26/02/2020
Mohon jangan permalukan lagi mereka para guru layaknya penjahat.
Melihat di media diberitakan ini dia wajah pelaku dengan tayangan mereka diplontosi, berbaju oranye digelandang polisi jalan tanpa alas, dieskpos sedemian layaknya penjahat bahkan Koruptor milyaran, trilyunan tak sesadis ini mengeksposnya. Bahkan tak sedikit media mainstream dengan sengaja menayangkan wajah pelaku secara jelas dan kalimat yg akan menimbulkan kemarahan publik. Hasilnya apa? munculah tukang bully. Coba baca sebagian kecil bullyan (komentar) netizen. Bunuh saja…mampus.....Buang saja ke sungai….tuyul2 kepala plontos…..masih banyak lagi hujatan kepada mereka para pendidik yang saat ini apes menjadi tersangka. Dengan wajah diplontosi seperti itu wajah guru berubah nampak jadi seorang penjahat pesakitan. Penjahat sekaliber Reinhard Sinaga yg sdh memperkosa ratusan orang baru diekspos ke publik oleh pengadilan setelah menjadi terdakwa.
Bahkan seorang dosen dari Universitas ternama memviralkan dengan bahasa makian dan ternyata hanya katanya, bukan dia mendapat dari sumber langsung. Mohon kita junjung etika jurnalisme, cover both side, sebelum memviralkan gali langsung dari sumber nya. Dan opini belum jelas itu pun di share media mainstream.
Kita memang sangat berempati kepada keluarga korban, ikut sedih. Sampai saat ini hati saya pun masih sesak membayangkan nasib orang tua yg ditinggalkan. Saya pribadi mendengar awal kejadian ini juga merasa kesal dengan pembina. Sekarang sedih lagi karena melihat bapak bapak sepuh dihujat dan dipermalukan publik. Tidak ingin membela mereka, tapi sisakan hati untuk berempati atas musibah ini.
Kita bukan butuh ekspose wajah mereka, lebih bermanfaat penjelasan kronologi kejadian, kenapa hal itu bisa terjadi. Supaya jadi tahu apa yang terjadi saat itu dan pembelajaran ke depan. Saya juga bertanya keapesan (kelalaian) mereka karena ketidaktahuan atau abai. Apakah daerah disana yang memang daerah wisata susur sungai itu juga bagian dari daerah rawan bencana, apa pernah terjadi bencana. Atau baru kali ini terjadi bandang seperti itu. Sehingga apakah ada early warning yang memang dari Pemerintah Daerah /Provinsi lakukan untuk pencegahan. Murni kesalahan siapa kah ini...Kita berpikir supaya tidak terjadi lagi ke depan termasuk di tempat lain. Musibah ini jadi koreksi bersama sekolah dan Pemerintah.
Jangan lagi memposting sesuatu yg arahnya bukan meredakan suasana duka tetapi membangkitkan emosi. Kasihan lho keluarga korban jika membaca seharusnya mereka diberi yang menyejukan, menenangkan perasaan. Bukan dibangkitkan kemarahan dan kebencian. Memang hak anda media mempublikasikan apa saja tapi mohon bijak lah, jangan hanya sekedar mengejar jumlah hits atau ribuan komentar.
Mereka jg punya keluarga dan harus menanggung malu secara sosial di publik. Melihat orang tua mereka digelandang layaknya penjahat.
Mereka 3 orang guru itu sudah punya beban berat berurusan hukum. Penjara pasti. Saya yakin ada beban jauh lebih berat seumur hidup menanggung kematian 10 anak yg mereka itu anak anak yg mereka didik, sebagai guru, murid seperti anak anak mereka sendiri. Tak ada orang tua atau guru yang berniat jahat atau menyelakai anak anaknya pada musibah. Mereka bukan orang jahat hanya orang baik yg melakukan kesalahan/kelalaian. Jadi tak perlu mempetontonkan mereka layaknya penjahat. Saya melihat ketika diwawancara mereka dengan tulus ikhlas mengaku salah dan siap menerima konsekuensi hukum. Air mata mereka bukan karena takut dipenjara karena yakin mereka sedih anak2 didik mereka yang telah tiada.
Diproses hukum yes..dibully dipermalukan no! Semoga tindakan hukum adil bagi semua nya, terutama keluarga korban :( . Dan semoga almarhum adik-adik kita mendapat tempat mulia di Surga Allah.
Salam dari warga Sleman
Mas Yuda