat menabung ...
11/08/2016

MENABUNG MEMAKAI SARINGAN 1 2 3 4

Saat Anda masih kecil, tentunya Ayah atau Ibu Anda kerap mengajarkan semangat menabung ala Indonesia, yakni "Hemat Pangkal Kaya" atau "Menabung Pangkal Kaya". Pertanyaannya adalah:
1. Seberapa besar Anda harus menabung per bulannya?
2. Tabungannya harus diapakan?

Tahukah Anda kalau Inflasi di Indonesia berkisar antara 5%-10% tiap tahunnya? Bagi yang belum mengenal Inflasi, Inflasi secara sederhana dapat diartikan sebagai "PERAMPOK". Ya, uang Anda "DIRAMPOK" secara rutin tiap tahunnya oleh Inflasi. Berapa yang dirampok? Inflasi "MERAMPOK" uang Anda sebesar 5%-10% tiap tahunnya. Contoh: Anda memiliki tabungan sebesar Rp10.000.000,00 tahun ini (2016) yang Anda simpan di bawah kasur Anda. Tahun 2017 (1 tahun lagi), tabungan Anda sudah kena "RAMPOK" Inflasi sebesar 5%, sehingga nilainya menjadi Rp9.500.000,00. Kurang-lebihnya demikian.

-Saya berjanji akan membahas lebih lanjut tentang "PERAMPOK" ini dalam artikel berikutnya-

Nah, karena adanya si "PERAMPOK" itu tadi, tentunya cara kita menabung harus lebih pintar daripada si "PERAMPOK"-nya. Caranya bagaimana? Financial Planning Standards Board (FPSB) menyarankan agar kita menabung menggunakan:

"SARINGAN 1 2 3 4"

Apa itu SARINGAN 1 2 3 4? Ada 2 aturan yang berlaku, yakni:

PERTAMA, Angka 1-4 itu melambangkan tingkat prioritasnya. Kalau Saringan 1 sudah terpenuhi, baru kita boleh memikirkan dan memenuhi Saringan 2; Kalau Saringan 2 sudah terpenuhi, baru kita boleh beranjak untuk memikirkan dan memenuhi Saringan 3; Kalau Saringan 3 sudah terpenuhi, baru Saringan 4 boleh kita pikirkan dan penuhi.

KEDUA, Angka 1-4 itu juga melambangkan besaran alokasinya.

Bingung? Berikut rincian tiap saringannya:

SARINGAN 1 (Pos Dana Sosial)-10%
Saringan yang pertama ini besaranya 10%. 10% dari pendapatan kita per bulannya (atau tahunan) harus kita alokasikan untuk Pos Sosial. Contohnya untuk Sodakoh di Muslim, Persepuluhan di Kristen, Kolekte di Katolik, Budaya Tithing, dsb. Uang yang kita berikan untuk saudara yang baru kehilangan atau saat ada pernikahan juga masuk ke dalam Saringan 1 ini.

DI SARINGAN 1, KITA MENABUNG UNTUK
PERSIAPAN DUNIA AKHIRAT nanti.

SARINGAN 2 (Pos Dana Persiapan Ketika Tidak Produktif)-20%
Saringan yang kedua ini besarannya 20% dari pendapatan kita per bulannya (atau tahunan). 20% itu sendiri masih dibagi 2, yakni 10% untuk Proteksi dan 10% lagi untuk Investasi.

Mengapa 10% untuk Proteksi? Karena manusia tidak pernah terhindar dari resiko-resiko yang dapat mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk bekerja. Jika tidak dapat bekerja, tentunya kita dapat kehilangan pendapatan rutin kita. Jika ini terjadi, siapa yang akan menghidupi Anda? Terlebih lagi, jika Anda sudah berkeluarga, siapa yang akan menggantikan pendapatan Anda sebagai pencari nafkah untuk keluarga?

Mengapa 10% untuk Investasi? Tentunya suatu saat nanti Anda ingin pensiun kan? Kalau sudah pensiun dan tidak bekerja, siapa yang akan menafkahi Anda? Orang Indonesia yang sudah pensiun, pada umumnya, akan menggantungkan diri pada anaknya. Pertanyaannya, apakah itu pilihan yang bijak? Anak Anda tentunya ingin mulai berkeluarga atau mengembangkan bisnisnya dan itu juga perlu modal. Kata seorang bijak, "seharusnya kita mulai belajar investasi sejak muda agar bisa menikmati hasilnya di masa tua, bukan mulai belajar investasi ketika kita sudah terlanjur tua".

DI SARINGAN 2 , KITA MENABUNG UNTUK BERJAGA-JAGA DAN UNTUK HARI TUA.

SARINGAN 3 (Pos Berhutang)-30%
Saringan yang ketiga ini besarannya 30%. Berhutang? Ya, Berhutang. Berlawanan dengan anggapan orang Indonesia pada umumnya, FPSBI justru menyarankan Anda untuk berhutang. Berhutang yang seperti apa? Hutang dibagi menjadi 2, yakni Hutang Produktif dan Hutang Konsumtif. 20% minimum untuk Hutang Produktif dan 10% maksimum untuk Hutang Konsumtif.

-Apa itu Hutang Produktif dan Konsumtif? Untuk menghemat kertas, kita bahas di artikel lainnya ya. Hehe-

DI SARINGAN 3, KITA MENABUNG UNTUK MENGEMBANGKAN ASET. Kenapa demikian? Karena Berhutang adalah cara paling mudah dan bijak untuk mengembangkan aset.

SARINGAN 4 (Pos Kebutuhan)-40%
Saringan yang keempat ini besarannya 40%. Nah, untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan Lifestyle, seharusnya hanya 40% maksimum dari pendapatan per bulan (atau tahunan) kita saja. Masalahnya, orang Indonesia masih sering kebalik. Kebutuhan sehari-hari dan Lifestyle dipenuhi dulu, baru deh kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Nah, tadi itu uraian SARINGAN 1 2 3 4 yang dapat kita pergunakan untuk menabung. Saya masih punya PR untuk membuatkan 2 artikel untuk Anda, yakni tentang Inflasi dan 2 Macam Hutang.

Demikian artikel ini Saya buat, semoga dapat bermanfaat bagi Anda.

Kind Regards,

Awang Raga Gumilar, S.H., QWP®

Personal Financial Advisor
Wealth Planner
Financial Law Specialist
----------------------------------------------------------------------------------
"Kesejahteraan Anda adalah prioritas kami"

Address

Jalan Bumijo Tengah Nomor 22
Yogyakarta City
55231

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 15:00

Telephone

081228178206

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Welfare Club posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Welfare Club:

Share